Monggo Mampir di Lampu Merah

rld.jpg

“Mas, kalau di Belanda, jangan lupa mampir di lampu merah,“ pesan seorang kawan kepada saya. Lampu merah yang dimaksud kawan saya, bukan lampu merah ‘bangjo’ yang warnanya merah-kuning-ijo itu, tapi red light district. 

Red Light District (RLD) adalah pusat ‘wisata budaya’ dan pusat esek-esek di Amsterdam. RLD merupakan bagian dari kehidupan malam yang dikelola secara professional. Denyut kehidupan RLD di waktu malam mampu memancing dan menarik para pengunjung dan wisatawan untuk mampir. Setiap tahun, jutaan wisatawan datang dan mampir ke kawasan lampu merah itu. 

Nah, ketika saya dan teman-teman – rombongan muda-mudi desa Wageningen – bertandang ke kota Amsterdam, kami meminta kawan-kawan di Amsterdam untuk mengantar dan memandu kami untuk menikmati wisata budaya di kawasan lampu merah ini. 

“Lewat ‘studi budaya’ ini kami ingin membandingkan dan mengkaji, sejauh mana perbedaan nuansa magis dan sosiologis antara Dolly di Surabaya dan di RLD di Amsterdam,” ujar Bung Ical mengenai tujuannya berkunjung ke red light. 

RLD merupakan sebuah kompleks prostitusi yang cukup luas, dengan bangunan-bangunan tua dan antik di tengah-tengah kota Amsterdam. Konon, kompleks ini telah ada sejak tahun 1400-an. Letaknya di sebelah selatan Central Station Amsterdam, jaraknya hanya sepuluh menit jalan kaki.

prostitute-image2.jpg amsterdam-girls-2.jpg

Salah satu ciri khas RLD adalah cahaya lampu-lampu dari ruangan dan bangunan yang didominasi warna merah. Di tengah kompleks tersebut, terdapat kanal atau selokan, yang memantulkan cahaya warna-warni. Indah! amsterdam-girls-4.jpg

Ketika kami datang ke RLD Jumat (26/10) malam itu, RLD sangat ramai. Sejauh mata memandang, terdapat ruangan-ruangan kecil dengan cahaya spotlight merah, kuning, ungu, biru. Dari kaca jendela dan pintu yang tembus pandang, tampak perempuan-perempuan seksi mengenakan lingerie atau underwear 

Warna kulit, bentuk tubuh, ukuran payudara, dan posturnya pun beragam. Rata-rata berperawakan Eropa, berkulit putih, berambut pirang. Namun ada pula yang berwajah Asia dan juga negro. Jumlahnya sekitar 250-an.

Namun, tidak seperti perempuan-perempuan Indonesia yang ‘ganas’ ketika ‘mengejar mas-mas’, perempuan-perempuan itu lebih banyak berpose-diam-dan-memaku. Hanya sesekali mereka mengumbar senyum. Hemmm… Anggun nan mempesona. Eksotis. Sambil memamerkan tubuh nan sensual dan seksi.    

Perempuan-perempuan itu berada dari jendela-jendela kaca, layaknya boneka manekin. Anda bisa membayangkan sosok perempuan-perempuan itu dengan perempuan-perempuan di film-film produksi Glodok itu. Bedanya, yang ini live. Dengan catatan: Dilihat boleh, dipegang jangan!  Mengambil gambar pun dilarang.

Seorang kawan berusaha mendekat dan mangajak ngobrol dengan salah satu mbak blonde bertubuh mungil. “Hello. How much?,” tanya si kawan. Si mbak menyorongkan lima jari. “Fiveteen?” Tanya kawan saya. “No, fifty Euro,” jawab si  mbak. “ “Lima puluh Euro? Kirain lima belas Euro,” kata si kawan. Lima puluh kalikan tiga belas ribu… “Next time, ok?” jawab si kawan. 

Kompleks RLD konon telah ada sejak abad 14. Selain windows shopping untuk menyaksikan mbak-mbak di kotak-kotak kaca, RLD juga menawarkan one stop shopping untuk orang dewasa: sex shops, bioskop, hotel, café, gay bars, dan beberapa museum, termasuk musem seks dan live show. 

RLD benar-benar dikelola secara professional. Untuk informasi dan city tour, mereka menyediakan pusat informasi dan juga kesempatan untuk tanya jawab, bahkan belajar tentang berbagai aspek yang berhubungan dengan prostitusi. Hemmm… sangat akademis. 

Selain cuci mata di RLD, saya juga sempat mampir di Sex Museum. Museum ini menyimpan berbagai macam benda erotik yang bernilai sejarah. Ada buku, film dan foto-foto erotik dan patung/manekin dari beberapa negara.  

Yang sempat bikin saya kaget: ada beberapa foto erotik, diambil tahun 1870. Wah, waktu Indonesia masih jaman perang (perang Diponegoro, 1825-1830) mereka sudah bikin foto-foto erotik! Selain itu, ada video (B)ilm (F)erjuangan ‘jadul’ yang diputar nonstop. Warnanya masih hitam putih! 

Mungkin ini yang menyebabkan terdapat gap ‘peradaban’ antara kita dan mereka, khususnya berhubungan dengan namanya seks! Contohnya, ketika di museum, mereka bisa menikmati dan mengamati berbagai macam barang aneh itu dengan tenang, sangat biasa. Beda dengan kami, yang terus cekikikan. Habis, nggak pernah melihat barang begituan!

