Wajah Pluralisme di Televisi Kita

Oleh Yohanes Widodo

pluralismSetiap bulan Ramadhan, televisi di Indonesia berlomba menayangkan  program-program keagamaan (religi). Sayangnya, program-program yang ditayangkan cenderung seragam dan itu-itu saja. Sebagian besar masih mengandalkan tayangan komedi, kuis interaktif, ceramah agama, dan sinetron Ramadhan. Hampir tidak ada program hadir dengan pendekatan dan kreativitas baru.

Program religi mendominasi acara menjelang dan waktu berbuka puasa dan sahur. Namun para pengelola televisi seolah lupa, Indonesia adalah negara majemuk, baik dalam ranah etnik, budaya, agama, suku, dan keragaman sosial lainnya sehingga the founding fathers meletakkan dasar-dasar kehidupan bangsa yang menghargai dan menjunjung tinggi perbedaan dan pluralisme lewat semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan dasar negara Pancasila.

Pluralisme dan Toleransi

Pluralisme merupakan tema yang dinamis, kontekstual dan selalu aktual. Pluralisme perlu selalu dibicarakan karena  pluralisme penting untuk peradaban. Peradaban tanpa pluralisme adalah mustahil (Budhy Munawar-Rahman, 2003). Pluralisme yang ada di Indonesia mudah disadari oleh masyarakat. Namun, kesadaran ini baru sebatas pengakuan dan belum tampak kesadaran dalam realitas sesungguhnya. Di satu sisi kelompok mengakui dan menghormati hak kelompok di luar dirinya, namun di sisi lain belum mengakui adanya kelompok lainnya. Sehingga yang terjadi adalah saling tarik ulur berbagai kepentingan dan mengklaim bahwa dirinya yang paling benar (truth claim).

Diana L. Eck, Direktur The Pluralism Project di Universitas Harvard, Amerika Serikat (http://www.pluralism.org) mengatakan, pluralisme tidak hanya berarti keberagaman tetapi keterlibatan yang hidup. Menurut Diana, perbedaan agama merupakan sesuatu yang ‘given’, namun pluralisme bukanlah ‘given’ melainkan ‘achievement’. Keragaman tanpa upaya dan relasi yang nyata akan menghasilkan konflik yang meninggi di masyarakat.

Orang sering mengaitkan pluralisme dengan toleransi, namun menurut Diana, pluralisme bukan sekadar toleransi tetapi upaya aktif untuk memahami perbedaan. Toleransi harus muncul dari pihak yang kuat posisinya/berkuasa/mayoritas, bukan sebaliknya. Pluralisme berarti menjaga komitmen. Meski berbeda agama, namun tidak saling mengisolasi tetapi menjaga hubungan satu sama lain. Pluralisme didasarkan pada dialog (berbicara dan mendengarkan) untuk membuka pemahaman bersama. Dialog tidak berarti setiap orang di ‘meja’ setuju dengan yang lain, namun pluralisme melibatkan komitmen untuk berada satu meja, dengan komitmen bersama.

Pluralisme Media

Demokrasi salah satunya mensyaratkan pluralisme media, meliputi keberagaman kepemilikan (diversity of ownership) dan keberagaman isi media (diversity of content). Realitas kepemilikan televisi yang kian mengerucut berpengaruh terhadap keragaman konten/tayangan televise dan seberapa jauh televise bisa menjunjung pluralism dengan member ruang yang sama bagi kelompok-kelompok di masyarakat.

Pada tingkatan tertentu televisi tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat karena keterbatasan space, kepentingan industri dan bisnis. Nuansa bisnis membuat elemen idealisme tidak mendapat tempat.  Program diproduksi dengan klaim: Inilah yang menurut kami (pemilik modal) dianggap penting bagi audiens. Semakin tingginya tingkat ketergantungan terhadap pemasukan iklan membuat kategori program yang menarik lebih ditentukan pada sejauh mana program tersebut memancing pendapatan iklan.

