Pulang ke Rahim ‘Ibu yang Baik’

Saya membuka 2010 dengan lembaran baru.

Sejak 4 Januari 2010 ini saya pulang ke rahim ‘Ibu yang baik’, alma mater Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Saya bergabung sebagai guru bidang Jurnalisme pada program studi Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Saya ‘pulang’, karena sebelumnya, tahun 1993-1999 saya juga berada di sana, sebagai mahasiswa. Sejak berdiri tahun 1991 hingga kini, baru dua orang alumni yang menjadi guru tetap: Melani Yo, angkatan 1996 (masuk sekitar tahun 2000) dan saya (masuk tahun 2010).

Setelah dua tahun nyantrik di Wageningen University, Belanda dan berhasil menggondol gelar MSc saya putuskan untuk banting setir. Sejak lulus sarjana tahun 1999 saya bekerja sebagai praktisi media radio di Radio Sonora Palembang. Pertimbangannya, jika saya kembali ke radio, ‘ilmu’ yang saya peroleh relatif tidak terpakai. Selain itu, saya ingin menemukan suasana dan tantangan baru.

Kenapa saya berminat menjadi guru? Sejak awal, dunia media dan dunia akademik menarik perhatian saya. Sejak lulus kuliah, saya bekerja di radio. Saya cukup menikmatinya, meski pada satu titik saya mengalami kejenuhan. Karena itu, niat untuk bisa kuliah keluar negeri untuk ‘refreshing’ selain untuk meningkatkan posisi tawar. Akhikrnya saya terdampar dua tahun di Belanda.

Saya juga menyukai dunia akademik. Mengajar telah saya jalani sejak kuliah. Waktu itu saya sempat mengajar ekstra kurikuler jurnalistik di SMA Van Lith, Muntilan bareng Dominggus Elcid. Setiap akhir pekan saya membonceng motor GL tua milik Elcid Jogja-Muntilan. Mengasyikkan, meskipun tanpa dibayar! Ketika di Palembang, saya juga sempat mengajar ekstra kurikuler broadcasting di SMA Kusuma Bangsa dan pernah mengajar selama satu semester di STIE Musi Palembang.

Karena itu, sebelum lulus dari Belanda, saya memutuskan untuk berkarya di dunia akademis. Sebelumnya saya sempat ditawari mengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) oleh Prof Yohanes Surya, ketika bertemu di Belanda. Namun, setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya pilih ke Jogja. Pertama, hidup di Jogja lebih nyaman bagi saya. Kedua, saya lebih tahu dan kenal Atma Jaya, sehingga saya bisa dengan cepat menyesuaikan diri.

Cita-cita saya ingin memperkuat jajaran Ilmu Komunikasi, dengan bekal pengalaman dan skill yang saya miliki. Menurut pengalaman saya, Ilmu Komunikasi adalah gabungan antara teori dan praktik. Saya ingin agar mahasiswa belajar tentang teori dan memahami praktik dan realitas dunia kerja yang sebenarnya.

Kini saya sudah mulai terlibat dalam aktivitas akademik: menjadi dosen menguji KKL dan skripsi, mendampingi KRS, serta mengikuti beberapa seminar. Mulai 25 Januari 2010, saya ‘dicangkokkan’ untuk mengajar Jurnalisme Online, Manajemen Media Penyiaran, dan Filsafat dan Etika Komunikasi.

Sebagai guru baru, saya mulai terbiasa dengan panggilan ‘Pak’ meskipun itu adalah panggilan yang cenderung saya hindari. Saya lebih senang dipanggil Mas, lengkapnya Masboi. Rasanya lebih egaliter dan muda terus :p Mungkin nanti ada yang menyapa saya: Pak Masboi, hehehe…

3 Comment(s)

  1. lebih ‘menggelikan’ ada sapaan kepada Pak Gus Dur :mrgreen:

    saya sempat bercita-cita akan kembali ke almamater saya dan berbagi ilmu dengan adik2 kelas. tapi, karena sudah ketentuan dan peraturan dari pusat yang mengharuskan dosen (guru yang dimaksud Masboi,red) bergelar S2 (linier dengan S1).

    mudah-mudahan kelak saya bisa kuliah S2 seperti Masboi dulu di Negeri Kincir Angin itu :)

    salam akademik,
    Eriek

    Eriek | Jan 20, 2010 | Reply

  2. wah mantap tu mas pengalamnannya banyak,,
    boleh la bagi2 cerita gemana caranya bisa pergi ke belanda,,heheh

    mas agus | Jan 26, 2010 | Reply

  3. Wah, selamat mengajar Mas. Kembali lagi ke Atma, kembali lagi ke Jogja. Salam untuk semua di sana…

    Abak | Feb 6, 2010 | Reply

Post a Comment