Yohanes Widodo dan Kupu-Kupu Komunikasi

Oleh: Agustinus ‘Gus Noy’ Wahyono.

Catatan: “Di hari Valentine 14 Februari 2009 ini, saya mendapat ‘hadiah cinta’ sebuah tulisan dari Agustinus Wahyono, seorang teman kental (dan gempal) saat belajar berjunalisme di pers mahasiswa UAJY. Tulisan yang sama juga dimuat di http://www.formasinet.com. Terima kasih, Noy!” — Siboi.

Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat, mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat, berharap jadi kupu-kupu
Kini kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu

(Cuplikan lagu “Kepompong” – Sind3tosca, 2008)

 
icon for podpress  kepompong: Play Now | Play in Popup | Download

Kali ini, oleh sebab ada request spesial dari kawan Ommy de Papua, saya menulis sedikit tentang Yohanes Widodo alias Dodo alias Oye de Mello alias Mas Boi dalam sebagian proses kreatifnya, atau sejengkal jejak sejarah sebuah pertemuan. Kata “sedikit” sengaja saya sampirkan lantaran memang sebatas itulah tentang dia yang tercecer dalam kotak ingatan saya. Saya menyimpan pengalaman bersama Dodo, tentu saja berbeda dengan pengalaman kawan-kawan ketika bersama dia. Ini jelas subyektif bin naïf.

Cuplikan lirik “Kepompong” pun sengaja saya culik sebab, menurut saya, ada relevansi koneksitasnya. Persahabatan yang pernah ada dalam keseharian yang serba apa adanya di masa lampau dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya namun kini telah berjauh-jauhan, bahkan terbang seperti kupu-kupu entah hinggap di bunga lagi atau taman mana yang tidak terpantau sebelum berujung pada sebuah homestay.

Oleh sebab itu saya minta maaf apabila tulisan saya ini masih sangat kurang berisi, kurang observatif-eksploratif, tidak valid, dan cenderung fiktif-imajinatif (menurut kawan-kawan) mengenai Dodo. Perlu Sidang Pembaca maklumi, bahwasannya saya bukanlah seorang penulis yang handal dan potensial. Saya hanya “bukan siapa-siapa, juga dalam keseharian dia di masa silam yang legam seperti kulit Bra 36 (siapa Bra 36?). Dan saya berharap ada rekan-rekan lainnya yang sudi meneruskannya menjadi sebuah satu kesatuan tulisan yang lebih lengkap-sempurna.

Dan, barangkali saja peringatan kawan Eclid bisa menjadi rambu-rambu apabila Sidang Pembaca masih khawatir tersesat oleh catatan cacat saya mengenai seorang Yohanes Widodo, “Kenyataan tidak pernah menipu atau mengkhianati kita. Bermain-main dalam ilusi memang menyenangkan. Tertipu oleh kata-kata mungkin jadi risiko.”

Bertemu Yohanes Widodo

Yohanes Widodo alias Dodo, nama yang awalnya saya kenal ketika menggarap Jurnal “AKSEN” Dies Natalis UAJY Agustus 1994 di sekretariat Majalah Mahasiswa Teknik “SIGMA”, basement kampus Teknik UAJY. Dia, dan Si Manis ‘Zainab’ Justin asal Tasikmalaya, ikut bergabung setelah ada perekrutan lintas fakultas. Kami, bersama rekan lainnya, lembur dari pagi jumpa pagi di sana. Kalau tidak keliru, FISIP belum hijrah naik andong ke Mrican.

Waktu kami berkenalan, dia mengaku sebagai “Wong Kito” meski keturunan Jawa. “Wong kito galo,” kata kawan-kawan dari Palembang. Pada tahun 1994 itu Palembang adalah ibukota Sumatera Selatan, dan Bangka masih tergabung dalam provinsi Empek-empek Kapal Selam. Namun tatapan mata dan tutur katanya sama sekali tidak memperlihatkan adanya pengaruh Palembang yang biasanya garang, lantang, dan menghentak-hentak. Justru dia masih kental dengan ke-Jawa-annya (tradisi leluhurnya). Barangkali di samping berstatus sebagai mahasiswa dan gandrung pada kegiatan jurnalisme ala mahasiswa, juga kedekatan etnisitas dan lokalitas yang lebih menyahabati kami.