Dampak yang kelihatan adalah program/tayangan yang seragam. Dengan pertimbangan komersial, televisi menayangkan atau menyajikan content yang seragam. Hal itu terjadi karena pengelola televisi cenderung latah melihat keberhasilan suatu acara kemudian diikuti dan ditiru. Hal yang sama dilakukan pengelola televisi di bulan Ramadhan dengan menghadirkan tayangan-tayangan yang seragam. Ini merupakan bentuk konformitas, yakni kesamaan dalam mengunggulkan acara-acara yang diperkirakan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menonton acara tersebut (Danang Sangga Buwana, 2009). Pertimbangan utama adalah uang: keberhasilan suatu acara akan memberi keuntungan besar kepada pengelola acara televisi.

Ramadhan merupakan peluang dan momen yang menggiurkan bagi televisi untuk mengisi pundi-pundi uang mereka. Hasil penelitian Nielsen tahun 2009 menunjukkan bahwa penonton televisi selama bulan Ramadhan meningkat sekitar 15 persen dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Sebanyak 5,4 juta orang menonton televisi pagi hari atau lebih tinggi sembilan kali dari hari biasa. Jumlah ini meningkat 18 persen atau 9 juta orang pada waktu berbuka (Kompas.com, 12/08/2010). Ini mendorong beberapa stasiun berlomba-lomba membuat tayangan bernuansa religi, tanpa mempertimbangkan pluralisme masyarakat Indonesia.

Pluralisme di Televisi

Maraknya program-program religi tentu sah-sah saja, apalagi dalam rangka mengapresiasi dan menyemarakkan Ramadhan. Persoalannya, dengan marak dan dominannya siaran bernuansa religi di bulan Ramadhan, apakah tersedia alternatif bagi saudara-saudara non-Muslim? Apakah mereka juga diberi ruang dan perlakuan yang sama?

Dominasi tayangan religi di televisi tidak sejalan dengan prinsip-prinsip keberagaman isi (diversity of content) siaran. Undang-Undang Penyiaran No. 32/2002 mengisyaratkan bahwa frekwensi yang digunakan oleh televisi/radio adalah ranah publik dan merupakan sumber daya terbatas. Karena itu, semestinya media televisi yang melakukan siaran secara nasional tidak boleh memonopoli mata-mata acara penyiarannya untuk satu atau dua kelompok masyarakat.

Hal ini sesuai dengan pasal 36 Undang-Undang Penyiaran No. 32/2002 yang menyatakan: “Isi siaran wajib dijaga netralitasnya dan tidak boleh mengutamakan kepentingan golongan tertentu.” Ketika media dimonopoli dan tidak menghargai realitas kemajemukan di masyarakat, bisa dikatakan bahwa hal ini melanggar ketentuan frekwensi yang digunakan oleh televisi/radio sebagai ranah publik, yang tidak boleh dimonopoli.

Pembatasan siaran keagamaan di televisi/radio dilakukan di beberapa negara, seperti di Inggris dan Amerika Serikat.  Undang-Undang Penyiaran di Inggris melarang organisasi keagamaan untuk bersiaran secara nasional. Beberapa stasiun radio keagamaan di daerah menggunakan gelombang MW (medium wave), VHF (FM), atau metode lain. Beberapa kelompok melakukan siaran secara nasional menggunakan siaran digital, televise satelit, televise kabel, atau menggunakan ijin siaran komunitas. Di Amerika Serikat, televisi Kristen biasanya melakuan siaran di gelombang UHF, dan beberapa organisasi keagamaan yang lebih kecil melalukan siaran melalui televisi kabel.

Televisi sebagai Forum Lintas Agama

Televisi di satu sisi bisa menjadi ‘laboratorium’ untuk menumbuhkan pluralisme.  Di sisi lain, media juga bisa menjadi pemantik api anti pluralisme. Karena itu, media perlu memikirkan dan menghadirkan konten berbasis pluralisme berupa tayangan yang melayani dan menghargai pluralisme pemirsanya. Setiap kelompok atau warga punya hak dan perlakuan dan perhatian yang sama (equality).

