Terinspirasi Pak Kere Kemplu…
By masboi on Sep 22, 2008 in Interpiu
Ngeblog telah menjadi fenomena yang aktual di ranah internet sekitar lima tahun terakhir. Fenomena blog sekaligus menandai bangkitnya citizen journalism, khususnya di Indonesia. Bagaimana dampak dan pengaruh blog terhadap perubahan sosial dan politik?
Kali ini Masboi.com mewawancarai Masboi seputar pengalamannya ngeblog dan bagaimana blog mempengaruhi dinamika perubahan sosial di Indonesia.
Sejak kapan kenal blog?
Pertama kali mengenal blog sekitar 2002-2003. Blog adalah website pribadi yang memuat tulisan berupa diari atau catatan si empunya. Namun baru sekitar 2004-2005 saya mulai tertarik dengan blog. Hati saya dagdigdug dan bergetar ketika menemukan blogombal di gombal.blogdrive.com. Di sana terpampang foto bapak tua berkaca mata tebal, dengan nama keren: Kere Kemplu.
Tulisan-tulisan di blog itu renyah dan memikat, kadang nyleneh dan kesannya kurang ajar. Saya jarang menemukan tulisan model begitu. Hampir tiap hari saya menengok blog itu. Ada rasa jatuh cinta, tapi lebih banyak penasarannya. Jika melihat foto si bapak tua, rasanya tidak mungkin ada bapak-bapak yang nulis bergaya mbois, slengekan, dan subversif ala Pak Kere Kemplu.
Lantas siapakah dia?
Insting saya waktu itu mengarah kepada Pak R. Mardjuki. Beliau adalah mantan pemred majalah Semangat, majalah remaja yang terbit tahun 60-an di Jogja. Konon, isinya intelek, popular, menghibur. Tulisan dan gaya Pak Mardjuki mirip dengan Pak Kere Kemplu.
Pak Mardjuki pernah diundang mengajari saya dan teman-teman di Universitas Atma Jaya Jogya lewat pelatihan jurnalistik. Dari beliau saya tahu rumus 3N: niteni, nirokke, nambahi (memperhatikan, menirukan, menambahi) yang juga diajarkan dan dipakai oleh Andrias Harefa, penulis buku-buku best seller.
Apakah dia Pak Mardjuki?
Rasanya tidak mungkin. Setahu saya ketika memberi contoh tentang Koran Satu Halaman, bentuknya fotokopian di kertas HVS, dengan ketikan manual dan ilustrasi tempelan.
Rasa penasaran itu akhirnya terjawab. Setelah berganti rumah di blogombal.org, Kere Kemplu akhirnya menunjukkan batang hidung aslinya lewat blogombal. Dia adalah Paman Tyo, Antyo Rentjoko – ‘blogger sejuta komentar’ itu. Dialah yang menginspirasi saya ngeblog. Hingga kini acapkali saya mampir ke blognya.
Kapan pertama kali ngeblog ?
Pengen meniru gayanya Pak Kere Kemplu ngeblog, saya mendaftar ke blogdrive.com. Sempat mendaftar ke Blogger.com namun mandeg karena terasa rumit dan bingung. Sabtu, 13 Agustus 2005, saya online di blog masboi.blogdrive.com. Posting pertama berjudul “Maaf. Saya bukan Penulis” berisi motivasi dan alasan saya ngeblog.
“Saya bukan seorang penulis atau penyair. Namun saya pernah senang dan aktif menulis, baik sukarela maupun karena ‘terpaksa dan dipaksa’ menulis di Pasti dan Teropong, media kampus di Universitas Atma Jaya Jogja. Aktivitas menulis ini menghilang sejak saya masuk ke dunia lisan-audio (radio) sejak lima tahun terakhir.
Kini saya masuk kembali ke dunia yang hilang yang lama saya tinggalkan. Niat ini muncul setelah beberapa kawan mengompori dan memprovokasi dengan beberapa blog dan karya-tulisan mereka maupun orang lain. Tantangan itu telah membenamkan saya dalam lautan blog. Saya harus mulai lagi menulis.”
Sejak 11 Oktober 2006, saya memiliki blog berlangganan di Masboi.com. Pengennya, bisa ngeblog lebih baik dan profesional. Namun, tetap saja blog ini sepi posting karena kesibukan kerja dan bingung mau menulis apa.
Kapan mulai intens ngeblog ?
Aktivitas ngeblog menjadi cukup intens setelah saya berada di Negeri Kincir Angin sejak 20 Agustus 2007 untuk menjalani sekolah gratis di Wageningen University. Fasilitas internet gratis di kamar dengan kecepatan 100 mbps nonstop. Bangun tidur langsung memencet power laptop dan go online! Hampir sepanjang hari internet dan YM saya hidup. Rasanya seperti di surga…
Niat utama berangkat adalah untuk belajar dan kuliah. Ini prioritas, meski konsekuensinya berat. Harus ‘menderita’ dijajah oleh dosen-dosen Londo, hidup sendirian berpisah dengan istri yang baru dinikahi sebulan. Siapa suruh datang ke Belanda?
