Pidato Politik Kandidat Presiden PPI Wageningen

Kawan-kawandi Wageningen yang baik,  

Ketika (bermimpi) datang ke Belanda, saya teringat beberapa tokoh republik yang pernah hidup dan belajar di sini, serta sebuah organisasi pelajar Indonesia yang catatan kesejarahan tersendiri.   

Ya. Di Belanda ini pernah lahir Perhimpoenan Indonesia (PI), organisasi yang dibentuk oleh mahasiswa-mahasiswa perantauan Indonesia delapan puluhan tahun lampau, di mana Hatta dan Syahrir menjadi di antara lokomotifnya, dalam usia yang lebih muda dari kebanyakan kita.Sejarah mencatat bahwa Perhimpoenan Indonesia bukan sekedar ‘perkumpulan pelajar Indonesiadi luar negeri’. Perhimpoenan Indonesia adalah wadah bagi gagasan dan perjuangan untuk gagasan keIndonesian yang progresif. Tidak saja menjadi tempat bersemai bagi gagasan-gagasan progresif tentang makna Indonesia sebagai bangsa, perhimpoenan adalah nama lain dari segenap upaya-upaya progresif bagi perwujudannya.

Dalam dapur Perhimpoenan Indonesia untuk pertama kalinya nama Indonesia (yang sebelumnya hanya bermakna geografis) diperkenalkan sebagai sebuah gagasan progresif yang mesti diperjuangkan secara politik. Dalam Perhimpoenan Indonesia pula gagasan-gagasan progresif keIndonesian menemukan kader-kader militan dalam memperjuangkan nama Indonesia sebagai nama lain untuk visi besar Nusantara di kemudian hari.   

PI dan PPI

Sebagai organisasi atau lembaga yang memiliki kaitan semantik dan kesejarahan dengan Perhimpoenan Indonesia (PI),  Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) mengemban visi dan misi kesejarahan yang khas. Karena itu PPI harus senantiasa memastikan bahwa Indonesia sebagai gagasan senantiasa berjalan dalam koridor progresivitas sebagaimana ia dicitakan.  

Kita tidak boleh lupa, bahwa Indonesia sesungguhnya sebuah gagasan “anak muda”. Karena itu PPI harus menjadi yang terdepan dalam menjaga agar ia tetap dalam definisi progresif anak-anak muda. 

Untuk mewujudkan hal itu, memang cakupannya bisa sangat luas. Namun satu hal yang menurut saya penting adalah bahwa kita terpanggil untuk menemukan jawaban bagi krusialnya persoalan yang dihadapi Indonesia sebagai bangsa. Mungkin ini dibilang muluk-muluk, idealis. Tetapi, inilah kenyataannya!  

Mungkin saya dibilang terlalu romantik dan menyamakan dua kondisi yang berbeda antara dahulu dan kini; tetapi riil bahwa ketika kita menggunakan nama Perhimpunan Pelajar Indonesia, disitu kita berbicara tentang aktualitas dan kesamaan konteks kesejarahan yang khas: Perhimpoenan Indonesia dan Perhimpunan Pelajar Indonesia.  

Pekerjaan Rumah Kita

Pada periode Hatta, aneka persoalan yang membelit negeri ini sudah sampai pada titik di mana kaum muda dituntut hadir dalam gagasan-gagasan yang progresif. Bagaimana dengan periode kita?

Adalah benar bahwa kita punya reformasi, tapi bukankah di hadapan aneka korupsi, kemiskinan dan salah urus dan kejumudan Indonesia, reformasi seperti kehilangan taji? Celakanya, pada saat yang sama, semakin banyak elemen kini mengalami moderasi ide-ide progresif reformasi. Pembicaran mengenai reformasi mengalami lesu darah! Lantas, bagaimana semangat baru ini bisa kembali kita hidupkan?

Dengan ini saya ingin mendefinisikan kembali visi-misi PPI ke depan dalam prioritas pada kontribusi nyata kita kepada bangsa dan negara. Kita menyadari bahwa kebobrokan keindonesiaan menjadi sebuah beban yang terasa dalam keseharian kita. Karena itu kita perlu membangkitkan perhatian, tekad dan semangat untuk mengawali sebuah gerakan kesadaran yang progresif. 