Realitanya, selalu ada upaya menjadikan tayangan televisi dalam perspektif tunggal dan melupakan pluralitas. Pluralitas harus dipelihara sebagai kekuatan bangsa dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Televisi perlu menghadirkan pluralitas Indonesia, baik suku, agama, kelompok, dan menempatkan dirinya sebagai forum lintas agama yang gencar mempromosikan wacana pluralisme, praktik toleransi, dialog antar-agama dengan perspektif perdamaian sehingga menumbukan persaudaraan sejati.

Praksis pluralisme di media bisa diwujudkan dengan mengkontekstualisakan ajaran masing-masing agama dengan mencari common ground dalam medan sosial serta melakukan dan menciptakan ruang interaksi sosial antarpemeluk agama dan kepercayaan yang berbeda-beda. Tayangan televisi berbasis pluralisme memungkinkan terjadinya pertemuan antarbudaya, antarnilai-nilai moral, baik yang berpendapat sama maupun berbeda pendapat. Setiap kelompok dan agama memiliki hak yang sama, dan media perlu menjunjung nilai-nilai penghargaan akan perbedaan.

Televisi perlu membuka ruang dialog antarumat beragama, sebagai kelanjutan dari sikap saling menghormati dan menghargai. Masyarakat perlu dibiasakan dengan siaran atau mimbar-mimbar agama model baru yang lebih terbuka, universal, peduli terhadap problem kemanusiaan dan lingkungan hidup, demi kebaikan dan kedamaian seluruh umat manusia. Salah satu manfaat forum antarumat beragama, yaitu dapat saling mengerti tradisi setiap beragama. Saling menghormati semacam itu, bisa disajikan di televisi.

Harapan bahwa tayangan televisi menjunjung moralitas dan menghargai pluralisme bisa jadi sekadar ilusi, ketika moralitas dan spiritualitas yang diusung televisi berbaur dengan nilai ekonomi. Apalagi, pada dasarnya tayangan televisi itu bersifat nonmoral (McQuail, 1996) sehingga para pekerja televisi tidak akan memikirkan akibat yang ditimbulkan oleh program yang mereka tayangkan.

Kita tunggu saja tanggung jawab moral dan kesadaran para pekerja televisi. Apakah mereka menjunjung tinggi moralitas, spiritualitas, dan spirit pluralisme atau sekadar menjadi entitas ekonomi yang bekerja karena dorongan kapital?  Dengan melihat wajah pluralisme di televisi kita, kita bisa memahami apakah fenomena tayangan Ramadhan di televisi karena meningkatnya moralitas dan spiritualitas pekerja televisi atau murni sebagai gejala pasar kapitalis yang selama ini mereka pegang sebagai prinsip secara teguh (Farid Pribadi, 2010).

Yohanes Widodo, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta, email: masboi@yahoo.com

Dimuat di Harian Bernas Jogja, Selasa 24 Agustus 2010

1 Comment(s)

  1. Saya sangat mengapresiasi tulisan pak Yohanes. Sebuah tulisan yang baik dengan niatan yang baik pula. Tetapi sederhananya, tayangan ini hanya berlangsung selama bulan ramadhan kan pak? Artinya bukan merupakan agenda utama stasiun-stasiun TV sepanjang tahun. Dalam suasana perayaan agama lain nuansa demikian pun juga sering kita temui. Selama Natal, misalnya, hingga bulan Desember – Januari acara TV banyak dihiasi perayaan ini. Berbagai film, dokumenter, acara kartun, talkshow, berita, dan entertainment banyak disiarkan yang bertemakan Natal. Sejatinya, saya melihat ini adalah sebuah bagian dari pragmatisme media menghadapi kebhinekaan Indonesia. Bagaimana menurut Bapak?

    Mardian Marsono | Sep 4, 2010 | Reply

1 Trackback(s)

  1. Dec 29, 2016: from PARA PENYEMBAH PERSEPSI | Lembar Goresan

Post a Comment