Menatap Palembang dari Venice

Pengantar: Pada tanggal 27 Desember 2007 s.d. 4 Januari 2008 Masboi melakukan perjalanan winter tour ke Italia. Salah satunya, adalah mengunjungi Venice. Berikut tulisan Masboi tentang Venice, untuk kota Palembang, yang dijuluki ‘The Venice of the East’.

venice

Kita mesti bersyukur bahwa Palembang punya keunikan sebagai kota sungai. Sebagai kota tertua di Indonesia, sejak dahulu Palembang dan Sungai Musi menjadi pusat kehidupan, jalan protokol, dan pusat perdagangan masyarakat Palembang dengan dunia luar. Masih terlihat hingga kini, rumah-rumah di sepanjang sungai Musi, rumah rakit, dan perahu atau ketek yang lalu lalang di sepanjang Musi, yang menandai Palembang sebagai kota sungai atau kota air (water front city).

Tak salah jika Peter J.M. Nas, seorang professor dari Universitas Leiden, Belanda, menulis ‘Palembang: Venice of the East. Tulisan ini dipublikasikan dalam Bahasa Belanda di Orion, jrg.1, no. 4, 1984. Ia mendasarkan julukan ini pada situasi dimana Palembang menjadi jalan arteri perdagangan utama antara India dan Cina yang menjadi karakter Palembang sebagai kota air yang memiliki kekhasan dan keunggulan dibandingkan kota-kota lain di Indonesia.

Hingga kini Palembang telah mengalami metamorfosa yang panjang. Palembang telah berkembang dan bersalin rupa. Dinamika sejarah dan kehidupan warganya, serta perubahan karakter Palembang sebagai ibukota propinsi dan pusat industri, telah mengubah orientasi dari kota air (sungai sebagai pusat segala aktivitas), menjadi kota daratan.

Awal tahun ini, Palembang meluncurkan program Visit Musi 2008. Lewat program ini, pemerintah berupaya mengembalikan Palembang ke kodratnya sebagai kota sungai, dan menghidupkan kembali romansa dan keindahan kota Palembang yang layak untuk dikunjungi wisatawan. Jika upaya ini dilakukan dengan serius Palembang bisa menjadi kota perdagangan sekaligus kota wisata yang menarik lebih banyak lagi orang untuk datang ke kota ini.

Pada liburan musim dingin ini saya mengunjungi beberapa kota di Italia, seperti Milan dan Roma, dan menghabiskan tiga hari menyusuri Venice. Tulisan ini merupakan oleh-oleh dan catatan saya untuk Palembang, menyongsong Visit Musi 2008.

Venice: Kota Sungai nan Romantis

Ketika menginjakkan kaki di Venice, saya langsung teringat Palembang dan Sungai Musi. Suasana kotanya romantis. Tak salah jika beberapa film, seperti The Merchant of Venice dan James Bond 007: Casino Royale, menggunakan tempat ini sebagai setting.

Venezia, atau kerap disebut dengan Venice, merupakan (satu-satunya) kota di dunia yang sepenuhnya dibangun di atas air. Venesia dibelah dan dipisahkan oleh sungai yang disebut Canale Grande atau Grand Canal. Ini yang membuat Venice menjadi unik, di samping sejuta nilai sejarah yang disimpan olehnya. Sungai ini berfungsi seperti layaknya jalan protokol bagi penduduk Venice. “The great street of Veniceini memiliki panjang sekitar 3.5 km dan dikelilingi oleh gedung kuno maupun istana dari abad ke-13 hingga 18, dengan gabungan gaya Byzantine, Gothic, Renaissance dan Baroque.

Tiba di stasiun kereta api, pengunjung melanjutkan perjalanan menyusuri kanal dengan bus air (water bus atau vaporetto, semacam kapal kecil) sebagai alat transportasi utama. Setiap 20 menit, bus air ini datang dan mampir ke setiap halte untuk mengangkut penumpang. Selama di sana, agak sulit menemukan kendaraan darat seperti mobil, sepeda motor, atau sepeda. Untuk pergi kemana-mana, rata-rata penduduk menggunakan water bus, water taxi atau jalan kaki.