Tentu tidak mungkin belajar terus. Bisa gila!!! Aktivitas surfing, chating, blogwalking, menjadi sarana menghilangkan stress, menghabiskan waktu, dan membunuh sepi. Posting di blog? Kadang-kadang!
Sebagai mantan ‘opisboi’ di Radio Sonora Palembang, minat saya terlampiaskan lewat radio internet Suara Wageningen. Internet di Belanda yang wuzz-wuzz bisa memungkinkan untuk itu.
Cukup dengan software Winamp dan Shoutcast, radio ini meng-online dari kamar-kamar mahasiswa. Radio ini beredar dari mulut ke mulut dan dari YM ke YM. Pendengarnya tersebar di Eropa, Indonesia, dan juga Amerika. Sangat simpel, modalnya hanya dengkul, laptop dan abab alias suara.
Motivasi ngeblog?
Aktivitas ngeblog tidak sekedar menulis. Ngeblog merupakan aktivitas komunikasi. Blog menjadi media berkomunikasi dan berekspresi. Meminjam terminology McLuhan’s (1964) blog adalah “extension of man” yang memungkinkan orang mengekspresikan dirinya dalam jaringan lingkungan digital.
Konkretnya, blog menjadi media komunikasi dengan siapa saja, terutama dengan istri. Karena perbedaan waktu dan terpisah jarak antara Belanda- Indonesia, interaksi kadang menjadi terkendala. Blog menjadi media komunikasi yang penting karena kami bisa saling tahu dan saling memonitor.
Saya meminta isteri untuk mengunjungi blog saya untuk tahu tentang cerita, pengalaman, dan kegiatan saya. Saya memilih menulis di blog karena malas, tidak suka dan tidak pandai bercerita. Rasanya lebih gampang dan lebih nyaman.
Manfaat lain, blog dapat menjaring pertemanan. Banyak pengunjung yang mampir ke blog saya dan sekarang menjadi teman. Terutama mereka yang sedang mencari informasi tentang beasiswa ke luar negeri.
Kendala?
Tidak ada kendala signifikan. It is just an easy going! Apalagi ngeblog sekedar aktivitas sambilan, selain: jalan-jalan, main musik, makan-makan, chating, siaran di radio internet. Itu juga kalau pas lagi lowong. Aktivitas utama, sampai saat ini, ya kuliah, baca reader, nulis paper dan tesis.
Saya belum menjadikan nge-blog sebagai profesi, belum profesional. Karena itu, ketika blog saya masih fakir komen dan minim pengunjung, saya tenang-tenang saja, tidak masalah. Saya tidak punya target muluk-muluk dengan blog ini.
Memang, acapkali ada sesuatu yang tiba-tiba mengetuk-menghentak-menendang di kepala. Ketika sesuatu itu datang, saya langsung saja mengetik, posting dan publish! Yang penting ada yang dikeluarkan. Supaya plong dan sehat, layaknya buang hajat. Jika ada membaca, syukur. Jika tidak, no problemo, lah!
Jadi nggak ada kendala sama sekali ?
Kalau mau disebut kendala, mungkin persoalan konsistensi dan rutinitas. Selama ini ngeblog hanya di kala sempat dan ingat. Kadang bisa berminggu-minggu tanpa posting. Kadang sehari bisa sampai dua kali posting.
Pernah terlintas, bisa nggak ya, posting rutin minimal sehari satu posting? Namun tidak setiap hari ada sesuatu yang nendang di kepala dan masuk kriteria ‘layak posting’.
Sebenarnya, belajar dari Paman Tyo, rumusnya gampang. Tinggal menulis apa yang dikerjakan, dilihat, dirasakan, dipikirkan. Something juicy in a daily basis. Namun tetap saja tidak sederhana pada saat menuliskannya.
Ada saran untuk orang yang mulai ngeblog?
Punya blog itu gampang kok, sehari bisa. Yang susah itu ngopeni, merawat, menjaga, dan konsisten. Karena di situ butuh inner spirit, passion, cinta! Harus percaya bahwa ngeblog ada manfaatnya. Baik untuk diri sendiri dan orang lain.
Dengan kata lain, perlu belajar mencintai – tidak sekedar cinta pada pandangan pertama. Dari sini bisa dilihat, apakah dia blogger sejati atau blogger yang ‘sekali berarti sesudah itu mati’. Di sini butuh kesadaran dan proses.
