Saminisme ala Afrika

Bagi masboi dan mungkin sebagian dari kita, gambaran tentang orang dan kondisi Afrika umumnya stereotif dan berkabut: orangnya tinggi-hitam, rambut keriting kecil-kecil ala indomie; kondisi daerahnya kering dan panas. Seperti yang sering kita lihat di televisi: wajah Afrika, misalnya Etiopia, adalah wajah anak anak kecil yang kelaparan. Itu sudah!

Bisa dibilang, Afrika identik dengan kemiskinan. Negara-negara di Afrika punya sejarah sebagai bekas negara jajahan. Mereka juga (relatif) ketinggalan dalam arus modernisasi. Kondisi itu memunculkan semacam budaya perlawanan atau semacam kreativitas yang sekedar mengakali modernisme bahkan menjadi ideologi, katakanlah semacam Saminisme di Indonesia.

Saminisme adalah konsep penolakan terhadap budaya kolonial Belanda dan penolakan terhadap kapitalisme yang muncul pada masa penjajahan Belanda abad ke-19 di Indonesia. Kita juga bisa menemukan kondisi dan ideologi Saminisme ini pada suku Badui di Jawa Barat dan suku Anak Dalam di Sumatera Selatan dan Jambi. Mereka hidup dalam kesederhanaan. Di mata orang modern, mereka terlihat aneh, lucu. Tapi umumnya mereka memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam dan lingkungan.

Pandangan masyarakat Samin terhadap lingkungan sangat positif. Mereka memanfaatkan alam (misalnya mengambil kayu) secukupnya saja dan tidak pernah mengeksploitasi. Hal ini sesuai dengan pikiran masyarakat Samin yang cukup sederhana, tidak berlebihan dan apa adanya. Tanah bagi mereka ibarat ibu sendiri, artinya tanah memberi penghidupan kepada mereka. Sebagai petani tradisional maka tanah mereka perlakukan sebaik-baiknya. Dalam pengolahan lahan (tumbuhan apa yang akan ditanam) mereka hanya berdasarkan musim saja yaitu penghujan dan kemarau. Masyarakat Samin menyadari isi dan kekayaan alam habis atau tidak tergantung pada pemakainya.

Potret Afrika di bawah ini juga menggambarkan hal yang (relatif) sama. Mereka orang-orang yang sederhana, tidak rumit. Tanpa stress dan (mampu) membuat kita tersenyum.

Masboi pun mencintai Afrika. Bagaimana dengan Anda?

Kendaraan di Afrika: Toyota Co(w)rolla

Photobucket

Sedan atau Truk?

Photobucket

Pick-up Truck

Photobucket

Ambulance

Photobucket

Walkman

Photobucket

STOP vs SOTP

Photobucket

Sebulan Tanpa Bensin? (Zimbabwe)

Photobucket

Cerdas: Mencat Kolam Renang

Photobucket

Listrik vs Fasilitas Umum (Buru Buru, Nairobi, Kenya)

Photobucket

Hot Water

Photobucket

Kambing Dalam Gendongan

Photobucket

Tidak Buka Karena Tutup

Photobucket

Keterangan: Gambar-gambar di atas didapat dari ‘lemparan’ di milis PPI Wageningen dengan judul: “Africa – u gotta love it”. Tengkiu Encep Ahmad!

4 Comment(s)

  1. Afrika memang memendam banyak cerita.. baik itu pahit, kekejaman, kekerasan, mahupun alam yang nyata. Saya sangat suka film2 kisah nyata tentang afrika, baik itu yang berbumbu perang atau drama (kebanyakan tentunya perang). Tapi di tengah kekurangan itu, mereka mampu tampil lebih baik, setidaknya di tanah hijau, persebakbolaan dunia.

    AdityaWirawan | Mar 21, 2008 | Reply

  2. sebenarnya malu juga ngebilang klo negeriku Indnesia juga negara miskin, miskin ilmu, dsb…makanya nggak ada maju2nya….
    *Majjuuuu dong om!! :)

    Okta Sihotang | Mar 21, 2008 | Reply

  3. Afrika itu kejam ternyata! :)

    Nike | Mar 24, 2008 | Reply

  4. boleh tak share gak neh mas wid?

    teguh jian | Jul 20, 2011 | Reply

Post a Comment