Kru Aksen 1994 – Berdiri: Dodo Masboi, Melchior Bria, Anton Simbah. Duduk: Zainab Justin, Edwin Adresson, Siska (atau siapa, lupa namanya.)

Dodo, sebelum kelak menyamar jadi Mas Boi, terlihat lugu ketika itu (entah pura-pura lugu ataukah memang lugu sungguhan). Dalam rapat redaksi, dia cenderung diam. Apakah pura-pura diam ataukah memang tipe pendiam, entahlah. Atau mungkin heran melihat anak-anak Teknik, termasuk saya, begitu sok pinter bicara soal penerbitan buletin “wagu”. Dalam seupil ingatan saya, berita utama ketika itu adalah Menwa – SentiMen tanpa taWa.

Berikut soal mencari berita, memburu narasumber, baik dari lingkungan kampus UAJY maupun dari luar. Dia melakukannya dengan penuh semangat, kreatif-inovatif-persuasif. Berbekal tape recorder, dan kamera. Saya tidak tahu dengan siapa dia menunaikan tugasnya karena saya berkonsentrasi pada urusan ilustrasi, tata artistik, dan sesekali pura-pura mengedit. Mungkin dia didampingi I Gede Wiryadinata alias Komang (Sipil 1993, kini wartawan Metro TV wilayah Bali setelah lulus dari Koran Bernas Jogja) atau Vitalis Edi Yos Bani (Sipil 1993, kini Field Operation Officer di PT Pinang Coal, sebuah perusahaan batubara terkemuka di Kalimantan).

Dodo Masboi dan Edi Jos Bani

Pulang dari perburuan, dia duduk manis di depan komputer 346 yang bermonitor dwi warna serta masih ribet dengan program Wordstar dengan perintah op, ojon, dll. Translate wawancara menjadi tulisan. Saat itu dia didampingi langsung oleh Melchior Bria (Bra 36, Bria Punya Selera) asal Belu, NTT, Sipil angkatan 1990, yang kini sudah bergelar S-2 dan menjadi dosen tetap universitas negeri di Kupang.

Dalam melakukan proses penulisan, Dodo memakai peribahasa usang, “Sedikit bicara, banyak bekerja.” Tentu saja peribahasa itu sangat tidak tepat bila dipakai oleh seorang penyanyi, public relation, operator, stasiun radio manapun, dan lain-lain. Untungnya dia belum peduli soal peribahasa itu. Mendengar obrolan, menerjemahkan ke tulisan, dan akhirnya menyelesaikan penulisan. Beres. Sebab setelah itu, ada satu acara yang asyik untuk disimak, yakni main game poker “ler” di komputer yang sedang ngetop dengan Intel Pentium I milik Edwin Adresson (anak SIPIL angkatan 1989).

Tapi dia tidak boleh main game “ler” itu melulu karena komputer juga dipakai untuk mengedit. Dan dia tidak beranjak. Apakah masih terkagum-kagum pada poker “ler”, ataukah mau belajar mengedit tulisan bersama Sigit Cahyono (Sipil angkatan 1986)? Tidak jelas apa isi hatinya ketika itu karena saya bukan peramal ataupun usil urusan isi hatinya. Yang jelas, setelah urusan tulis-menulis dan mengedit rampung, dia akan kembali membuka game “ler” itu dengan Bria (gara-gara game “membugili” rival poker itu namanya menjadi Bra 36) dari malam hingga ludes oleh hiruk-pikuk mahasiswa-mahasiswa muncul di laboratorium Sipil. Saya ikut? Saya tidak bisa main poker, tapi memilih main pinball.

Kelihatannya ada hal lain (selain soal praktik bermedia massa cetak dan main game serba “ler”) yang membuatnya cukup kerasan dalam kegiatan itu yakni makan-minum gratis (saya pun suka!), dan tidur gratis. Soal tidur atau di mana dia kos, saya tidak tahu. Yang saya ingat, selepas kegiatan bersama di SIGMA itu dia sering tidur di kontrakan Edwin Adresson. Bacaan wajibnya waktu adalah novel-novel terkenal, yaitu karya Enny Arrow. Kegiatan lainnya yang masih sering dilakukan adalah “seminar” (Masih ingat “seminar” itu, Do?).

