Belajar “Bencana” dari Jepang

Oleh Yohanes Widodo

Gempa dan tsunami kembali mengguncang ‘Negeri Sakura’, Jumat (11/3/2011). Gempa berkekuatan 9 skala Richter ini telah membuat Jepang lumpuh dan memicu tsunami setinggi 4-10 meter. Meski gempa ini tercatat sebagai gempa paling dahsyat di Jepang dalam 140 tahun terakhir, korban jiwa justru paling banyak disebabkan oleh sapuan gelombang tsunami, bukan karena gempa. Kantor Berita Kyodo, Minggu (13/3/2011) melaporkan, korban jiwa mencapai lebih dari 2.000 orang.

Melihat kengerian gempa dan tsunami di Jepang yang berulang-ulang ditayangkan di televisi, kita diingatkan kembali tentang berbagai bencana di Indonesia. Pada Oktober 2010 lalu, tiga bencana alam datang beruntun: banjir di Wasior Papua, gempa dan tsunami di Mentawai, dan letusan Merapi di Yogyakarta. Banjir Wasior menewaskan sedikitnya 100 orang, 431 orang meninggal dalam gempa dan tsunami di Mentawai, dan letusan Gunung Merapi menelan 114 orang korban.

Sebelumnya, gempa berkekuatan 5,9 skala Richter juga mengguncang DI Yogyakarta dan sekitarnya, Sabtu (27/5/2006). Tercatat 3.098 korban tewas (Kompas, 28/05/2006). Yang paling parah tentu saja gempa bumi dan tsunami di Aceh (26/12/2004) yang menewaskan 230.000 orang—sepertiganya anak-anak.

Melihat angka-angka itu, sekilas kita bisa membandingkan kekuatan/kualitas bencana dan korban yang ditimbulkannya, di Indonesia dan Jepang. Coba bayangkan, apa jadinya jika gempa 9 skala Richter itu mengguncang Indonesia?

Belajar dari Jepang
Koichiro Matsuura (2005), Direktur Jenderal UNESCO mengatakan, mengantisipasi, mendidik/melatih dan menginformasikan adalah kunci untuk mengurangi efek mematikan dari bencana alam. Unsur ketidaksiapan bencana, termasuk untuk mencegah, mempersiapkan, merespon, dan memulihkan ditemukan pada bencana-bencana sebelumnya. Sayangnya, aktivitas-aktivitas semacam itu kurang diberi perhatian.

Dalam peristiwa gempa dan tsunami di Jepang, kita bisa mengamati dan merasakan bagaimana manajemen ‘mengantisipasi-melatih-menginformasikan’ itu dipersiapkan dengan baik. Pemerintah dan masyarakat bekerja sama untuk membangun kesiagaan dan mencegah kerusakan dan jatuhnya korban jiwa.

Mengutip Kompas (12/03/2011), karena sadar bahwa negaranya selalu diguncang gempa, pemerintah Jepang selalu memberikan pelatihan rutin bagi warga dalam menghadapi bencana itu. Masyarakat Jepang, dari berbagai lapisan, rajin melakukan pelatihan menghadapi bencana (gempa). Mereka juga mempersiapkan tas atau ransel berisi perlengkapan dan peralatan lengkap. Alat-alat penyelamatan gempa pun dengan mudah bisa dibeli di toko swalayan.

Bisa dibilang, masyarakat Jepang sudah ‘bersahabat’ dengan gempa karena menjadi fenomena alam yang hampir terjadi setiap hari. Negara ini paling aktif dilanda gempa di dunia. Sekitar 20 persen gempa bumi di dunia terjadi di sini dan kekuatan guncangannya umumnya lebih dari 6,0 skala Richter (Kompas, 12/3/2011).

Di Indonesia, ketidaksiagaan terhadap bencana terus berlangsung. Teknologi dan infrastruktur pendukung yang tidak layak membuat semakin sedikit masyarakat terlindungi. Periksa saja, berapa bangunan di Indonesia yang dibangun dengan struktur tahan gempa?

Minimnya pelatihan pada tim penyelamat, minimnya dukungan sumber daya manusia, khususnya dari elit politik dan pemerintah, berkontribusi pada ketidaksiagaan terhadap bencana. Hal yang paling buruk terjadi, ketika kurangnya atau absennya ‘manajemen’ yang melibatkan seluruh stakeholder (individu, kelompok, komunitas, dan pemerintah) dalam mengantisipasi, mempersiapkan, mendukung, dan membangun kembali masyarakat ketika bencana terjadi.

