Foto di Ijazah SD Itu

Pengalaman ijasah S1-ku yang basah dan ‘rusak’ terkena tetesan air hujan, mendorongku untuk memindai dokumen-dokumen penting, terutama SD hingga S2. Mestinya versi digital lebih aman. Ketika dokumen-dokumen itu hilang atau rusak, masih ada salinannya.

Saat membongkar rapor dan ijasah SD, aku bisa melihat wajah masa kecilku. Aku baru sadar bahwa aku tidak punya foto masa kecil!

Fotoku paling kecil adal di rapor SD kelas 1. Sayangnya foto itu sudah rusak dimakan rayap. Yang masih tersisa adalah foto ijasah kelas 6 SD. Foto tersebut diambil tahun 1986, menjelang lulus. Selain foto itu, aku tidak punya foto masa kecil. Ketika kecil aku hanya difoto untuk keperluan rapor dan ijazah.

Orang tuaku mungkin tidak pernah terpikir untuk berfoto ria. Aku sempat melihat satu foto buah keluarga, di pasang di rumah, ketika aku berumur sekitar tiga tahun. Namun, setelah orang tuaku hijrah ke daerah transmigrasi, foto itu lenyap entah kemana.

Bisa jadi ketika itu, foto menjadi barang mewah. Untuk bisa foto, kita harus ada momen khusus, antara lain mengurus KTP, keperluan rapor atau ijazah sekolah. Setahuku, di desaku tidak ada yang punya kamera. Kami harus menunggu tukang foto keliling atau datang ke studio foto di kecamatan.

Karena jarang difoto, maka foto-foto lama saya cenderung kaku seperti kayu. Tidak bakat untuk narsis! Beda dengan generasi sekarang. Sejak kecil sering difoto, sehingga ketika difoto bisa bergaya dan ekspresif: bibir monyong, lidah melet, wajah miring dan lain-lain. Kalau generasi saya difoto, biasanya kaku dan tanpa ekspresi.

Soal foto itu memberikan gambaran bagaimana saat itu, orang tuaku kurang menaruh perhatian atau menyepelekan masalah dokumen. Maka ketika kutanyakan tanggal lahir mereka, mereka hanya menjawab tahunnya. Tanggal dan bulannya tidak tahu.

Ini berimbas ke tanggal lahirku: aku punya dua tanggal lahir yang berbeda. Kok bisa dua? Ceritanya, bulan Juli 1980 aku ingin sekolah, karena semua teman-temanku sudah masuk sekolah. Langsung ke SD, karena waktu itu di desaku tidak ada TK. Padahal umurku waktu itu belum genap enam tahun.

Lalu bapak ‘menitipkan’ aku sekolah, dan supaya bisa sekolah tanggal lahirku dituakan: 15 Juli 1974. Hingga kelas enam SD menjelang kelulusan, aku tahunya itulah tanggal lahirku, dan kemudian ditulis di ijazah. Ketika SMP aku meminta surat babtis, disitu tertulis tanggal lahirku 19 Februari 1975. Dan aku baru tahu, itulah tanggal lahirku.

Sejak kecil hingga remaja, aku tidak pernah ‘merayakan’ ulang tahun. Pernah dirayakan ketika sekolah SMA di asrama: aku diangkat dan diceburin ke kolam atau diguyur air cuci tangan di ruang makan. Ketika kuliah, tradisi cebur kola mini sempat kutularkan. Jika ada teman ulang tahun dikejar-kejar, diikat, dan diceburin ke kolam. Untungnya, ketika mereka mau balas dendam saya selalu selamat. Pernah tahun 1999, ketika ulanag tahun, saya bersembunyi di atas genting ruang Pusgiwa, dan teman-teman yang ingin menangkapku tidak berhasil menemukannya.

Makanya karena tidak terbiasa dirayakan, saya malah sering bingung ketika berulang tahun. Ketika orang mengucapkan ulang tahun pun, kadang rasanya gimanaaaa gituu…

***

Ceritanya hari ini saya ulang tahun ke-35, tanpa perayaan. Setelah jam 00 dini hari si Gindul, bojo saya, membangunkan saya dan mengucapkan selamat ulang tahun. Dia juga mengirim sms begini:

“Selamat ulang tahun mamasku tercinta, calon ayah tersayang. Semoga senantiasa sehat, selalu dalam lindungan Tuhan, semakin bijaksana, dapat menjadi ayah yang top buat anak kita, dan semakin sayang dengan aku, hehe… Ingin rasanya bisa disamping mamas saat ini untuk mengucapkan selamat ulang tahun langsung pada mamas, berharap diberi kesempatan oleh Tuhan agar dapat memberikan kado paling indah buat mamas. 35 tahun umur mamas sekarang. Kata Mbah Lincoln: And in the end, it is not the year in your life that count but it is the life in your years.”

Sudah tua? Mungkin. Tapi tampaknya casing saya masih muda, kok. Contohnya, akhir Januari lalu, ketika ada pertemuan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang mengundang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan Asisten Dosen Pembimbing Lapangan (ADPL) saya datang pertama ke ruangan kelas tempat pertemuan tersebut.

Ada seorang mahasiswa (ADPL) masuk ke ruangan. “Mas kuliahnya pindah ke ruangan lain. Ruangan ini mau dipakai pertemuan KKN,” ujar mahasiswa itu. “Saya DPL, Mas. Saya tahu kalau pertemuannya di sini,” jawab saya. “Oh, maaf Pak. Saya kira mahasiswa,” ujar mahasiswa itu tersipu malu.

Kalau tahun lalu ketika, ulang tahun di Belanda, saya make a wish: selesai tesis dan lulus es dua, dan bisa mengajak bojo saya ke Belanda. Hari ini make a wish saya: Anjalie, anak saya bisa lahir dengan selamat. Bojo saya saat ini sedang hamil tua. Dokter bilang, anak saya akan lahir 27 Februari 2010. Setelah itu, lengkap sudah: punya isteri, dan menjadi ayah!

Sambil harap-harap cemas menunggu kelahiran Anjalie, saya membayangkan ada puteri kecil berbisik di telinga saya: “Selamat ulang tahun, ayah! “ Ah, indahnya menjadi ayah :p

Selamat ulang tahun, Ayah Masboi!

3 Comment(s)

  1. Selamat Ulang Tahun Masboi :-)
    Semoga semua prosesnya lancar.

    alam | Feb 19, 2010 | Reply

  2. fotonya g kaku kok, senyumnya tu lho :D
    ========================================
    Tertarik tentang SQA masuk sini http://sqaindonesi.wordpress.com

    sqa indonesia | Mar 3, 2010 | Reply

  3. Ass…saya sangat tertarik membaca pengalaman Bapak, yang saat ini menjadi seorang Dosen dan alumni dari luar negeri. Olehnya itu saya dari Sulsel pingin bertanya kepada Bapak bagaimana caranya untuk mendaftar keluar negeri dengan melalui jalur beasiswa IIEF, dan kuharap keihlasan dari Bapak supaya dapat membimbing saya semoga saya juga bisa mengikuti jejak Bapak dan khusunya bagaimana belajar dengan baik demi memperluas wawasan. was…

    Abd. Kahar | Apr 1, 2010 | Reply

Post a Comment