Salah satu kekhasan Venice adalah gondola, semacam perahu atau rakit di Palembang. Gondola dikayuh oleh seorang pedayung. Penumpangnya dua orang, duduk di atas sofa empuk yang eksotik dan eksklusif. Menumpang gondola memberikan sensasi kemewahan tersendiri, bak raja dan putri dari beberapa abad yang lampau. Pengunjung diajak menyusuri sebagian kota Venice sambil melewati gang-gang sempit diapit oleh bangunan-bangunan tua bertingkat berwarna coklat pastel.

Di sepanjang kanal, berdiri banyak bangunan apik serta gereja-gereka besar dengan menara menjulang. Di atas air sungai yang bersih dan biru, pengunjung bisa menyaksikan burung-burung camar dan elang laut beterbangan dan mencari makan. Ketika malam, sejauh mata memandang tampak cahaya lampu kuning temaram berjajar di sepanjang sungai. Benar-beanr romantis!

Jika Palembang punya Plasa Benteng Kuto Besak, Venice punya alun-alun Santo Markus (Piazza di San Marco) yang merupakan tujuan wisata utama di Venice. Di situ ada Basilica Santo Markus yang merupakan salah satu dari simbol keindahan Venice. Di alun-alun inilah kami menghabiskan malam tahun baru 2008 lalu berkumpul menyaksikan pertunjukan musik ‘Venice in Love’.

Alun-alun ini menjadi saksi bisu segala kegiatan religi dan kemasyarakatan Venice sejak ratusan tahun silam. Seperti prosesi kedatangan jenazah Santo Markus, eksekusi pesakitan, kepergian dan penyambutan armada laut di Bacino di San Marco sampai karnaval perahu (Regatta) dan festival topeng (Venetian Mask).

Di dalam dan di sekitar basilika ini, pengunjung bisa menyaksikan berbagai karya arsitektur bergaya Bysantium, Romawi, dan Gothic, yang membuat para pengunjung berdecak kagum. Saya sendiri tak bosan-bosannya memandangi bangunan nan cantik ini tanpa berkedip!

Setelah alun-alun Santo Markus, pandangan bakal mengarah ke Campanile. Bangunan tinggi menjulang dengan patung seorang bidadari di puncaknya. Bangunan setinggi 98,60 m ini dulunya merupakan sebuah mercusuar yang dibangun pada abad ke-16. Pernah runtuh pada 1902 tapi dibangun kembali dan selesai 10 tahun kemudian. Lantas ada clock tower dengan pahatan singa bersayap–yang jadi simbol kota Venice—pada sisi depannya, serta patung dua orang Moor dari perunggu yang siap memukul lonceng setiap pergantian jam.

Di samping itu, ada sekitar 400 jembatan di kota ini. Pantas saja tidak ada kendaraan bermotor di sini, karena selain gang-gangnya yang sempit, jembatan-jembatan kecil yang harus dilalui pun tak terhingga banyaknya! Walaupun demikian, gang-gang dan jembatan-jembatan di kota Venice tetap cantik.

Jika di Palembang ada Pulau Kemaro, ada beberapa pulau lain di Venice yang layak untuk dikunjungi, di antaranya Pulau Murano, Burano, Torcello, Lido dan San Michele. Pulau Murano kondang dengan pernak-pernik cantik yang terbuat dari kaca, yang disebut Murano glass.

Waktu berlalu begitu cepat. Namun, ada banyak obyek wisata yang belum sempat kami kunjungi. Venice memang sangat kaya dengan obyek wisata budaya yang adiluhung. Mulai gereja hingga aneka galeri. Jarak satu lokasi dan lainnya begitu dekat, melewati lorong-lorong, gang dan jembatan di segala penjuru kota. Enak dinikmati dengan jalan kaki atau keliling dengan gondola atau bis air.

