Era Politics 2.0

Oleh Yohanes Widodo

Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi dan kemampuannya membangun jaringan telah merevolusi cara individu dan warga untuk mengakses dan berbagi informasi. Internet juga mengubah manajemen formal berwatak ‘kontrol dan komando’ menjadi lebih inklusif, interaktif, dan menekankan pada keterlibatan dan perbincangan.  Media sosial seperti Facebook, Twitter, Blog, Youtube, dan lain-lain pun ikut merevolusi kemampuan individu dan warga untuk mengikuti, mendukung dan mempengaruhi politik.

Internet dan Politik

Pemilu AS 2004 telah memosisikan Internet sebagai bagian penting dalam politik karena karakteristiknya yang partisipatif dan interaktif. Pemilihan presiden AS 2008 merupakan contoh bagaimana teknologi Internet punya arti penting bagi demokrasi.  Barack Obama sebagai kandidat presiden menggunakan Internet untuk mengorganisir pendukungnya.  Dampaknya luar biasa:  Obama menjadi the first ‘wired’ US president. “Were it not for the Internet, Barack Obama would not be president” (Miller, 2008).

Internet juga telah mengubah cara presiden AS memerintah. Obama memulai website www.change.gov. Idenya bahwa dunia digital punya potensi untuk menjadikan AS dalam satu pertemuan besar (cyber town-hall meeting) dimana “Every citizen will ideally have a window into the workings of government” (Marks, 2008).  President meminta warganya untuk menyampaikan pertanyaan melalui web www.whitehouse.gov. Pengunjung diminta untuk memilih pertanyaan favorit yang akan dijawab oleh Obama secara live. Inisiatif ini bisa dibilang sukses. Lebih dari 100,000 pertanyaan masuk hanya dalam dua hari. Dari sini kita bisa melihat bahwa Internet bisa digunakan untuk komunikasi, interaksi, informasi, dan juga partisipasi politik.

Bentuk-bentuk partisipasi ini melahirkan gagasan bahwa teknologi dapat memungkinkan warga untuk terlibat dan mempengaruhi politik. Sebelumnya, politisi bisa tak terlalu hirau jika perilaku atau kata-katanya tidak dikutip media, namun kini politisi harus lebih berhati-hati karena layanan seperti Youtube, Twitter, dan Facebook bisa 24 jam menguntit apa yang mereka lakukan.

Di Indonesia, penggalangan dukungan melalui Facebook terhadap kasus Bibit-Candra dan Prita Mulya Sari menunjukkan bahwa Internet punya potensi yang tak bisa lagi dianggap remeh karena Internet memungkinkan partisipasi dan kolaborasi kekuatan rakyat yang lebih besar.

Politik Keterbukaan

Saat ini media sosial seperti Facebook, Twitter, Foursquare, Youtube, Linkedin telah menjadi bagian penting dalam interaksi dan komunikasi kita. Bagaimana pemimpin dan politisi menyikapi kehadiran media sosial tersebut?

Pakar media sosial Charlene Li (2010) dalam bukunya  “Open Leadership: How Sosial Technology can Transform the Way You Lead” mengatakan, media sosial mempengaruhi kepemimpinan dan bagaimana keputusan dibuat dengan menjadikan informasi mengalir dengan mudah. Trend ini tidak bisa dihindari dan mendesak politisi dan dan pemerintah sebagai pemimpin untuk menjadi lebih terbuka.

Menurut Li, menjadi pemimpin di era media sosial tentu berbeda. Adopsi teknologi ini menyebabkan pemimpin perlu memikirkan kembali pandangan tentang kepemimpinan: kapan mereka akan membuka dan membagi informasi, mengambil keputusan. Dengan mengurangi pengawasan, dalam proses itu Anda sebenarnya mendapatkan power,” ujar Charlene Li.

Bagaimana menjadi pemimpin yang terbuka? “Kecerdasan emosional menjadi penting, sebab kita berbicara soal hubungan. Kepemimpinan terbuka tidak lagi bicara tentang mengontrol orang tapi menginspirasi, berbagi. Mereka menginspirasi dengan kata-kata, contoh, tindakan,” kata Li. Ajaran Tao Tsu bilang: “The best leader is one whose existence is barely known by the people. True persons do not offer words lightly. When their task is accomplished and their work is completed, the people say: “It happened to us naturally.” Kepemimpinan, inspirasi, empati adalah ‘pengikat emosi’ yang menggerakkan. Terhubung dengan media sosial adalah ide tentang emosi, ekspresi diri, menjadi bagian dari komunitas personal atau jaringan dimana individu terhubung oleh topik, minat, dan semangat yang sama.

Terjun atau Tenggelam?

Jika Anda pemimpin atau politisi yang pintar, Anda harus menemukan cara bagaimana terlibat dan mengendalikan perubahan. Saat ini, rakyat di akar rumput akan lebih terlibat dalam proses politik lewat Internet. Internet juga memungkinkan generasi muda makin terlibat di dalam politik. Internet pun mampu membuat politisi lebih diperhitungkan, dipercaya dan didukung jika mereka lebih terbuka dan bisa menjalin interaksi dengan konstituennya.

Pemimpin atau politisi dapat menggunakana Internet dan media sosial untuk meningkatkan keterbukaan. Memang tak ada keharusan untuk membuat blog, membuat akun Twitter atau Facebook. Yang penting para pemimpin dan politisi paham, bagaimana keterbukaan dapat membantu mereka mencapai tujuan, dan apakah media sosial dapat membantu mereka menjadi lebih terbuka.

Bergabung dan membuat akun Facebook perlu, namun bisa jadi bukan langkah yang paling tepat. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, dari sisi tujuan: pemimpin yang cerdas mulai dari tujuan, diikuti strategi dan alat. Untuk beberapa tujuan, Facebook adalah alat yang baik, tapi tidak untuk semua tujuan. Kedua, melihat target audience: tidak semua orang menggunakan Facebook. Ketiga, perkembangan media sosial begitu cepat: sebelumnya kita kenal Friendster, MySpace, dan lain-lain. Facebook itu besar, sampai ada yang baru yang bisa menggantikannya. Keempat, konten: konstituen tidak akan melihat akun Facebook Anda, kecuali Anda bisa menarik perhatian mereka. Jika tidak, Anda akan tenggelam.

Akun media sosial yang dikelola dengan baik akan mendukung image pemimpin atau politisi. Namun jika tidak dikelola dengan baik sebaliknya justru bisa merusak. Konstituen tidak sekadar menjadi follower Anda karena Anda punya akun Facebook, Twitter atau Facebook fan page. Mereka melakukan itu karena perhatian, kepercayaan, dan kesetiaan yang diperoleh saat ini dan sepanjang waktu. Artinya, reputasi offline dan kerja keras pemimpin atau politisi sangat menentukan, apakah konstituen dan warga akan like atau dislike! ***

Yohanes Widodo, pengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Dimuat di Harian Bernas Jogja, Selasa (04/01/2011)

Post a Comment