Selamat Jalan Mbah….

suharto-senyum.jpgHari Minggu (27/01/2008) kemarin, tepatnya pukul 13.10 WIB, Haji Muhammad Suharto a.k.a Pak Harto meninggal dunia. Sebelas tahun lalu, tepatnya hariMinggu, (28/4/1997) pukul 05:10 Ibu Tien Soeharto, meninggal dunia karena serangan jantung, di Rumah Sakit Gatot Soebroto.

Sama ketika Ibu Tien meninggal, dua hari ini beberapa radio dan televisi mengumandangkan lagu Gugur Bunga.

Ada gojekan di sebuah milis: “Kalau waktu pemakaman Pak Harto dikumandangkan lagu Telah gugur pahlawanku…. gugur satu tumbuh seribu…. Wah, gawat, tuh! Kalau satu “pahlawan” ini saja sudah bikin menderita jutaan rakyat Indonesia, gimana kalau “pahlawan” seperti ini tumbuh seribu…

Omong-omong tentang sikap apa yang perlu diambil terhadap meninggalnya Pak Harto, di beberapa milis sekarang beredar komentar atau opini Bung Wahyu Chandra <wahyuch@yahoo. com>. Judulnya: Wafatnya Soeharto, Bersedihkah Kita? Berikut saya kopaskan isinya:

Mantan Presiden RI, Soeharto, tutup usia di tengah kontraversi kasus hukumnya yang tak kunjung usai. Seperti mengurai benang kusut, seperti
itulah dilema yang dihadapi rezim yang sedang berkuasa ketika dihadapkan pada kasus hokum sang Dictator ini.

Apakah kita bersedih dengan kepergiannya?
Apakah ucap kesedihan yang diungkapkan Presiden SBY dalam konfrensi
pers sesaat setelah kematian Pak Harto mencerminkan ungkapan seluruh rakyat Indonesia?

Kita ini bangsa yang aneh. Pak Harto yang kita hina dan dicecar dengan sejumlah kasus korupsi namun toh kita tangisi kepergiannya, kita agung-agungkan sebagai pemimpin besar, kita junjung setinggi langit
sebagai pemimpin yang tak tergantikan, bapak pembangunan, justru
setelah dia wafat.

Kita membencinya sekaligus mencintainya. Atau kita hanya pura-pura membencinya selama ini karena takut dituduh tidak reformis? Atau kita mencintainya karena kita merindukan `belenggu’ yang diciptakan akan pikiran kita selama ini, karena kita telah menjelma menjadi bangsa masokis, yang justru eksis di bawah bayang-bayang penderitaan dan ketertindasan?

Pak Harto telah pergi membawa sekian banyak pardoksal bagi kita. Benci tapi cinta, demikian ungkap lagu-lagu cengeng. Bersedihkah Kita? Atau kita hanya berpura-pura bersedih agar tidak dituduh sebagai bangsa yang tak menghargai jasa-jasa pemimpinnya, bahkan yang paling lalim sekalipun?

Atau karena kita memang merindukan senyumnya yang khas dan telah menghipnotis kita selama ini dengan berbagai slogan pembangunannya? Atau karena di zaman yang sangat edan ini, tipe pemimpin seperti Pak Harto adalah satu-satunya tipe pemimpin yang masuk akal bagi kita?

suharto-tommy.jpg

pak-harto-main-gitar.jpg


14 Comment(s)

  1. Yg betul kita bangsa yg pemaaf kali ya mas..

    nana | Jan 29, 2008 | Reply

  2. email yg “dikopas” itu cerdas, tapi menurut saya terlalu berlebihan. kita boleh skeptis, tetapi bukan seperti ungkapan itu. ketika mbah harto mangkat, sebagai manusia, perasahan “human” seperti apa yang muncul? apakah anda akan bersorak-sorak di dekat jenazahnya dengan kegembiraan? sebagai intelektual dan pemikir, maka anda telah kehilangan sense of human, jika itu yg anda lakukan. lalu soal dugaan-dugaan anda: jawabannya boleh jadi begitu. manusia punya type masing2 yg unik. semua kategori anda pasti masuk. orang yg sedih atas kepergian mbah harto bukanlah suatu kesalahan: karena konteksnya manusia dengan manusia. nah, soal hukum, silakan, silakan, kematian seseorang tak lantas membuat persoalan “kekejamannya” di masa lalu lantas sirna.