Persoalan teknis dan menulis, bisa belajar sambil jalan. Bisa belajar sendiri atau belajar dari orang lain. Rumus dari Pak Mardjuki bisa dipakai : Niteni, Nirokke, Nambahi. Itu yang saya lakukan.
Perkembangan dunia Blogger?
Luar biasa ! Sejak 1997—saat John Barger menggabungkan kata we dan blog (disingkat menjadi blog)–-blog telah menembus budaya pop dan politik serta menjadi sumber informasi yang bisa dipercaya. Dari sekedar media curhat remaja, blog kini menjadi media popular untuk menyebarkan informasi dan kampanye politik.
Perkembangan blogger Indonesia juga signifikan. Blog, seperti halnya nomor handphone dan email, kini menjadi identitas dan kebutuhan komunikasi digital. Angka 1.000.000 blogger rasanya bisa menjadi kenyataan dalam waktu dekat.
Lewat blog, banyak komunitas dan jaringan sosial terbentuk karena kesamaan kepentingan atau minat. Proses pendidikan, pembelajaran, dan pendewasaan lewat blog akan menambah keragaman konten dan kualitas informasi di ranah internet.
Blog sebagai kekuatan baru ?
Hermawan Kartawijaya pernah menyinggung istilah digitalization, yakni aspek teknologi yang membuat individual jadi powerful, asal terhubung dengan Internet. Mereka menjadi kekuatan luar biasa yang bisa saling berinteraksi, saling mempengaruhi, dan saling membantu sama lain.
Esensi dari blog adalah ekspansi dialog sosial. Hal ini dimungkinkan karena setiap orang yang terkoneksi internet bisa meng-online-kan informasi, sehingga orang lain bisa berkomentar dan menjadikannya acuan.
Pengaruh Blog bagi media dan politik?
Di ranah media, blog bisa meretas kebekuan dan dominasi/monopoli media mainstream karena blogger bisa menjadi produsen informasi. Jika Anda tidak percaya dengan media mainstream Anda bisa memposting dan mempublish kebenaran, kapan saja, hanya dengan sekali klik.
Blog telah melahirkan kekuatan baru dalam ranah jurnalisme dengan hadirnya jurnalisme warga. Dengan kekuatan interaktifnya, orang bisa saling berkomentar, bisa saling berhubungan dan berdiskusi. Ada banyak contoh, diskusi-diskusi itu telah membawa perubahan yang demokratis.
Di ranah politik, blog juga mulai menunjukkan kekuatannya. Blog telah membangun ruang demokrasi baru: Republik Blog! Suara orang biasa yang bisa mempengaruhi perubahan politik dan kebijakan. Contohnya di Cina, Inggris, dan Amerika.
Kini semakin banyak politisi yang ngeblog. Dengan berbicara secara langsung dan personal, mereka dapat berkomunikasi dan menyebarkan gagasan dan menerima tanggapan. Lewat blog mereka juga bisa memobilisasi dukungan. Blog juga bisa mem-by pass pintu editor media, ketika banyak politisi mengeluh media salah kutip atau berita tentang mereka dipelintir.
Apa harapan anda ke depan?
Kita perlu mulai berbicara tentang kode etik. Akhir-akhir ini banyak gesekan terjadi, banyak kasus muncul menyangkut persoalan etika.
Apakah bloger perlu mengembangkan kode etik?
Menurut saya, ya. Karena blog adalah produksi gagasan dan informasi. Seperti halnya wartawan, bloger harus mengadopsi kode etik untuk membantu pembaca membedakan antara fakta dan opini.
Dalam bukunya The Weblog Handbook: Practical Advice on Creating and Maintaining Your Blog, penulis dan blogger Rebecca Blood berargumen bahwa bloger harus menjunjung dan berpedoman pada enam hal.
Apa saja itu?
(1). Memposting hanya fakta yang Anda percaya kebenarannya. (2). Jika Anda menggunakan materi atau referensi online, buatkan link atau tautan ke materi tersebut. (3). Jika ada kesalahan informasi, koreksilah secara publik. (3). Tuliskan setiap posting seolah-olah posting tersebut tidak bisa diubah; tambahkan, tetapi jangan menulis ulang atau menghapus posting yang sudah ditulis. (4). Ungkap atau bongkar setiap konflik kepentingan. (5). Catat sumber-sumber yang bias dan bisa dipertanyakan.
Lain-lain?
Waktu kuliah saya pernah membuat pelatihan jurnalistik dengan tagline: Menulis Mengubah Dunia. Kali ini saya bikin tagline baru: Ngeblog Mengubah Saya dan Dunia.
Terima kasih.

saya sangat suka dengan kata-kata masboi yang ini “Ngeblog Mengubah Saya dan Dunia.”
*merasa begitu juga
jafis | Sep 23, 2008 | Reply
hehe… sip mas! blogito ergo sum, gitu yah
rani | Sep 26, 2008 | Reply