Asap di Sumatera Selatan, as soon as possible?
By masboi on Oct 14, 2006 in Serba-Serbi
Datangnya musim kemarau, seperti biasanya diikuti musim pembakaran lahan atau hutan yang menyebabkan datangnya musim asap. Musim kemarau juga berarti musim kering alias susah air. Itulah duka yang harus dirasakan oleh warga propinsi Sumatera Selatan, yang kini menjadi Lumbung Energi Nasional dan Lumbung Pangan. Situasi ini paling terasa di kota Palembang. Ketika musim kemarau sulit air, saat musim hujan banjir!
Dua minggu terakhir, masalah yang dihadapi oleh warga Sumatera Selatan adalah masalah asap. Kabut asap yang menyelimuti Sumatera Selatan membuat warga tersiksa. Ketika sore hari hingga menjelang malam, asap pekat turun dan membuat langit meredup. Asap yang tebal sangat mengganggu pemandangan dan membuat mati pedih. Selain itu, udara yang panas dan kotor, membuat tenggorokan kering dan sesak nafas.Akibat dari asap ini ternyata tidak main-main. Pengendara kendaraan bermotor terganggu pemandangannya. Kegiatan belajar mengajar terganggu. Sampai-sampai beberapa sekolah membagikan masker untuk para murid dan guru. Mereka memaklumi dan mengijinkan para siswanya tidak masuk, gara-gara gangguan asap. Karena asap pula, beberapa maskapai penerbangan gagal mendarat atau menunda jadwal penerbangan. Ketika pagi hari, semua tempat dipenuhi debu dan kotor. Namun, asap berangsur-angsur menghilang saat siang hari. Namun pada siang hari cuaca sangat panas, dan suhu udara sangat tinggi.Saat ‘bencana’ datang, biasanya akan dating juga orang-orang yang ingin menolong. Terlepas apakah mereka juga ingin menanamkan image tertentu kepada masyarakat. Sejumlah organisasi, partai, dan perusahaan pun turun ke jalan membagi-bagikan masker kepada pengendara sepeda motor. Setelah itu, giliran mereka yang punya naluri bisnis pun menjual masker di perempatan jalan.
Asap di Sumatera Selatan biasanya disebabkan oleh pembakaran semak dan hutan untuk pembukaan lahan. Ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat peladang, karena langkah ini lebih praktis dan hemat. Beberaopa pelakunya sudah ditangkap. Namun, dampaknya luar biasa dan tidak bisa ditangani. Melihat persoalan asap ini, sebenarnya pemerintah tak tinggal diam. Seolah ingin mengantisipasi peringatan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu telah mencanangkan kampanye siaga kebakaran hutan, dengan pembentukan manggala agni. Sampai-sampai gajah pun dipaksa turun bersimulasi memadamkan api.
Namun, peringatan dan pencanangan kampanye siaga kebakaran hutan tak mampu memadamkan kobaran api yang membakar sejumlah lokasi dan hutan di Sumatera Selatan. Hujan buatan yang direncanakan untuk memadamkan api pun gagal dibuat karena terhalang cuaca. Asap ini perlu ditangani segera. As soon as possible! Tapi, seperti ‘bencana-bencana’ di tempat lain, pemerintah terpaksa harus angkat tangan dan menyerah.
Ah, seandainya pemerintah bisa membuat berbagai bencana alam yang tak henti-hentinya mendera negeri kita bisa tunduk! Seandainya pemerintah bisa mendatangkan hujan buatan di saat kekeringan dan mampu menangkap para pembakar lahan. Rasanya ini lebih riil dari pada sekedar jargon Sumatera Selatan provinsi lumbung energi nasional.
Sayang, pemerintah selalu gagal atau telat mengantisipasi bencana-bencana yang disebabkan oleh alam… ***

Post a Comment