Belajar dari Venice

Setelah menyusuri Venice dan mencoba menatap Palembang, saya melihat ada beberapa hal yang kita bisa pelajari dari ‘the real’ Venice. Intinya, bagaimana setiap stakeholder, baik pemerintah, dunia usaha, penyedia jasa, dan warga Palembang bisa saling mendukung dan bekerja sama untuk memberi pelayanan dan kepuasan maksimal kepada pengunjung.

Ada lima hal yang menjadi sorotan dan catatan saya. Pertama, profesionalisme pengelolaan pariwisata. Sejak pertama kali datang hingga pulang, kesan saya: Venice dikelola secara profesional. Sebagai tempat tujuan wisata favorit, semua elemen dipersiapkan dan dijalankan dengan baik. Yang paling sederhana, transportasi bus air yang cepat dan tepat waktu, sehingga nyaris tidak ada antrian dan penumpang yang berebut. Belajar dari sini, Palembang perlu menyediakan sarana dan sistem pengelolaan transportasi air yang profesional dan memadai. Apalagi jika kita ingin menjadikan Musi Tour sebagai jualan utama pariwisata Palembang.

Kedua, sumber informasi sangat mendukung para wisatawan. Buku-buku panduan, seperti ‘Mengunjungi Venice Dalam Sehari’ sangat mudah didapatkan di kios buku. Setiap pengunjung juga dimodali oleh peta Venice yang bisa didapatkan di setiap halte bis air. Dengan peta itu pengunjungi mengunjung bisa menyusuri Venice dan menentukan tempat-tempat yang ingin dikunjungi dengan sangat mudah. Sebaiknya Palembang juga perlu menyediakan buku panduan dan peta Palembang, lengkap dengan update obyek dan tujuan wisata, yang bisa didapatkan dengan mudah dan murah,

Ketiga, obyek atau tujuan wisata yang begitu beragam. Ada museum, gereja, galeri, pantai, hingga pemakaman. Mungkin, agak berbeda dengan pemakaman di Palembang yang kurang terawat, dan menyeramkan; pemakaman (cemetero) di Venice sangat bersih, indah dan tertata rapi. Obyek wisata dan kehidupan warganya begitu menyatu. Bangunan rumah bertingkat di Venice yang cantik, ditambah lagi dengan dinding-dinding dengan warna-warni pastel serta balkon yang menghiasi jendela, membuat perjalanan keluar masuk gang dan menyeberangi jembatan-jembatan kecil menjadi hiburan tersendiri. Apakah obyek-obyek wisata di Palembang sudah dikelola dengan baik, dijaga kebersihannya dan tidak menyeramkan?

Keempat, wisata belanja. Ada begitu banyak toko dengan merek ternama papan atas terletak di gang-gang sempit. Souvenir dengan berbagai macam bentuk juga bisa didapatkan dengan mudah di kios-kios dan toko-toko. Ada topeng, kaos, tas, miniatur gondola, kartu pos, gantungan kunci, dan lain-lain. Barang-barang kecil dan sederhana, yang bisa dibawa pulang oleh pengunjung. Dalam hal ini, perlu diusahakan adanya usaha atau pusat kerajinan yang memproduksi aneka souvenir khas Palembang.

Kelima, pusat aktivitas warga (home industry) seperti kerajinan gelas di Murano menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung bisa melihat langsung cara pembuatan kerajinan tangan tersebut, mulai dari perhiasan seperti cincin, gelang, dan lain-lain hingga asbak, lampu, vas bunga, dan sebagainya. Palembamg bisa mengembangkan pusat-pusat kerajinan dimana warga Palembang bisa menampilkan keterampilannya secara live, sehingga pengunjung bisa melihat langsung dan belajar. Misalnya, cara pembuatan songket, atau bahkan pempek dan kerupuk. Untuk pengunjung yang belum tahu, ini sesuatu hal yang juga menarik.

