Ritual Bersepeda di Belanda

Sudah lama Masboi pengen menulis pernak-pernik sepeda di Belanda. Ketika mencoba meng-google dan browsing, malah ketemu tulisan Ir. Danny Lim, moderator milis Kincir Angin dan juga citizen journalist website In en Indonesie. “Selain Negeri Kincir Angin, Belanda kini mendapat julukan tambahan, yaitu Negeri Sepeda. Julukan baru ini muncul setelah Belanda tercatat sebagai negara dengan rasio populasi sepeda dan penduduknya tertinggi di Eropa. Sepeda sudah tak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Belanda, bahkan sejak mereka kanak-kanak.”

Selain dikenal sebagai “Kota Gudeg”, Yogyakarta (dulu) juga terkenal sebagai “Kota Sepeda”. Di hampir semua penjuru kota itu kita bisa dengan mudah melihat orang naik sepeda. Tapi tahukah Anda, di seberang lautan sana ada sebuah “Negeri Sepeda” yang bernama Belanda? Bukan cuma di satu kota, tapi di seluruh Belanda orang naik sepeda. Murid sekolah, guru, ibu rumah tangga, manajer, bahkan menteri sekali pun naik sepeda.

Tercatat ada 18 juta sepeda di Belanda. Bila penduduk Belanda berjumlah 16,3 juta, maka ada 1.100 sepeda untuk 1.000 penduduk. Angka ini tertinggi di Eropa. Bandingkan dengan di Spanyol (231 sepeda untuk 1.000 penduduk) atau di Prancis (367 sepeda per 1.000 penduduk). Yang angkanya mendekati Belanda hanyalah Jerman, yaitu sekitar 900 sepeda per 1.000 penduduknya.

Kepemilikan sepeda di Belanda yang tinggi itu tampaknya sesuai dengan frekuensi pemakaiannya yang juga tinggi. Statistik menunjukkan, setiap penduduk Belanda rata-rata mengayuh sepedanya sejauh 1.019 km per tahun atau sekitar 16 miliar km untuk seluruh penduduk Belanda (16 juta jiwa). Bandingkan dengan di Spanyol yang cuma 24 km per tahun per penduduk. Maka tak salah kalau ada pernyataan, orang Belanda dan sepeda sudah seperti ikan dan air. Keduanya tidak bisa dipisahkan lagi.

Jadi mata pelajaran
Pilihan orang Belanda pada sepeda tak lepas dari sejumlah keunggulan yang dimiliki sepeda dan telah memadainya prasarana pendukungnya. Di antara keunggulan sepeda itu adalah harganya yang relatif murah, tidak mencemari udara, dan menyehatkan pengayuhnya. Kelemahan sepeda cuma terletak pada kecepatan dan jarak jangkau. Ia tidak bisa dipakai untuk keluar kota secara rutin.

Namun, problem “kecil” ini bukan halangan. Mereka naik kereta api dari satu kota ke kota lain, lalu menyewa sepeda di stasiun kereta api tujuan. Atau, membeli sepeda lipat dan naik kereta api sambil menenteng sepeda lipat itu. Atau, membeli dua unit sepeda untuk ditaruh di masing-masing kota. Mahasiswa atau karyawan yang tinggal di Kota Haarlem dan kuliah atau bekerja di Kota Leiden misalnya, setiap pagi mengayuh sepeda dari rumahnya ke stasiun kereta api Haarlem, memarkir sepeda pertamanya di sana, lalu naik kereta api ke Leiden.

Di stasiun kereta api Leiden sudah ada sepeda ke-2 yang diparkir di pelataran parkir stasiun. Dengan sepeda ke-2 itu sang mahasiswa atau karyawan mengayuh sepedanya ke kampus atau kantor. Sore hari mereka menjalani ritual yang sama, hanya terbalik arahnya. Karena jumlah mahasiswa atau karyawan yang kuliah atau bekerja di kota lain sangat banyak, maka merupakan pemandangan biasa apabila pelataran parkir sepeda di stasiun-stasiun kereta api di seluruh Belanda tampak seperti lautan sepeda.