Manajemen menjadi kunci kegagalan atau keberhasilan kesiapan bencana dan pemulihan setelah bencana. Manajemen bencana yang efektif bisa dimulai dengan membangun kesadaran melalui pendidikan.

Kesadaran Bencana
Upaya membangun kesadaran bencana telah terbukti sukses di Jepang. Setelah Gempa Kobe pada 1995, setahun kemudian Departemen Pendidikan Jepang menerbitkan dua laporan tentang manajemen bencana yang menyebutkan pentingnya pendidikan bencana di sekolah, diikuti dengan menerbitkan buku panduan tentang pendidikan bencana pada 1998 (Shiroshita, Kawata, dan Collins, 2007).

Dukungan pemerintah pusat dan daerah pada pendidikan bencana dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan bencana mendorong terlaksananya pendidikan bencana sejak 1995.

Perhatian mereka tidak hanya melalui pendidikan, tetapi juga melalui penelitian dan publikasi. Sejak 1975-1994, ada 11 paper yang memuat judul “pendidikan bencana”. Sejak gempa Kobe 1995 hingga kini, ada 239 makalah yang diterbitkan.

Di Indonesia, lebih sering, kampanye melalui pendidikan dan kebijakan struktural terjadi saat bencana baru saja terjadi. Namun, frekuensi dan tingkat “kesiagaannya” perlahan semakin menurun.

Contohnya, rencana Departemen Pendidikan Nasional untuk memasukkan kurikulum pendidikan bencana di SD hingga SMP pada tahun 2011 di Propinsi Bengkulu, Sumatera Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Bali, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara Timur (Kominfo-Newsroom, 11/1/2010), kini tak kedengaran gaungnya.

Pendidikan Bencana
Pendidikan merupakan salah satu cara terbaik untuk menciptakan kesadaran bencana untuk menuju tanggap bencana yang lebih baik. Pendidikan usia dini adalah strategi untuk menumbuhkan kesadaran dan komitmen masyarakat. Ini adalah momen penting perubahan untuk memberikan ruang inisiatif lokal lebih luas untuk membangun kesadaran dan kesiagaan terhadap bencana.

Mengubah pola pikir masyarakat bisa dimulai pada usia anak-anak karena proses belajar kognitif dan praktis masih sangat responsif. Pendidikan bencana mempersiapkan mereka untuk menjadi sumber daya yang baik di masa depan dengan memungkinkan mereka belajar tentang pengetahuan ilmiah dan teknis, dan ketrampilan komunikasi dalam situasi genting dan penuh risiko.

Indonesia tidak berbeda jauh dengan Jepang. Posisi Indonesia di antara ‘cincin api Pasifik’ yang memiliki jumlah gunung berapi aktif terbesar di dunia, membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi bencana tinggi. Indonesia bak ‘supermarket’ bencana: mulai dari bencana gerakan tanah (longsor, gempa bumi, letusan gunung berapi), bencana air (banjir, tsunami), dan bencana cuaca (angin topan, badai, kebakaran) ada di sini.

Bencana tak akan menjadi malapetaka selama kapasitas teknis maupun manusia mampu mengantisipasinya. Karena itu, mari belajar bencana dari Jepang tentang bagaimana mereka melakukan mitigasi bencana, manajemen bencana, dan mewujudkan kesadaran bencana.

Hal yang paling sederhana dan mendasar, bisa dilakukan melalui pendidikan bencana. Pendidikan bencana menjadi penting untuk memberikan pemahaman awal untuk mempersiapkan diri jika bencana alam datang sewaktu-waktu. Semoga pemerintah tidak hanya NATO: No Action, Talk Only-untuk mewujudkannya.***

Yohanes Widodo, dosen di Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Dimuat di Harian Bernas Jogja, Selasa (15/03/2011)

1 Comment(s)

  1. Salam. Mas Boy saya tertarik dengan ide dan gagasan sampean. kalau ada waktu boleh saya silaturakhim dengan sampean ya berbagi Ilmu dan Cerita. Terima kasih. Salam Semangat. tetap Ganbare,Ganbaru dan Ganbate…By Sumaryanto, Agrobisnis, UMY. O ya CP saya ( 0852 6878 8639 )

    Sumaryanto | Mar 26, 2011 | Reply

Post a Comment