Pekerjaan Rumah Kita

Dari pengalaman itu, makin membuka mata saya bahwa pariwisata yang dikelola dengan baik, bisa menjadi pilihan bagi pemasukan bagi daerah dan pendapatan bagi warganya. Gubernur Sumatera Selatan Syahrial Oesman mengatakan, pemerintah daerah akan mendorong sektor pariwisata dan budaya sebagai lokomotif kemajuan pembangunan di Sumatera Selatan (Kompas, 7 Januari 2008). Ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan warga Palembang untuk menjadikan Palembang sebagai kota tujuan wisata kota yang romantis, unik, kaya akan nilai sejarah dan seni, sehingga Palembang layak untuk dikunjungi, layaknya Venice.

Bagaimana membangun lingkungan dan kebudayaan yang bisa dijual dan dinikmati oleh wisatawan dan menyelamatkan peninggalan-peninggalan bersejarah. Musi tour bisa menjadi jualan utama? Bagaimana ini bisa dikemas dengan baik. Bagaimana dengan ketersediaan kapal atau tongkang, lengkap dengan dukungan keamanan dan ketertiban?

Kita sadar bahwa tantangan berat ada di depan mata: kini Palembang telah menjadi kota industri. Proses industrialisasi ini akan mendominasi wajah kota Palembang. Dan, seperti yang ditakutkan oleh Peter J.M. Nas (1984): tak lama lagi, Palembang akan kehilangan karakternya sebagai Venice of the East.

Apakah Palembang bisa kembali ke kodratnya?***

9 Comment(s)

  1. Sayangnya masyarakat sini masih banyak yang belum sadar arti sungai bagi kehidupan kita. Banyak sungai yang sekarang ukurannya cuma satu meter, jadi bingung kan itu sungai atau got.

    itikkecil | Jan 29, 2008 | Reply

  2. lha gambarnya mana??? gondolanya dong mas. btw, sungai venice udah ga secantik dulu… udah mulai kotor. sekarang yang indah buat disusuri adalah danaunya guilin… ini juga ciamik. cina ki kalo duplikasi n imitasi selalu mantaaappppp.. hehhee sampai ke tas dan baju juga banyak yang palsu

    ika | Jan 30, 2008 | Reply

  3. kapan yah bisa ke venice? kalo palembang mah… gw kan di plaju. :D

    hamdi | Feb 11, 2008 | Reply

  4. Kalo saya ke Venesia di tahun 1999 (hehehe udah hampir 10 tahun), kesannya bergondola ria sayang agak bau jadi agak hilang kesan romantisnya. Di sana sempat beli Rosario di Murano, ngasih makan burung-burung di lapangan St Marco (kalo gak salah ?).

    Di The Venetian Las Vegas dan Macao kita juga bisa bergondola ria walaupun suasananya lain.

    Kalo disuruh milih antara USA or Europe, saya akan milih Europe..romantis

    Febi | Mar 26, 2008 | Reply

  5. Palembang?

    Tyo | Apr 12, 2008 | Reply

  6. Sayang ya kita ngga bisa seperti venice. Kayanya emang susah, kalo diliat dari habit org2nya sama mental penguasanya. Sungai Musi yang harusnya indah, hanya dinilai sebagai tempat pembuangan limbah pupuk, karet, dan rumah tangga. sayang

    Ichin | Apr 24, 2008 | Reply

  7. baru baca saja sudah kebayang indahnya. apalagi kalo bisa beber-bener diwujudkan keinginan untuk membuat palembang jadi kota wisata sungai.jadi kita nggak perlu jauh-jauh ke europe.
    Tinggal bagaimana warganya plus pemerintahannya saja, mau nggak berusaha? selamat berjuang!

    enik | Jul 3, 2008 | Reply

  8. mn gambarx kak…..
    masa’ da crita g da gambar…]
    kan krang afdol……
    hehehehe….

    dewi | Aug 9, 2009 | Reply

  9. objek wisata yang menarik skali…. thank’s yah buat info wisata nya..

    objek wisata | Jan 27, 2011 | Reply

Post a Comment