20082008 : Satu Tahun di Belanda (1)

Tanggal hari ini angkanya cantik: 20-08-2008. Kalau digabung, 2008-nya dobel. Asik, kan? Selain cantik, hari ini juga istimewa, lho. Kenapa memangnya? Ya, karena hari ini menandai satu tahun Masboi meninggalkan tanah air dan berada di negeri Belanda.

Pagi-pagi, pukul 05.00, alarm di handphone Masboi berbunyi. Stop! Masboi mematikan bunyi alarm, meski tidak langsung bangun. Kondisinya setengah sadar, matanya masih merem. “Wah, Hari ini ulang tahun kedatangan Masboi di Belanda,” batinnya.

nulis posting di kereta, masih ngantuk.

Nulis posting di kereta, mata masih mengantuk!

Ya, setahun lalu, 20 Juli 2007, untuk pertama kali Masboi terbang jauh – ke luar negeri. Kali ini tak tanggung-tanggung: 15 jam-an duduk di kursi pesawat. Dari Jakarta Masboi terbang dengan pesawat Singapore Airline, lalu singgah di Changi Airport dan berganti pesawat KLM tujuan Schiphol. Itulah awal kehidupan baru Masboi, setelah di-manten-kan sebulan sebelumnya.

***

Pukul 05.43. “Tit…tit…tit…” Lampu di handphone berkedip, ada pesan masuk dari seseorang nun jauh di Palembang sana. “Pagi sayaaaaangg! Wis tangi? Katanya mau jmpt di Schiphol, hayo buruan bgn, jgn smp kesiangan, mesakke sing nunggu2 jemputan mms.” Memang hari ini Masboi dapat giliran menjemput mahasiswa baru. Kalau tahun lalu Masboi dijemput oleh Mbak Widhy, kini giliran Masboi menjemput Novi Mayasari.

Setelah mandi dan mengisi perut dengan segelas kopi dan selembar roti, Masboi meluncur ke halte Bornsesteeg. Pukul 06.19 bis meluncur ke stasiun Ede-Wageningen. Dari Ede Wageningen, Masboi naik kereta menuju stasiun Schiphol, bandar udara-nya Belanda.

meeting point kotak kubus merah putihlapangan montor mabur schiphol

Di dalam kereta itu, Masboi.com mewawancarai Masboi tentang pengalamannya selama satu tahun di Belanda.

T: Selamat pagi, Masboi. Masih mengantuk ya?

J : Selamat pagi, bung ! Hehe, lumayan. Jarang bangun pagi soalnya. Dua bulan terakhir, biasanya bangun paling cepat jam sembilan. Jadi mata masih agak berat.

T : Bagaimana rasanya setelah satu tahun di Belanda?

Pertama saya bersyukur kepada sang maha pemberi hidup karena mimpi seorang bocah ndeso kelahiran Desa L. Sidoharjo, Tugumulyo, Musi Rawas, Sumatera Selatan itu telah menjadi kenyataan.

Arai, dalam novel Sang Pemimpi pernah bilang, « Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita. » Yang ingin saya sampaikan adalah: tetaplah jaga mimpi-mimpi kita, karena pada suatu saat mimpi itu akan menjadi kenyataan. Karena itu saya bersyukur : anak petani-transmigran, bisa sekolah gratis di Wageningen University. Ini benar lho, Mas. Kalau mengingat hal ini, saya bisa meneteskan air mata, hehehe.

Ini pengalaman berharga dan luar biasa dalam hidup saya. Tidak luar biasa gimana ? Saya ini orang biasa-bukan siapa-siapa, gak punya-apa. Bapak saya petani biasa, lulusan SR atau sekolah rakyat. Ibu saya hanya sekolah ‘ongko loro’ – untungnya sempat melanjutkan Kejar Paket A waktu saya duduk di kelas tiga SD – saya yang mengajari ibu saya belajar membaca. Keluarga saya masih tinggal di daerah transmigrasi Hitam Ulu VIII, Bungo Tebo, Jambi.

Terima kasih kepada Pak Gusti Allah atas rahmat dan kesempatan untuk menginjakkan kaki ke negeri kincir angin, untuk belajar hidup dan belajar untuk hidup di kampung Wageningen tercinta.

T : Wah, jangan sentimentil dong! Nggak enak kan, dilihat bule-bule di kereta…

J : Tenang aja! Mereka cuek-cuek kok. Mereka lebih asyik dengan koran dan bacaannya. Lihat saja itu: masing-masing pegang koran gratis: Metro, Dag, DePers, dan lain-lain.

T: Apa saja yang berkesan selama setahun di Belanda, khususnya di Wageningen?

J: Banyak banget: pengalaman senang, gembira, susah, menderita, sampai yang mengharu-biru. Senangnya, di Wageningen terasa di kampung Indonesia bernuansa internasional. Ada sekitar 50-an mahasiswa Indonesia di sini, jadi kemana-mana dan dimana-mana ketemu saudara setanah air. Nuansa internasionalnya juga terasa, karena dari 8000-an mahasiswa di Wageningen, 25 persennya adalah international student dari segala penjuru dunia. Jadi asik banget kan: rasa Indonesia berbaur dengan rasa Belanda dan rasa international. (Bersambung)

6 Comment(s)

  1. wah..udah banyak kenangan tuh pasti mas…harus dirayain tuh…

    gadis rantau | Aug 21, 2008 | Reply

  2. wahhh .. kapan ya bisa dijemput masboi as a new student ….
    andai ….
    tahun ini beasiswaku gagal mas …
    hiks … hiks …. feeling so bad ..
    doain aku biso nyusul masboi ke sano yo …
    aminnn

    wardah | Aug 22, 2008 | Reply

  3. Mas, lucu nian dikau.. ^o^

    Eda | Aug 22, 2008 | Reply

  4. semoga tahun depan bisa nyusul masboi ke wageningen..tapi tahun depan masboi udah pulang ya??? hehe

    desty | Sep 25, 2008 | Reply

  5. “pengalaman senang, gembira, susah, menderita, sampai yang mengharu-biru”, tolong diartikelkan mas,ok thanks

    basir | Nov 7, 2008 | Reply

  6. mas….pengen banget bisa kuliah disana.Dulu pernah waktu SMA ikut test AFS, tapi gagal di test akhir cm gara2 ada yang bayar lewat belakang.Jadi ya gt dech…susah banget tembus biar bisa dapat kuliah gratis disana.Huh….kapan dunk bs nyusul mas….??????

    dydy | Dec 31, 2008 | Reply

Post a Comment