Begitu populernya sepeda di mata orang Belanda, sampai-sampai sekolah dasar di Belanda mencantumkan “keterampilan bersepeda” sebagai salah satu mata pelajaran ekstrakurikuler. Beberapa kali dalam setahun murid-murid kelas 2 SD ke atas mendapat pelajaran teori lalu-lintas bersepeda. Termasuk dalam pelajaran itu di antaranya cara memberi tanda kalau mau membelok ke kiri atau ke kanan, memilih titik aman untuk berhenti di perempatan jalan, arti lampu merah-hijau pada lampu stopan sepeda, serta perlengkapan yang mesti dimiliki, seperti rem, bel, lampu depan dan belakang.

Pelajaran teori singkat itu ditutup dengan ujian teori dan keterampilan bersepeda. Halaman sekolah dijadikan arena ujian, dipasangi rambu-rambu lalu-lintas sederhana, lalu setiap murid diminta mengendarai sepedanya melewati rute yang telah ditentukan. Tujuan pelajaran bersepeda itu untuk mempersiapkan murid-murid bersepeda di jalan raya dengan aman.

Umumnya, setelah murid lulus ujian bersepeda, orangtuanya berani melepas sang anak pergi dan pulang sendiri ke atau dari sekolahnya. Seluruh proses pendidikan bersepeda dan ujiannya, didukung sepenuhnya oleh korps polisi lalu-lintas di kota atau desa masing-masing. Karena anak-anak Belanda sudah diperkenalkan dengan sepeda di usia dini, maka sepeda menjadi seperti “bahasa ibu” seluruh anak-anak Belanda, yang akan dibawanya sampai tua.

Meskipun pendidikan bersepeda sudah ketat, Lembaga Konsumen Belanda mencatat masih banyak kecelakaan bersepeda pada anak-anak dan remaja berusia antara 5 – 12 tahun. Tercatat 80% kecelakaan bukan karena tabrakan, tapi karena terjatuh sendiri dari sepedanya. Setiap tahun rata-rata 9.200 anak kecil dirawat di rumah sakit (7.000 di antaranya akibat terjatuh dari sepedanya, dan 1.200 anak lainnya kakinya masuk ke jari-jari sepeda). Yang luka karena menabrak tiang listrik, menyerempet trotoar, atau menabrak pagar tembok berjumlah sekitar 630 anak per tahun. Tercatat, penyebab kecelakaan sepeda itu umumnya adalah terlalu besar atau kecilnya ukuran sepeda buat si anak, atau ukuran sepedanya cocok tapi remnya blong.

Aman di jalur khusus
Selain untuk sekolah atau bekerja, ada 1.001 kegiatan bersepeda lain di Belanda. Di antaranya bersepeda makan bersama di restoran interkultur (gantian ke restoran Jepang, Cina, Yunani, Turki, Indonesia, Israel), bersepeda untuk berenang bersama di pantai, bersepeda sambil berkunjung ke industri keju rumahan di sebuah desa.

Setiap tahunnya di bulan Mei diselenggarakan Hari Sepeda Nasional yang rata-rata diikuti oleh sekitar 200.000 pengendara sepeda di seluruh negeri. Disediakan sekitar 440 rute cross country di seluruh negeri dengan jarak antara 15 – 50 km. Hari Sepeda Nasional itu merupakan jejaring kerja sama antara Nederlandse Bureau voor Toerisme dan seluruh pemda di Belanda.

Setiap tahun temanya berganti. Tahun 2005 misalnya, dipilih tema “Water”. Berdasarkan tema itu, semua rute yang dipilih melalui wilayah berair, seperti pantai, sungai, bendungan, dan lain-lain. Mulai tahun 2006 Hari Sepeda Nasional ditingkatkan menjadi Bulan Sepeda Nasional. Sebulan penuh di seluruh Belanda diselenggarakan kegiatan bersepeda bersama.

Untuk mendukung penggunaan sepeda oleh masyarakat, pemerintah Belanda telah membangun sekitar 22.000 km jalur sepeda di seluruh negeri. Jalur sepeda itu membentuk semacam jaringan sepeda yang kompak. Seorang pengemudi sepeda dapat mencapai suatu tempat di Belanda dengan sepedanya non-stop lewat jaringan jalur sepeda itu.