    Donet Sasa | Jan 31, 2008 | Reply

  3. yah, kalo ngomongin kontroversi seputar si mbah ini ya gak ada habisnya sepertinya mas. hehe. tapi gimanapun, beliau tetap jadi bapak pembangunan. yang pernah menorehkan sejuta cerita di lembaran kisah negeri ini (bahasaku jijik banget)..

    hahaha… tapi tentang penganugerahan gelar pahlawan nasional.. mm.. gak tau ya, soalnya bung tomo aja blm dapet gelar pahlawan nasional.

    betewe, hayuk lah kapan kopdar blogger se belanda? hehehe…

    chriz | Feb 17, 2008 | Reply

  4. asiiiiiiiiiiiiiik

    skijo hadi | Feb 23, 2008 | Reply

  5. sebaik,inya kita berpikiran yang lebih baik,boleh dibilang mbah harto,sangat besar jasa2nya,,,,bagi basa dan negara,wajar 32 th,,dipimpin ya,,membuat mbah…memiliki segalanya,,,,,,jangankan seorang persiden,,,,,,kepala desa sj mimpin 10th bisa kaya,,,,dari jatah fakir miskin,,,apat tuh,,rakin x ya,heeeeeee

    skijo hadi | Feb 23, 2008 | Reply

  6. Mari kita lihat seorang pemimpin dari segala hal ,baik yang buruk ataupun yang baik, yang baik kita jadikan pegangan, yang buruk kita jadikan pelajaran.

    Pemimpin..apalagi dengan waktu kekuasaan yang begitu lama, dengan orang2 disekelilingnya yang pastinya tidak semuanya jujur dan bekerja demi negara dan bangsa.
    mengutip email dari saudara wahyu
    “Atau kita mencintainya karena kita merindukan `belenggu’ yang diciptakan akan pikiran kita selama ini, karena kita telah menjelma menjadi bangsa masokis, yang justru eksis di bawah bayang-bayang penderitaan dan ketertindasan?”

    Bangsa kita kiranya tidak bisa diberikan kebebasan penuh, begitu full democracy diberikan, mulai lah orang berlomba untuk mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan. Sesuatu aturan yang keras dari pemerintahan yang tegas dan kuat harus diterapkan agar orang bisa berjalan searah antara kepentingan pribadi/ golongan dan kepentingan bangsa dan negara.
    Orang kita mungkin akan terlena jika tidak diberikan tekanan yang kuat, tidak diberikan peraturan yang tegas dan kuat, tidak diadakan pengawasan yang kuat, jika semua itu kurang, orang kita cenderung untuk bertindak santai dan mulai seenaknya.
    Just only my opinion

    Windy Yuniansyah | Jun 8, 2008 | Reply

  7. aku sih masih berharap dapat sisa hartanya soeharto dan keluarganya dengan mengabdi dan berkarya diperusahaan keluarganya. atau kasarnya jadi pemabntu setia mereka. aku masih mau yang penting halal.

    from
    ahmadanoval@yahoo.com
    ahmadanoval@gmail.com

    ahmadanoval | Jul 30, 2008 | Reply

  8. sepertinya pepatah revolusi atau reformasi hanya melahirkan diktator2 baru dalam baju apapun. Beliau adalah korban politik Amerika, saat mainan itu berguna dimainkan terus, dan saat bosan dicampakkan dalam kehinaan. Kata reformis dan demokrasi hanya sebatas ” abab” . karena kalo kita kembali ke dasar negara kita kita adalah negara sosialis kerakyatan.

    von_krueger | Feb 19, 2011 | Reply

  9. Kita tentu tak boleh melupakan jasa-jasa beliau dalam membangun Indonesia…

    Anonymous | Dec 29, 2011 | Reply

  10. coba bandingkan zaman sekarang dngn masa beliau, adakah keributan, perang saudara, yg menimpa bangsa ini seperti saat sekarang ini ? mengatasnamakan HAM dan sejenisnya demi kepentingan pribadi intinya sekarang ini sdh jadi orde edan,, kerusuhan dimana2,perkelahian antar kampung, HAM dijadikan politik,dsb

    zhobeck | Jan 8, 2012 | Reply

  11. faktanya jaman si mbah adalah surga bagi rakyat
    katanya banyak korupsi nepotisme dll itu cuma hasutan sja ternyata !
    faktanya ngak tuh ngrasa di rugikan
    meskipun ada tidak di pungkiri memang ada
    yang pasti bagi rakyat jaman si mbah lebih banyak manfaatnya dari pada mudaratnya

    Rudi JB | Jan 12, 2012 | Reply

  12. enak zaman pak harto banget,,sekarang zaman goblok,, preman jadi pemimpin, orang pinter dibuang,, orang jujur dikucilkan

    andi | Nov 6, 2012 | Reply

  13. sekarang jamannya hanya jaman komentar yang gak jelas,, banyak orang sok pinter,,, korupsi dimana mana dinegeri ini butuh sosok pemimpin yang tegas seperti pak harto,,

    andi | Nov 6, 2012 | Reply

  14. Emang sampeyan sudah ngasih apa ke negeri ini, kok lancang-lancangnya nganggap Pak Harto jelek?

    Bicara, sih, boleh, mas. Tapi, mbok ya mawas diri. Sudah pantas nggak menghina orang yang sampeyan sendiri belum bisa berkorban seperti dia. Jelek-jelek dia pernah pertaruhkan nyawa dalam perang melawan Belanda.

    Lha, sampeyan? Kuliah di kampus ecek-ecek kayak Wageningen aja dah sombong. Ngawur sampeyan.

    tulus tampubolon | Jan 27, 2014 | Reply

Post a Comment