Acara evaluasi sekaligus pembubaran proyek AKSEN diselenggarakan di Kaliurang dengan acara api unggun dan menyanyikan lagu “Kemesraan”-nya Iwan Fals. Dia pun ikut. Masih dengan gayanya yang tidak suka memboroskan kata, kecuali aksara tertentu yang panjang alias ketawa atau sekadar nyengir kuda. Dan selanjutnya, masih diikutinya acara Apresiasi Jurnalistik Mahasiswa (AJM) Majalah SIGMA. Dia tetap bergabung. Kelihatan sekali rasa keingintahuannya besar, dan dia tidak akan berhenti jika belum betul-betul memahami dan menikmati dunia jurnalisme ala mahasiswa Teknik.

Pasca AKSEN, kami (saya, dia, Edi Yos Bani, Edwin, Bra 36) membidani kelahiran Unit Pers Mahasiswa PASTI tahun 1995. Perekrutan lintas fakultas pun dimulai. Ada Emmy Kus, Raymond (Industri angkatan 1993), Danang (Sipil angkatan 1994), Si Embah, dan lain-lain. Setelah terbit edisi perdana, saya kembali ke sekretariat SIGMA. Tapi komunikasi kami tetap berlanjut sampai kami berjumpa lagi dalam demontrasi soal kenaikan SPP, pembredelan Majalah TEMPO-Majalah EDITOR-Tabloid DETIK, dan kegiatan Seminar Humor Senat FISIP bulan A1996. Di sana saya berkenalan dengan Hasto, Agung, Bagong, Catur, dan lain-lain (kepada kawan-kawan FISP yang belum saya sebutkan namanya, silahkan ngacung).

Kalau tidak salah, pada tahun 1995 itu juga dia mengantarkan saya ke markas Koran BERNAS Jogja, berjumpa dengan Y.B. Margantoro untuk melamar pekerjaan sebagai tenaga illustrator/kartunis, mendampingi Kuss Indarto. Saya ingat sekali, waktu itu selepas magrib karena beliau sedang berada di kantor. Ndililahnya, saya tidak mendapat kesempatan bekerja di situ.

Tahun 1997 komunikasi kami otomatis terpenggal. Dia sedang gencar dalam kegiatan organisasinya, sedangkan saya pun menyibukkan diri dengan diri saya sendiri. Terkadang kami masih berjumpa di kampus Teknik yang kebetulan masih menyandang predikat sebagai kampus pusat, tempat bertahtanya Rektor beserta abdi kampus penting lainnya.

Tahun 1999 dia datang ke studio kartunku yang telah berubah menjadi “Sanggar Main Kata”. Dengan percaya diri dia bilang, “Noy, bantu kami di PASTI, menggarap buku ospek kampus. Kau bantu di bagian ilustrasinya.” Saya sanggupi karena memang saya paling suka dalam kegiatan semacam itu. Lantas saya pun kembali ke PASTI, bertemu pula dengan Anzel-Klimping-Bosjka-Ommy-Lalang-Maryadi-Dea-Lexy-Jojo, dll, selain Eclid. Buku Belajar untuk Hidup, judulnya. Berikutnya, bergabung lagi, menggarap buku Kampus Demokratis.

Pada tahun itu pun saya dikepung kebingungan gara-gara nama Dodo berubah menjadi Mas Boi. Rupa-rupanya rentang waktu dua tahun telah mengubah namanya. Mungkin juga di pusgiwa pernah diadakan upacara syukuran dengan menyembelih asu dibumbui arak. Proses perubahan itu PASTI-lah diketahui oleh kawan-kawan lainnya. Apakah nama “Boi” berasal dari “Boy” ataupun “Boyo”, saya tidak tahu. Tapi saya tetap memanggilnya “Dodo” sebab ini berkaitan dengan sejarah, terlepas dari ungkapan klasik William Shakespeare, “What’s the mean of name?”.

Selain itu, saya lupa tahun berapa (mungkin 2000 atau 2001) dia menyeberang dari Palembang ke Bangka. Eclid pun ikut rombongan. Saya tahu kabar itu dari adik sepupu saya yang membuka usaha kaos “Budak Bangka T-shirt” (kini sudah tutup). Dia membeli beberapa kaos kami. Kemudian saya pun mendengar kabar Dodo pernah hinggap di Balikpapan. Terus, tahun 2008 dari milis PASCAPUSGIWA saya mendapat berita bahwa dia sudah menyeberang lebih jauh. Belanda. Fiuh! Catatan perjalanan saya jelas kalah jauh dibanding Dodo. Saya hanya berputar dari Bangka, Jawa, dua kali ke Bali, satu kali ke Lombok, satu kali ke Tana Toraja, dan perjalanan hidup saya akan berhenti di Balikpapan sampai kelak berhenti total di “balik papan”.