Ciri khas jalur sepeda adalah aspalnya berwarna merah dan di kedua ujung jalurnya ada papan lalu-lintas berwarna biru bergambar sepeda. Di aspalnya sendiri digambari sepeda setiap beberapa ratus meter. Mobil dan kendaraan non-sepeda tidak boleh melaju di jalur itu. Jalur sepeda yang memotong jalan yang padat mobil dibuat dalam bentuk terowongan di bawah, atau bentuk jembatan di atas jalan mobil. Keamanan pengendara sepeda kini terjamin sebab mereka tidak usah lagi menyeberangi jalan mobil.

Bentuk sepedanya sangat beragam, disesuaikan dengan fungsinya. Ada yang beli jadi di toko sepeda, ada pula yang pesan di bengkel karoseri sepeda. Kini di Belanda banyak bengkel sepeda yang menyediakan jasa pembuatan karoseri sepeda dengan model sesuai keinginan. Ayah, ibu, dan satu-dua anak, yang ingin naik satu sepeda pun bisa dibuatkan sepedanya.

Sepeda panjang seperti mobil Limousine itu pun punya empat sadel. Untuk bayi atau anak kecil, bisa dibuatkan boncengan khusus. Buat yang sering belanja banyak pun dapat dibuatkan sepeda komplet dengan keranjang besar untuk menaruh barang belanjaan. Harga sepeda pesanan itu berkisar E 750 – 1.500. Sedangkan harga sepeda yang biasa dijual di toko sepeda berkisar E 150 – 1.000.

Sayangnya, cukup banyak juga pencurian sepeda. Tercatat setiap tahunnya ada lebih dari 800.000 sepeda hilang dicuri orang. Sampai-sampai Technische Universiteit Delft merasa perlu menciptakan kunci sepeda yang aman. Rantai sepeda biasa gampang digunting oleh pencuri dalam waktu satu menit saja. Para pencuri sepeda tahu persis, di Belanda belum ada registrasi nasional terhadap sepeda yang dicuri, sehingga menemukan kembali sepeda yang hilang bak mencari sebuah jarum di padang pasir.

Untuk mengurangi kasus pencurian, menteri Dalam Negeri Belanda belum lama ini menyediakan program komputer yang akan mencatat semua laporan kehilangan sepeda di Belanda. Semoga, dengan pencatatan ini, masalah pencurian si roda dua itu bisa segera diatasi.

Sumber: Intisari Online. Diterbitkan oleh Majalah Intisari  No. 517 Tahun XLIII Agustus 2006

13 Comment(s)

  1. mas, baru aja pengen nulis tentang saya yg sangat terpaksa bersepeda disini.. eh taunya masboi mengangkat cerita lengkap tentang sepeda, senang! baru tau juga, ternyata jadi pelajaran di sekolah ya, hahaha..

    mela | Oct 6, 2008 | Reply

  2. wah…salut saya dengan pemerintah dan rakyat Belanda. kapan ya indonesia bakal seperti itu..mungkin harus ada yang mulai duluan nih..

    hidup B2W Indonesia yang mulai duluan..
    mari-mari pemerintah indonesia, ditunggu gebrakannya…

    amal | Oct 27, 2008 | Reply

  3. wah…di Yogyakarta masih banyak mas yang bersepeda, kapan nih kembali ke Yogyakarta,mas?sayang di sini tidak di masuki ke kurikulum pembelajaran,kapannya…