Kita adalah orang-orang muda, orang-orang yang terdidik dan memiliki kapasitas intelektual, yang diberi kesempatan untuk belajar dan berkembang, harus menjadi lokomotif bagi kembalinya perjuangan gagasan-gagasan progresif keIndonesiaan. 

Kita semua adalah pemimpin dan calon-calon pemimpin. Pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya muda dari segi usia melainkan senantiasa muda dalam gagasan dan idealismenya. Kemudaan dan progresivitas semangat merupakan karakter dari perhimpoenan.

Sebuah kemudaan yang melahirkan semangat yang tidak puas pada gagasan-gagasan yang konvensional dan ala kadar-nya. Sebuah kemudaan yang akan membawa perhimpunan kembali dalam gagasan dan perjuangan atas gagasan-gagasan progresif keIndonesiaan dan gagasan intelektual.

Di desa kecil Wageningen ini, kita yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul dan bersatu. Ini satu hal yang sangat luar biasa. Kita memiliki latar belakang, pemikiran, dan ide yang beragam namun diberi kesempatan bertemu, berkumpul, bersama-sama berpikir dan berefleksi, bahwa selain menyelesaikan kuliah, ada ‘pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan’ ketika kita kembali nanti: bagaimana menjadikan Indonesia lebih baik?

Lewat rumah bersama bernama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Wageningen, saya ingin mengajak kawan-kawan semua untuk mengelaborasi pemikiran dan gagasan kita tentang Indonesia yang kita cita-citakan bersama. Di kawah candradimuka-laboratorium Wageningen ini, kita menggodok diri, bergulat dan berproses bersama untuk memberikan kontribusi sebesar-besarnya kepada bangsa dan negara.

Moto yang menjadi visi PPI ke depan adalah adalah: “Study, Life, Confraternity”.

  • Belajar: Menjadikan PPI sebagai tempat tumbuhnya budaya akademik, perdebatan wacana, dan dialektika ilmu-pengetahuan.  

  • Hidup: Menjadikan PPI sebagai rumah untuk belajar tentang nilai-nilai kehidupan dari pergaulan antar kita-sesama pelajar Indonesia maupun dengan pelajar non-Indonesia.   

  • Bersaudara: Menjadikan PPI sebagai ruang untuk semakin menggali wacana dan nilai-nilai pluralisme dalam semangat persaudaraan. 

Demikianlah gagasan besar yang ingin saya tawarkan sebagai kandidat Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Wageningen. Kendati demikian, saya tidak menafikan atau mengecilkan arti kegiatan-kegiatan senang-senang, atau aktivitas rekreatif, karena hal ini punya nilai positif untuk jalinan persahabatan dan persaudaraan. Itu sangat penting karena itu menjadi bagian dari ritual dan dinamika sehari-hati kita di sini. Tetapi tidak cukup hanya (sampai) di situ.

Saya berharap bahwa PPI tidak hanya punya program dan bisa membuat banyak kegiatan tetapi minim gagasan keIndonesiaan dan dialektika intelektual.  PPI ke depan harus lebih membangun sikap kritis, rasional, terbuka, mental kepeloporan dan idealisme untuk sebesar-besarnya mengupayakan kontribusi kita bagi Indonesia yang lebih baik.  

Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, lalu siapa?   

Terima kasih. Salam persaudaraan!   

Kesadaran adalah matahari

Kesabaran adalah bumi

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata  

Desa Wageningen, 17 November 2007   

Yohanes Widodo (masboi) 

2 Comment(s)

  1. dodo, selamat semoga benar jadi presiden (opo malah sudah kepilih?)

    melihat fotomu di sebelah kiri itu, jebule dirimu nggak berubah. :-)

    have a nice day.

    -sari safitri-

    belum bu! baru masa kampanye. coblosannya tanggal 8 desember 2007. wah, di wageningen nggak ada jwpp (jaringan wartawan pemantau pemilu) je. soale, wartawannya jadi capres, hehe…

    anak JWPP temen dulu kala | Nov 17, 2007 | Reply

  2. Ku doakan semoga menang dalam election. Dan segala impian mu menjadi kenyataan dan membawa perubahan.

    Tak banyak orang yang memiliki impian dapat merubah lingkungannya dan mampu merubah.

    Orang kuat adalah orang yang bisa mengalahkan orang lain dan orang paling kuat adalah orang yang bisa mengalahkan dirinya sendiri

    ladokutu | Nov 20, 2007 | Reply

Post a Comment