Wong Ndeso Nggondol Emesceh

PhotobucketPuji Tuhan!

Satu tahap perjuangan telah selesai saya lalui. Sepuluh hari setelah presentasi tesis (21/08/2009) berjudul “Internet for participatory democracy: the experience of Indonesian NGOs to develop participatory democracy by the use of the Internet”, Senin (31/08/2009) lalu saya menjalani ujian ‘pembantaian’ thesis di depan Rico Lie dan Freerk van Wiersum (supervisor) dan serta Margiet van Wiessel (penguji). Selama satu jam saya ditanyai, didebat, dan mesti mempertahankan argumentasi saya di depan mereka. Hasilnya: saya dinyatakan lulus. Rasanya enteng dan plong meski nilai saya pas-pasan :p

Margit, si penguji mengatakan, topik saya menarik. Saya juga bisa mendeskripsikan dan mendefinisikan apa yang dimaksud dengan ‘participation’. Namun supervisor saya menlai saya kurang bisa memaksimalkan data-data yang saya peroleh. Di bagian reflection, analisis saya dinilai dangkal dan tidak bisa melakukan analisis ‘beyond’ tesis saya. Saya tidak bisa melihat dan menerapkan dalam konteks yang lebih luas.

Ya, what ever-lah! Saya tidak terlalu memikirkan nilai. Terserah saya mau dapat nilai berapa. Yang penting saya selesai dan beban ini bisa lepas. Satu perjalanan panjang, karena hampir satu tahun saya berjibaku dengan makluk berinisial “T” itu.

Sejak bulan Oktober 2008 saya mulai nulis proposal, dilanjutkan dengan presentasi proposal (6/11/2008). Selesai presentasi, saya diminta mengubah atau mengganti topik atau judul tesis (sebelumnya, saya ingin meneliti tentang ‘Internet and environmental governance’, diminta mengubah menjadi ‘Internet and participatory democracy’.

Tanpa bekal apa-apa, karena tiket sudah di tangan, saya terbang ke Indonesia (9/11/2008) dan sempat agak heboh karena ketinggalan pesawat di Frankfurt. Di Indonesia, saya terkendala dengan ketidaksiapan konsep dan teori yang harus saya pakai untuk mencari dan mengumpulkan data.

Saya tidak terlalu memikirkan nilai. Saya bersyukur bahwa saya bisa menyelesaikan tesis saya. Dengan segala keterbatasan, dengan kondisi otak yang sudah mulai menumpul karena delapan tahun tidak lagi ‘makan sekolahan’ saya harus mengalami jatuh bangun.

Bulan Maret 2009, saya pernah down. Setelah tiga bulan di Indonesia tanpa bekal teori dan konsep, saya harus struggle untuk menyusun proposal baru. Untuk membangun conceptual framework saya mengumpulkan tulisan-tulisan tentang participatory democracy.

Dua supervisor saya mengatakan tulisan saya tidak layak. Writing skills saya jeblok. Bahasa Inggris saya kacau. “I give you four days to improve your four pages. If you can not improve it, I will tell the department that you are failed,” ancam mereka. Deg! Aneka perasaan membuncah: mangkel, putus asa, marah. Rasanya ingin menangis. Keluar dari ruangan Rico Lie, langkah saya gontai, lemas. “Saya sudah berusaha maksimal, tapi kenapa usaha saya tidak ada artinya?” batin saya.

Perlakuan dan kata-kata dua supervisor saya itu membangkitkan perlawanan dalam hati saya. Saya harus buktikan bahwa saya bisa. Saya cari materi-materi tentang Writing Skills. Empat hari penuh, saya berusaha menulis ulang, untuk memenuhi harapan mereka. Saya ingin membalik omongan mereka. Ketika tulisan berikutnya saya submit, mereka puas dan ‘you make a progress!’

Di sela-sela beragam aktivitas: Radio PPI Dunia, PPI Belanda, jalan-jalan ke Paris, nyanyi-nyanyi, dan lain-lain, akhirnya tesis saya nyatakan selesai (meski setelah saya baca-baca ulang banyak hal dan ide baru yang perlu di-improve).

Dengan selesainya tesis, selesai sudah perjuangan saya sebagai ‘wong ndeso’ putra transmigran untuk menggondol gelar Master of Science (emesceh) jurusan Applied Communication Science di Wageningen University: 1 September 2008 – 1 September 2009 (dua tahun persis). Tepat waktu, kan :p

Kini saya tinggal menghitung hari dan jam untuk pulang ke Indonesia, Senin (14/09/2009). Kini kesempatan saya merayakan Lebaran di Indonesia – tidak lagi menjadi Bang Toyib.

Matur nuwun, Gusti!

9 Comment(s)

  1. Wah congratz mas, smg ilmunya nanti bs diaplikasikan di negeri sendiri :)

    Au' | Sep 8, 2009 | Reply

  2. Selamat boss ! =)

    agung | Sep 10, 2009 | Reply

  3. selamat masboi!!!! sebuah pencapaian yang membanggakan! apalagi di tengah kegiatan sbg ketua ppi, penyanyi, tukang jalan2, dll :) ) saludos!!!

    p.s. tenang aja, kagak ada yang bakalan tanya nilai koq :p

    mer | Sep 10, 2009 | Reply

  4. waduh terharu bacanya..selamat ya mas booiii..hehehe

    galih dhika | Sep 11, 2009 | Reply

  5. Wouhhh,,,luar biasa mas boy perjuangannya. Semoga sukses dalam menerapkan ilmu yg telah didapat dan senantiasa eksis. karena Tuhan selalu menyertai dalam segala aktifitasnya.
    Sekali lagi proficiat mas Boy.

    pak Jose | Sep 14, 2009 | Reply

  6. congrat mas Boi….

    itikkecil | Sep 16, 2009 | Reply

  7. wah……. selamat ya mas…… sori aku telat ngucapinnya. sekali lagi selamat ya dengan gelar emesceh-nya.

    arie | Sep 22, 2009 | Reply

  8. Selamat ya mas….

    Sukses elalu di segala bidang.

    Abdee Geboy | Oct 14, 2009 | Reply

  9. terima kasih atas tutur kisahnya, Do. Penuh dengan usaha keras. Jauh dari gayamu waktu SMA di bangau dulu, santai, nggak ada usaha hehehehehehehe. Pengalaman di negeri kompeni semoga saja bisa menjadi modal dasar berjuang di negeri sendiri.

    eko napitupulu | Nov 2, 2009 | Reply

Post a Comment