Beropini Tentang Dodo

Sejak awal bertemu di AKSEN, saya melihat Dodo adalah seorang pembelajar yang tekun, sabar, antusias, konsekuen, konsisten, militan, tidak banyak bicara (kecuali misuh, Su), dan lapar-haus dalam menggali pengetahuan sekaligus praktik. Saya tidak pernah mendengar dia mengeluh ketika itu.

Kesukaannya membaca buku-buku bermutu (termasuk saru), menulis, berdiskusi, berdemo, berpetualang, dan menikmati-menyiasati hidup apa adanya telah membentuk dirinya semakin hebat, yang ditunjang pula oleh tingkat kecerdasan melebihi rata-rata. Dengan jiwa sosialnya yang mumpuni, dia juga mudah bergaul dengan siapa pun. Barangkali inilah modal penting baginya untuk tetap eksis melampaui generasinya.

Bertemu lagi dengan Dodo dalam sebuah hajatan di PASTI 1999 merupakan suatu bukti kepeduliannya bergaul dan berkolaborasi berdasarkan konsekuenitas dan konsistenitas bermedia yang tidak usah susah-susah diragukan lagi. Sampai meraih gelar S-1, dia tetap memantau perjalanan PASTI. Selain itu, dia pun berusaha keras menulis puisi lalu dikumpulkannya, tapi sayangnya saya tidak memiliki satu pun karya-karya sastranya.

Apakah ada perilaku Dodo yang tidak lazim, tidak umum? Ow, jelas ada. Tapi ingat, ini menurut versi subyektif bin naïf saya lho ya.

Pertama, ya ketika kami masih di AKSEN. Dia yang lugu, sering nyengir kuda, sedikit melontarkan guyonan, mandi urusan nanti, rambut kian gondrong, ketawa kian tidak terarah, tapi kemudian tampil garang bahkan mogok makan (ini sih kayaknya sudah biasa jika kiriman duit telat ataupun kurang) pada saat berdemo. Perangai yang kontradiktif tersebut saya sebut tidak lazim karena, maaf berlaksa-laksa, saya kerepotan mencari kata-kata yang tepat untuk menuliskan detail-detailnya.

Kedua, kegemarannya tidur di mana pun. Mungkin ini salah satu karakter aktivis yang militant, “Masa perjuangan. Jangan sampai tidur di rumah menjadi alasan untuk tidak siaga I.”. Waktu nimbrung di AKSEN (karena terhipnotis atau kerasukan game poker “ler” itukah?), dia lebih sering tidur di basement. Kalau pun dia pergi selain berburu berita, paling-paling kuliah. Setelah proyek AKSEN usai, dia pindah tempat tidur, di kontrakan Edwin.

Ketiga, sebuah atraksi usai menggondol gelar S-1 di kampus. Saya tidak mengingat detailnya, kecuali ketidaklazimannya itu. Juga siapa pendampingnya sewaktu wisuda, saya sudah lupa. Yang saya ingat, dia membawa kue bolu yang lezat (rasa lezatnya lazim kok) ke sekretariat PASTI.

Keempat, lagi-lagi tidur di mana pun. Usai wisuda, dia masih suka tidur di Pusgiwa. Kemudian dia mendapat panggilan kerja di Radio Atmajaya (kini Sonora) Palembang, tapi ketika berkunjung ke Jogja dia memilih tidur di sekretariat PASTI yang sama sekali tidak memiliki fasilitas hotel bahkan kelas melati sekalipun. Barangkali idealisme dan semangat militansinya masih berkobar-kobar.

Dan seterusnya, yang mungkin bisa kawan-kawan lanjutkan.

