Satu Tahun di Belanda (2)

Tanggal 20 Agustus 2008, tepat satu tahun Masboi tinggal dan hidup di Belanda. Seperti ditulis pada posting sebelumnya, Masboi.com mewawancari Masboi untuk membagikan pengalamannya selama satu tahun di Belanda. Anda juga bisa menyampaikan pertanyaan lewat email/ym: [email protected] atau lewat kolom komentar di Masboi.com.

masboi ganteng deh

Wah, yang kemarin kok pengalamannya umum banget, sih Mas?

Hehehe, umum banget ya? Ada lagi tambahannya: karena nuansa internasional, khususnya di Wageningen, kita menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama, bukan bahasa Belanda. Namun yang terjadi tidak sesederhana itu. Karena masing-masing daerah atau negara punya dialek atau kekhasan bahasa Inggris, kadang saya dan teman-teman Indonesia sulit untuk memahami, khususnya ketika berbicara dengan teman mahasiswa dari Afrika, India, atau Cina. Dialek dan pengucapannya sering kedengaran lain, aneh, asing. Tapi lama-lam mengerti juga karena sudah terbiasa.

Kehidupan sosial di Belanda sendiri, bagaimana?

Secara umum orang Belanda, juga mahasiswa Belanda, adalah pekerja keras. Dalam hal bekerja dan belajar, mereka disiplin dan serius, mulai Senin hingga Jumat. Namun sebaliknya mereka benar-benar istirahat dan meninggalkan segala aktivitas pekerjaan pada saat weekend, Sabtu dan Minggu. Saya tahu dari dosen saya, waktu belajar mahasiswa di Belanda per minggunya 40 jam. Waktu dia bertanya, berapa jam seminggu kamu belajar? Saya bingung menjawabnya, karena saya tidak pernah menghitung.

Pada saat weekend, mereka benar-benar lepas dari segala aktivitas. Mereka menghabiskan waktu dengan kongkow, duduk,  ngobrol, sambil ngebir. Kafe-kafe biasanya penuh pada saat weekend. Ini yang berbeda dengan kita, orang-orang Asia, khususnya Indonesia. Kita masih bisa santai pada hari kerja, namun pada saat weekend tetap saja masih belajar atau bekerja.

Hal yang lain, di sini, dan pada umumnya orang Barat: mereka egaliter. Ssaat menyapa dosen, profesor, atau siapa saja, langsung sebut nama, tidak perlu pakai sebutan mister,  professor, dan lain-lain. Pada waktu-waktu awal, kita biasanya agak kagok, misalnya untuk menyebut langsung nama dosen. Tapi karena begitulah cara mereka, akhirnya terbiasa juga.

Enaknya di sini: hiburan banyak sekali. Di pasar atau di centrum seringkali ada pentas seni atau street festival, dimana segala macam jenis kesenian ada. Di kota-kota besar juga sering terlihat orang-orang yang ngamen dengan berdiri mematung, dengan kostum aneh-aneh, misalnya dicat warna emas, perak, dan lain-lain. Puas banget deh, kalau urusan hiburan.

Belanda kan cikal bakal Kekristenan di Indonesia. Bagaimana kehidupan keagamaan di Belanda?

Ini yang menarik. Bayangan saya dulu, saya bisa menemukan kehidupan agama dari sumbernya. Namun yang terjadi:: gereja-gereja di sini sepi, yang datang sebagian besar orang-orang tua, kakek-nenek. Anak-anak, remaja, dan anak mudanya jarang. Banyak dari mereka tidak memiliki agama, dan mereka heran setelah tahu bahwa di Indonesia, setiap orang harus punya agama.

Meski demikian, mereka masih merayakan tradisi Kristen, seperti Natal. Sebelum Natal tahun lalu, ada perayaan Sinter Klas di Wageningen yang datang ke Sungai Rhine. Suasananya ramai banget. Namun, di gereja sendiri sepi. Berbeda sekali dengan di Indonesia.

Setahu saya, sebagai individu, mereka menghormati kita yang beragama lain. Mereka menghargai teman-teman muslim. Memang lembaga atau kampus tidak memberi perlakuan khusus, misalnya dengan menyediakan waktu atau ruang untuk sholat. Namun sebagai pribadi, mereka memperlakukan kita dengan baik. Komunitas-komunitas yang berbasis agama juga tumbuh baik.

Bulan September tahun lalu, ada pawai damai yang diikuti oleh komunitas kristiani maupun muslim di Wageningen. Kita berdiskusi atau ngobrol tentang agama sambil jalan ke gereja dan mesjid.

Oke sampai di sini dulu ya, nanti disambung lagi. Sudah mengantuk, nih! (Bersambung)

Post a Comment