Pemuda, Simpul Pemersatu

Sejarah telah membuktikan bahwa pemuda selalu menjadi motor dan merupakan sosok yang penting dalam setiap perubahan. Di berbagai belahan dunia, kaum muda muncul sebagai kekuatan pendobrak yang melahirkan perubahan. Kaum muda merupakan sosok yang penting dalam setiap perubahan, karena kaum muda bergerak atas nilai-nilai idealisme dan moralitas dalam melihat persoalan. Mereka adalah sosok yang merindukan perubahan dan sesuatu yang baru dalam hidup ini.

Maka di negara manapun, sosok kaum muda selalu menjadi perhatian yang khusus oleh banyak kalangan. Sebab di tubuh kaum muda inilah segenap tumpuan masa depan bangsa dipertaruhkan. Orang bijak sering mengatakan, masa depan bangsa yang baik adalah masa depan yang memiliki kaum muda yang unggul, kompetitif dan baik.

Sebagai contoh kita lihat di India dan Cina. Melalui tangan Manmohan Singh, menteri keuangan India, yang menyekolahkan anak-anak muda India ke luar negeri telah mengubah wajah India saat ini. Sehingga Bangalore dan Hyderabad telah menjadi semacam technopark seperti halnya Lembah Silikon di Amerika Serikat.

Kebijakan Deng Xiao Peng untuk mengkapitalisasi perekonomian Cina, membuka kesempatan bagi pemuda-pemuda Cina untuk belajar ke luar negeri. Hasilnya, Cina menjadi raksasa ekonomi di awal abad 21 yang ditakuti oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Catatan sejarah di beberapa negara di Eropa, Amerika Latin, Afrika, dan Asia juga menunjukkan kebangkitan perlawanan rakyat berdampingan dengan kebangkitan kaum muda. Boleh dikatakan bahwa kaum mudalah sebagai sang pelopor. Dalam sejarah Indonesia, pelajar terdidik di Negeri Belanda pertama kali mencetuskan konsep nasionalisme Indonesia dalam program perjuangannya.

Gagasan progresif sejumlah pemuda Indonesia di negeri Belanda yang mendirikan Indische Party bergulir bagaikan air bah menyadarkan kelompok pemuda dan mahasiswa yang lain. Saat itu, organisasi kaum muda dan massa tumbuh bagaikan jamur di musim hujan, menyambut konsep gagasan nasionalisme Indonesia yang dilontarkan oleh kaum muda. Salah satu fase penting kebangkitan pemuda Indonesia ditandai lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Karena peran pemuda yang semakin menonjol, Benedict Anderson (1972) menyimpulkan bahwa jiwa revolusi Indonesia adalah kaum muda.

Simpul Pemersatu

Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa cita-cita Indonesia Raya harus terus diperjuangkan. Merayakan Sumpah Pemuda berarti melihat kembali semangat para pemuda dan memaknai vitalnya persaudaraan Indonesia. Tokoh-tokoh Sumpah Pemuda mampu melihat melampaui kondisi mereka situasi saat itu dengan merekomendasikan tiga simpul pemersatu: tanah air, bangsa, dan bahasa.

Persoalannya, jika dulu, dengan segala keterbatasannya baik dari persoalan transportasi dan komunikasi, para pemuda mampu menemukan titik-titik simpul persaudaraan Indonesia, mengapa kini sebaliknya? Dengan terbukanya akses, perkembangan alat transportasi dan komunikasi mengapa cita-cita Indonesia kurang dipupuk kembali? Sejauh mana para pemuda Indonesia telah mampu merumuskan simpul-simpul Indonesia? Dengan segala keterbukaan, mengapa usaha untuk saling menemukan titik-titik simpul Indonesia malah cenderung menjadi titik konflik?

Dengan segala kompleksitas persoalan Indonesia kontemporer bagaimana kreativitas pemuda Indonesia menghadapi tantangan jaman. Republik Indonesia bukanlah suatu kesalahan yang terus-menerus dikecam, tetapi sebaliknya di posisi ini pemuda dituntut untuk keluar memberikan solusi kreatif dan memimpin dialog dalam ruang-ruang yang berbeda dan dengan berbagai orang yang berbeda. Mampu melihat tantangan zaman, dan mampu memimpin dan terlibat dalam perubahan.

Sumpah adalah pelaksanaan kata-kata. Indonesia adalah perjuangan sehingga berbagai tantangan di dalamnya harus diselesaikan dengan kreatif. Berbeda itu biasa, tetapi yang luar biasa adalah bertemu dalam berbagai perbedaan. Kata kuncinya, pemuda Indonesia tetap harus kreatif dalam memberi visi memimpin bangsa Indonesia.

Tak hanya memberi visi, tetapi aksi merupakan perwujudan dari visi. Dengan segala kesulitan kita butuh visi. Dengan segala keterbukaan kita tidak harus merasa takut dan pesimis terhadap masa depan Indonesia, tetapi melihat sebagai tantangan. Di sisi ini peran pemuda adalah leader untuk mengajak semua pihak berdialog.

Kita masih punya harapan, karena sumpah adalah keyakinan. Para pemuda 1928 telah membuktikan bahwa semangat mereka kemudian berbuah pada proklamasi Indonesia tahun 1945. Tanpa keyakinan itu dan karakter visioner dari pemuda, tak ada Proklamasi.

Aktualisasi Sumpah Pemuda adalah spirit itu tetap hadir dalam konteks kekinian yang perlu dijabarkan dalam bentuk pemihakan riil terhadap rakyat. Pada waktu itu, kebanyakan hanya bermodalkan percaya pada pertemuan dan persahabatan di antara para pemuda itu sendiri. Bahkan, banyak dari mereka belum juga pernah keliling pulau-pulau di Indonesia.