Pada intinya idealisme, militansi, kerja keras, sabar, dan sosialitas seorang Yohanes Widodo ternyata ada yang membekas pada jejak persahabatan kami. Kalau nekat saya bandingkan dengan Eclid (blasteran Kupang-Cina), jelas kontradiktif, meski keduanya sama-sama cerdas, idealis, pekerja keras, tangguh, tekun, dan adventuris. Ini menurut pengamatan subyektif saya lho ya. Kontradiksi keduanya nyata dalam sikap, perilaku dan perikata.

Menurut saya, Dodo lebih tenang, kalem, mendahulukan pengamatan sebelum bereaksi, lantas menanggapi sesuatu yang sederhana masih agak konvensional. Tipikal Jawa, jika saya menilai dari sisi feodal-etnis. Sementara Eclid cenderung reaktif, ekspresif, dan temperamental, juga mahir merangkai kata-kata menjadi diksi-diksi unik-menggelitik yang membuat saya terkagum-kagum. Perbedaan karakter antara Dodo dan Eclid tentunya manusiawi sekali, dan keunggulan masing-masing pun bersifat relatif-kontempelatif.. Namun kedua makhluk ajaib ini memiliki kepribadian unik yang hingga hari ini tetap asyik untuk disahabati.

Begitulah seupil pengetahuan serta pengalaman saya mengenai sebagian proses kreatif seorang Dodo dalam berkomunikasi massa, baik dalam lingkup literal maupun aktualisasi faktual. Barangkali pula begitulah hal-hal positif dan natural yang dengan sungguh amat terpaksa saya apresiasikan secara subyektif bin naïf tadi, kendati sebatas kulit. Sementara hal-hal yang kurang berkenan dari diri Dodo bagi saya atau kawan-kawan pun sah-sah saja dikategorikan natural-manusiawi seperti Serius Band bilang, “Dodo juga manusia!” Tiada gading yang tak retak, tiada bhiksu yang tak botak. Bukankah hidup itu proses, seperti ulat yang kelak akan jadi kupu-kupu, sebuah hal yang tak mudah berubah jadi indah?

*******
Gang Jablay Jakarta Barat, Februari 2009

========================================
Kepompong

Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin ku terlalu bertingkah kejauhan
Mungkin itu karna kusayang

Refrain:
Persahabatan bagi kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Mau berteman hadapi perbedaan

Semua yang berlalu
Biarlah berlalu
Seperti hangatnya mentari

Malam berganti siang
Sembunyikan sinarnya
Hingga dia bersinar lagi

Dulu kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin ku terlalu bertingkah kejauhan
Mungkin itu karna kusayang

==============

Tentang penulis: Agustinus Wahyono alias Yono atau Noy adalah alumni Arsitektur UAJY dengan Nomor Induk Anggota Kamajaya: A/18453/P.II/I/TH-2005, MMT SIGMA, AKSEN, dan PASTI. Lahir dan puber di kampung Sri Pemandang Pucuk, Sungailiat, Bangka (Bangka Belitung). SD-SMP di Maria Goretti Sungailiat, SMA di BOPKRI II (BODA alias de Betesd) Yogyakarta. Pernah bekerja sebagai arsitek dan pelaksana proyek bangunan di Jakarta, dan terkadang nimbrung jadi redaktur di Majalah Sastra IMAJIO. Dalam tulisan-tulisan di beberapa milis internet menggunakan nama “saya bukan siapa-siapa”, meski dalam KTP tertulis “Pekerjaan : SENIMAN”. Sekarang menganggur sambil merancang rumah seorang adik sepupu di Condet Jaktim, menunggu sebuah lowongan kerja di Balikpapan, Kaltim. E-mail : [email protected]

5 Comment(s)

  1. saya pernah ingat waktu mas Dodo mogok makan di kampus Universitas SAnata Dharma….tapi habis itu lupa kelanjutannya gimana ya?

    hari | Feb 16, 2009 | Reply

  2. edwin adreson skrg dmn?

    hundred | Apr 4, 2009 | Reply

  3. masboy, nhoy update dong tulisannya…….kan banyak cerita yang belum ditulis…..

    bra36 | Aug 16, 2009 | Reply

  4. do’mas boi’do, bung noy, bra, jos, etc banyak yang tak tersebut aku kangen kalian….

    Ada IDE untuk reuni…..I love you Full

    edwin | Oct 4, 2009 | Reply

  5. saya ingat maryadi yang dari pasti datang pelatihan isai di Jakarta? :D

    anatoly | Mar 21, 2011 | Reply

Post a Comment