Kobarkan Api Semangat JONG Indonesia

Penerbitan JONG Indonesia edisi kedua ini patut diberi jempol: like this! Kenapa? Berdasarkan pengalaman, lebih sulit mempertahankan atau menghidupkan sebuah penerbitan mahasiswa, dibandingkan ketika melahirkannya! Bikinnya gampang, tapi melanjutkannya yang susah! Sudah menjadi rahasia umum, rata-rata penerbitan mahasiswa punya motto: “Sekali berarti, sesudah itu mati!” Sekali terbit, setelah itu lenyap.

JONG Indonesia terbit di tengah segala kesibukan kuliah dan aktivitas, tapi juga pragmatisme, dan keengganan mahasiswa untuk terlibat dalam kerja-kerja intelektual, JONG Indonesia berhasil menerbitkan edisi ini. Sekali lagi, jempol untuk teman-teman redaksi.

Sebagai seorang yang membidani kelahiran JONG Indonesia, saya bangga bahwa api-semangat JONG Indonesia tetap menyala dan terjaga. Meski saat ini saya ‘melarikan diri’ ke Jogja – karena status saya yang bukan pelajar lagi – namun, teman-teman redaksi mampu melanjutkannya, bahkan dengan kualitas yang lebih baik.

Lebih dari itu, kita harus bangga karena di negeri Belanda inilah, beberapa tokoh the founding fathers republik dimotori oleh Hatta dan Syahrir dalam usia yang lebih muda dari kebanyakan kita, pernah hidup, belajar, dan melakukan apa yang sekarang kita lakukan. Selain berjuang lewat pergerakan organisasi Perhimpoenan Indonesia (PI), mereka mengobarkan api semangat lewat media.

Sejarah mencatat bahwa Perhimpoenan Indonesia bukan sekedar ‘perkumpulan pelajar Indonesia di luar negeri’. Perhimpoenan Indonesia adalah wadah bagi gagasan dan perjuangan untuk gagasan ke-Indonesian yang progresif. Dalam dapur Perhimpoenan Indonesia untuk pertama kalinya nama Indonesia (yang sebelumnya hanya bermakna geografis) diperkenalkan sebagai sebuah gagasan progresif yang mesti diperjuangkan secara politik.

Kita tidak boleh lupa, bahwa Indonesia sesungguhnya sebuah gagasan “anak muda”. Belajar dari peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, waktu itu, dengan segala keterbatasannya baik dari persoalan transportasi dan komunikasi, para pemuda mampu menemukan titik-titik simpul persaudaraan Indonesia. Mengapa kini sebaliknya, dengan terbukanya akses, perkembangan alat transportasi dan komunikasi, mengapa malah sebaliknya cita-cita Indonesia kurang dipupuk kembali?

Pemuda Pelajar Indonesia harus menjadi yang terdepan dalam menjaga agar ia tetap dalam definisi progresif anak-anak muda dan memastikan bahwa Indonesia sebagai gagasan senantiasa berjalan dalam koridor progresivitas sebagaimana ia dicitakan.

Mungkin saya terlalu romantik dan menyamakan dua kondisi yang berbeda antara dahulu dan kini; tetapi riil bahwa ketika kita menggunakan nama Perhimpunan Pelajar Indonesia , disitu kita berbicara tentang aktualitas dan kesamaan konteks kesejarahan yang khas: Perhimpoenan Indonesia dan Perhimpunan Pelajar Indonesia.

Pada periode Hatta, aneka persoalan yang membelit negeri ini sudah sampai pada titik di mana kaum muda dituntut hadir dalam gagasan-gagasan yang progresif. Bagaimana dengan periode kita? Tahun 1998 kita punya reformasi, tapi di hadapan aneka korupsi, kemiskinan dan salah urus dan kejumudan Indonesia, reformasi seperti kehilangan taji. Pada saat yang sama, semakin banyak elemen kini mengalami moderasi ide-ide progresif reformasi. Pembicaran mengenai reformasi mengalami lesu darah!

Kita menyadari bahwa kebobrokan keindonesiaan menjadi sebuah beban yang terasa dalam keseharian kita. Karena itu kita perlu membangkitkan perhatian, tekad dan semangat untuk mengawali sebuah gerakan kesadaran yang progresif. Kita adalah orang-orang muda yang terdidik dan memiliki kapasitas intelektual, yang diberi kesempatan untuk belajar dan berkembang, harus menjadi lokomotif bagi kembalinya perjuangan gagasan-gagasan progresif keIndonesiaan.

Kita semua adalah pemimpin dan calon-calon pemimpin. Pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya muda dari segi usia melainkan senantiasa muda dalam gagasan dan idealismenya. Kemudaan dan progresivitas semangat merupakan karakter dari perhimpoenan.

Sebuah kemudaan yang melahirkan semangat yang tidak puas pada gagasan-gagasan yang konvensional dan ala kadar-nya. Sebuah kemudaan yang akan membawa kembali gagasan-gagasan progresif keIndonesiaan dan gagasan intelektual.

Di Belanda, kita yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia, dengan latar belakang, pemikiran, dan ide yang beragam namun diberi kesempatan bertemu, berkumpul, bersama-sama berpikir dan berefleksi untuk menjadikan Indonesia lebih baik.

Pada kesempatan ini saya ingin mengajak kawan-kawan pemuda pelajar Indonesia di luar negeri untuk mengelaborasi pemikiran dan gagasan kita tentang Indonesia yang kita cita-citakan. Bersama JONG Indonesia, kita menggodok diri, bergulat dan berproses bersama untuk memberikan kontribusi sebesar-besarnya kepada bangsa dan negara. Kobarkan api semangat JONG Indonesia!

Yohanes ’Masboi’ Widodo

Pemimpin Umum/Sekjen PPI Belanda 2008-2009

2 Comment(s)

  1. selamat telah diterbitkannya “JONG Indonesia”. semoga tetap eksis.

    hidup pers mahasiswa!!

    Eriek | Feb 10, 2010 | Reply

  2. keren… salute… Semangat terus mas
    Hidup Pers !!! Selamat Hari Pers Nasional

    suzan | Feb 10, 2010 | Reply

Post a Comment