Keyakinan itu nyata, lewat pengalaman pertemuan, kehadiran, perkawanan antara manusia, dan akhirnya nation itu hadir. Persahabatan dan persaudaraan para pemuda itu menjadi nyata, dan menjadi simpul Indonesia. Indonesia tidak lagi bermakna geografis. Karena, jika dilihat secara geografis, sepertinya mustahil bisa mempersatukan Indonesia. Tetapi spirit itu menjadi nyata lewat pertemuan, perkawanan. Pengalaman pertemuan, pengalaman hidup bersahabat, dan mencetuskannya dalam Sumpah Pemuda. Dalam semangat itu, kita bisa melihat apa yang telah terjadi dalam batas negara Indonesia itu.

Spirit Sumpah Pemuda harus terus digali dan dihidupi sehingga tidak menjadi sesuatu yang taken for granted. Artinya, tidak hanya menerima dan mengakui bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu. Ada persoalan yang aktual dan krusial dalam konteks kekinian yang membuat bahwa Sumpah Pemuda harus menjadi terus hidup dan dinamis.

Upaya pemaknaan baru Sumpah Pemuda dilakukan oleh generasi 1998 dengan mengumandangkan Sumpah Rakyat Indonesia: (1) Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan. (2) Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan. (3) Berbahasa satu, bahasa kebenaran. Spirit yang ingin disampaikan adalah: keindonesiaan kita tidak hanya berhenti menjadi kesatuan entitas dan identitas, tetapi ada visi yang menjadi pekerjaan rumah kita: bagaimana mewujudkan tanah air tanpa penindasan, bangsa yang mencintai keadilan, dan menjunjung bahasa kebenaran.

Perspektif Masa Depan

Bagaimana para pemuda yang hidup di jaman ini, meramu hikmat kebijaksanaan Sumpah Pemuda untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia seluas-luasnya? Sejujurnya tidak mudah menjawab tantangan itu. Sebagian besar pemuda kita, hari ini berada dalam kondisi nir-idiologi dan larut dalam arus besar konsumerisme.

Semangat untuk melakukan perubahan pertama-tama membutuhkan komitmen moral untuk senantiasa siap membela kepentingan rakyat. Kedua, sikap kritis. Ketiga, adanya wadah perjuangan bernama organisasi pemuda. Komitmen moral kita atau dalam wilayah politik bernama idiologi, jelas berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila, yakni nilai-nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi kerakyatan dan solidaritas sosial.

Situasi politik saat ini dan problem yang dialami oleh rakyat Indonesia mengharuskan kaum muda harus tampil ke depan. Pertama, rakyat sudah tidak percaya dengan formasi elit politik saat ini yang dinilai sudah gagal menciptakan perubahan. Krisis kepemimpinan ini jika tidak dimanfaatkan oleh kaum muda, malah bisa berbuntut oligarkhi politik, dimana sistem politik sekarang di monopoli kekuatan tertentu yang berkuasa bukan karena dukungan rakyat melainkan karena faktor modal dan kekuasaan.

Kedua, ruang politik kedepan harus dimanfaatkan dan diolah oleh gerakan kaum muda, dikombinasikan dengan gerakan ekstra-parlementer untuk memperoleh dukungan kuat dari rakyat. Ketiga, menyusun program-program perjuangan strategis yang merupakan solusi atau jalan keluar dari problem-problem pokok yang di alami oleh rakyat Indonesia sekarang ini. Untuk mengatasi kemiskinan, tantangan kita adalah menghentikan proyek neoliberalisme yang saat ini sangat massif dijalankan dan menggantikannya dengan program ekonomi kerakyatan. Semaksimal mungkin program-program yang diusung mencerminkan tuntutan mendesak rakyat, seperti pendidikan dan kesehatan gratis, turunkan harga-harga, dan lain-lain.

Republik Pemuda

Dari sejarah kita tahu bahwa Republik Indonesia adalah republik pemuda. Ia ada, hadir, dan lahir dari pergulatan dan perjuangan pemuda. Karena itu, Indonesia harus diserahkan dan dikembalikan kepada pemuda karena pemuda adalah pelaku masa kini dan pemilik masa depan.

Meskipun demikian, kaum muda tidak mungkin bisa berjalan dan berjuang sendiri. Karena itu kita harus bekerja sama dan membuka diri dengan semua pihak dan elemen bangsa dalam bentuk komunikasi yang lebih intens ke depan.

Kita tidak boleh berhenti dengan mengeluh dan putus asa. Kita masih punya harapan, kalau kita yakin dan percaya. Marilah kita belajar memahami persoalan. Kalau sudah memahami, marilah  membentuk sikap. Kalau sudah punya sikap, marilah menyatakan sikap dan bersuara. “A bell is no bell until you ring it. A song is no song until you sing it.” ***

Yohanes Widodo, dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

*Dimuat di Harian Bernas Jogja, Selasa 26 Oktober 2010

2 Comment(s)

  1. Pendahulu kami bersumpah, namun dianggap sampah oleh mereka yang berkuasa saat ini dengan mengabaikan banyak hal. Maka hari ini kami kembali memperbaharui sumpah PEMUDA Indonesia menjadi:
    Kami Pemuda Indonesia bersumpah:
    Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan,
    Berbangsa satu bangsa yang gandrung akan keadilan,
    Berbahasa satu bahasa anti Kebohongan….

    renggo darsono | Oct 27, 2010 | Reply

  2. damai bagimu,
    mas boi, salam kenal. terimakasih utk artikel tentang orang muda. saya sangat gembira ketika membacanya. teruslah berkarya, berkat TUHAN

    salam&doa,
    agus_bli di banjarmasin

    dionisius agus puguh santosa | Nov 5, 2010 | Reply

Post a Comment