    basir | Nov 10, 2008 | Reply

  4. Dear Masboi,

    Saya Dessy, terima kasih atas sharing ini, pada Oktober 2008 akhir lalu, baru saja keponakan saya Ian yang baru akan berumur 10 tahun(Desember 2008, kelas 5 SD, meninggal karena ditabrak mobil saat bersepeda menuju ke rumah temannya untuk belajar kelompok. Ian, menurut cerita saksi mata, akan menyeberang jalan setelah dua orang temannya menyebrang dan masih ada satu teman lagi di belakangnya. Sebuah mobil yang ngebut di dekat tikungan menabraknya. (kemungkinan kecepatan 50km/jam lebih). Kami semua shock terlebih papa mamamya, hanya sekitar setengah jam mencoba mendapatkan bantuan di RSUD Ian tak tertolong. Dan tahukah Masboi, semua ini terjadi di Kota Kecil Wates Kulonprogo, Yogyakarta yang tentu saja banyak pula pengguna sepeda di sana, jalanan sepinya telah membuat Ian jadi korban kebrutalan pengendara mobil yang dengan pongah mengemudi di kecepatan lebih dari 50km/jam.
    Ini duka bagi kami semua, YOGYAKARTA YANG TERKENAL DENGAN KOTA BERSEPEDA TERNYATA BUKAN TEMPAT YANG AMAN BAGI ANAK-ANAK YANG BERSEPEDA. WATES MENURUT SAYA JADI LEMBARAN GELAP DALAM MEMORI SAYA. Tolong keselamatan bersepeda dan pengalaman di Belanda, dll. disebarluaskan pula di Indonesia. Mungkin melalui web pengguna sepeda, hingga mereka bisa berkolaborasi dengan pihak2 lainnya misal hingga sampai diajarkan pada sekolah2 di Indonesia sejak TK mungkin dan awal2 SDuntuk mempersiapkan anak2 SD. TOLONG semua pihak ikut bantu DLLAJ menindak mobil angkutan berat yang tak layak pakai, sopir yang tak tahu atuiran LALIN, termasuk aparat Lalin menindak dan meningkatkan kedisiplinan pengambil SIM, supaya pengemudi mobil atau motor dll. bisa menjaga kecepatan mengemudi di dalam kota dan/atau saat dekat anak-anak.
    Kami masih selalu berduka meski mencoba menerima kenyataan ini. berat bagi kami, sepeda menjadi trauma besar bagi kami!(Maaf)
    Dicubit saja Ian sakit, Ian berpulang melalui kecelakaan tragis ini. Mohon doa semoga Ian damai dan bahagia.

    SAlam
    Dessy

    dessy | Dec 10, 2008 | Reply

  5. mari kampanyekan bersepeda,.. dan keselamtan bersepeda,.. dan jalur khusus untuk sepeda,..
    di Indonesia,…

    salam bike-to-work…
    gowes, gowes..

    *turut prihatin untuk mbak desi….*

    bdwiagus | Dec 11, 2008 | Reply

  6. Wah, kenapa gak diwarisin ke negara jajahannya yah?
    Atau saya belum pernah denger kalo di Batavia ada jalur sepeda dulunya?

    Ijin copas, Masboi..

    yoga | Dec 11, 2008 | Reply

  7. Seneng juga lihat negeri Belanda, meski hanya dalam cerita Mas Boi. Kapan ya aku bisa cycling menyusuri jalan2 disana?

    Joko | Dec 14, 2008 | Reply

  8. hi…boy ketemu saya lagi ni…, tentunya mas Boy udeh dinegeri belanda lagi dong… oh ya mas Boy kira-kira kalo beli sepeda dinegeri belanda berapa sih harganya.?

    yudisulistio | Mar 12, 2009 | Reply

  9. Mas Yudi, harga sepeda? kan uda ditulis
    ama masboi 150 – 1000 euro.
    beli yg bekas aja murah.

    Roro | Jun 17, 2009 | Reply

  10. masboi…
    saya minta izin ya untuk masukin tulisan masboi
    sebagai bahan referensi skripsi saya.
    saat ini saya lagi mengerjakan skripsi mengenai keselamatan di jalur sepeda Universitas Indonesia.
    terima kasih sebelumnya.

    saskia | Jun 29, 2009 | Reply

  11. inspiratif mas boi ^^, ijin share link ke grup facebook goweser Palembang yaaa…

    jujulitatia | Jan 17, 2011 | Reply

  12. wah kebetulan saya ingin nulis ttg sepeda di belanda eiu.. mas e nulis juga nuwun mas,,, tambah2 info ttg belanda

    salam hangat wedang ronde ngayogyokarto

    ika | May 3, 2011 | Reply

  13. wahhhh keren, semoga saja pemerintahan di Indonesia bisa menerapkan apa yang dilakukan oleh pemerintahan Belanda.

    alben | Dec 8, 2014 | Reply

Post a Comment