Dari pengalaman mampir di lampu merah Amsterdam, saya sempat berpikir tentang bagaimana dan sejauh mana nilai toleransi masyarakat Belanda terhadap apa yang disebut kebebasan.

Semua yang dilarang di Indonesia itu ada di sini. Tetapi, masyarakatnya berjalan seperti biasa, apa adanya. Tidak ada demo-demo yang menentang, atau sweeping dari ‘aparat’ berseragam maupun yang non berseragam. 

Saya membayangkan, apa yang terjadi jika RLD ini dipindahkan ke Indonesia? 

10 Comment(s)

  1. Ehm! Zeedijk. Seorang wanita sebuah kantor besar enteng saja menanyai saya dan teman saya, “Sudah ke RLD? Harus lho…”

    Bagi mereka itu memang pesona wisata kota yang layak jual kok…

    Bener, paman. Belanda rasanya hidup dari wisata. Setiap weekend, semua musem penuh. Beli tiket harus ngantre. Dan juga pajak penghasilan. Konon, besarnya empat puluh persen. Yang saya belum tahu, apakah mbak-mbak di RLD itu juga dikenai ‘pajak penghasilan’?

    Paman Tyo | Nov 2, 2007 | Reply

  2. woa, ada cewek pake underwear wae

    rd Limosin | Nov 3, 2007 | Reply

  3. ehem…ehem…

    donet sasa | Nov 5, 2007 | Reply

  4. @rd
    Wuih… yg di komen malah yg itu.
    ——
    Wah Mas, klo RLD saya pernah baca di Edensor sebelumnya, tapi baru ini liat ada skrinsutnya :D

    Nike | Nov 6, 2007 | Reply

  5. Ha ha ha ha

    Wah ternyata tidak hanya di kampung sendiri yang ada RLDnya di tempat blone pun ada.

    Ha ha ha ha

    Nyari blonde ni ye….

    ladokutu | Nov 7, 2007 | Reply

  6. dabs … elok tenan … panjenengannipun Paman Tyo kerso niliki blog-mu, dabs … Blogger sejuta umat lho lho, dabs … edan-edannn … ngimpi opo ndhek wingi, dabs …

    hehehe… ndek wingi aku ngimpi ketemu mbak blonde neng erelde.
    pengen dikunjungi blogger sejuta umat? gampang kok. gawe komen sing rodho provokatif di blogombal, pasti si paman akan mampir di blogmu. bukan begitu paman?

    bedhez | Nov 7, 2007 | Reply

  7. Pengen nyobain rasanya blonde atau bule ? Di jakarta juga ada kok, tarifnya tentu (katanya) lumayan mahal.

    andrias ekoyuono | Nov 8, 2007 | Reply

  8. Hai,
    Gara-gara belum bisa dengerin Swara Wageningen, mataku terpaku di program EXIT MTv yang dibawakan dengan sangat menarik oleh Angelina Jolie. Intinya tentang kampanye anti trafficking dan kebetulan yang dijadikan bahan investigasi adalah Red Lightnya Amsterdam.

    Jadi lewat forum ini, aku mo nerusin pesannya bojonya Brad Pitt itu bahwa bagi pengunjung red light terutama konsumennya untuk mempertimbangkan bahwa mungkin salah satu wanita yang anda tatap (atau gunakan) itu adalah korban trafficking yang tidak punya apa-apa untuk dirinya karena semua penghasilannya harus diberikan pada mucikarinya.

    Sasaran pelaku trafficking biasanya negara Eropa Timur yang ekonominya masih merayap dan banyak di gadis muda yang bermimpi indah tentang Eropa. Mamanya Maddox ini juga menceritakan tentang gadis muda dari Rumania yang dijual pacarnya dan selama 7 bulan hidup di Red Light di bawah ancaman. Dia bebas setelah berhasil lari saat mau disembunyikan oleh mucikarinya, menghindari pemeriksaan rutin kepolisian. Selain itu Angie juma menghimbau gadis-gadis muda yang bermimpi bekerja di Eropa untuk jangan percaya pada tawaran pekerjaan dan pernikahan, bahkan tawaran dari teman atau saudara yang tinggal di Eropa.

    Jadi merenung sendiri, ternyata bukan cuman kita di Indonesia aja yang heboh sama trafficking.

    Meis | Nov 10, 2007 | Reply

  9. Sayang, pas studi banding dengan teman-teman, tak sempat lihat RLD, karena di Amsterdam cuma sehari dan terus ke Athena dan Dresden.

    Teman pria sangat kecewa, entah kalau malam harinya mereka ngabur untuk melihat…..???

    edratna | Nov 23, 2007 | Reply

  10. wah…. seru bgt ya,,,, tentang RLD. tetapi walo demikian tentu banyak sekali resiko yang dialami oleh para pelakunya. seandainya di Indonesia ada kawasan seperti itu dan tidak ada pihak yang repot mendemonya ayo… coba tebak apa yang akan terjadi. mungkin skan menjadi sedikit pelajaran bahawa kehidupan prostitusi itu ada dari berabad-abad yang lalu dan kita tidak perlu menutup mata terhadap hal seperti itu.
    salam
    arie

    arie | Nov 23, 2007 | Reply

Post a Comment