Ketika ‘Produser’ menjadi ‘Prosumer’

* Oleh-oleh dari SEARCH Conference 2011

Taylor’s University Malaysia kembali menggelar  ajang 2nd International SEARCH Conference 2011 dengan topic New Media Culture and Challenges di Lakeside Campus, Subangjaya, Malaysia, 28-29 Mei 2011. Kali ini, Yohanes Widodo dari UAJY menjadi salah seorang presenter.

Konference menampilkan 72 paper dengan topik yang beragam, antara lain: Muslim and the New Media, Social Gaming Network, News Agregator, Citizen Journalism, Reality Shows, Reality TV, Media and Public Relations, TV Advertising, Japanese Popular Culture, E-Government, dan lain-lain. Setiap presenter diberi waktu 30 menit, 10 menit untuk presentasi dan 20 menit untuk diskusi.

Pada acara pembukaan, Pradeep Nair, Deputy vice-chancellor Taylor’s  University mengatakan, kehadiran media baru menjadi persoalan bagi generasi tua.”Mereka tumbuh dengan kebiasaan membaca surat kabar atau buku: atas ke bawah, kiri ke kanan.  Sementara website menggunakan desain yang sungguh berbeda. Di sisi lain, generasi baru tidak memiliki kebiasaan membaca. Otak mereka bekerja ke segala arah, sehingga bisa melihat banyak hal pada saat yang sama. Otak semakin luas, informasi datang dalam berbagai konteks yang sangat berbeda,” ujar Pradeep.

Dalam situasi ini, generasi muda lebih banyak menjadi konsumen, meski ada jurnalis warga yang memiliki sipirit akuntabilitas. “New media menciptakan peluang yang luar biasa. Persoalannya, bagaimana new media bisa bisa membuat orang lebih terhubung dengan dunia, dengan orang lain, sehingga dunia menjadi tempat yang lebih baik,” tambah Pradeep.

Perlukah FB Diatur?

Pembicara tamu pertama, Ass. Prof. Terence Lee, PhD membahas tentang Regulating Facebook:  Governing Social Networks and New Media. Menurut Lee, penemu Facebook, Mar Zuckerber menjadi person of the year versi majalah Time.  Film berjudul  The Social Network menunjukkan bahwa kini adalah era Facebook. “Facebook menjadi bukti, bagaimana ProdUsers berubah menjadi proSumers, sesuai dengan nature internet yaitu sharing,” ujar Lee.

Lee menambahkan, sejak awal 2011, tiada hari tanpa berita tentang Facebook, antara lain: Doctors: FB can lead teenage depression, Reputation wrecking: social media alarm sound (about social media entering the business risk category),  Facebook model totally wrong:4chan founder (WA Today, 15 Apr 2011), proposal for safer social connection, Fitton fired for Facebook rants, Spy on your kids’ facebook without being their friend.

Menurut Lee, Internet lebih dari sekadar media untuk komunikasi. “Kisa mengenal orang dengan lebih baik, bisa membangun hubungan, serta meluaskan dan membuat hubungan baru. Internet juga menjadi sarana untuk mobilisasi seperti yang dilakukan oleh aktivis social di Kairo, Mesir. Mereka menggunakan Facebook untuk menjadwal demo, Twitter untuk berkoordinasi, dan YouTube untuk memublikasikan ke seluruh dunia,” ujar Lee.

Media sosial menjadi aktivitas nomor satu di Internet, khususnya dengan penggunaan teknologi mobile. Jaringan sosial menjadi  a must-have/must-do marketing/PR/survival tool for all business. Pertengahan 1990- 2000, wajah bisnis yang bona fide harus bisa ditemukan Online.

Lee menambahkan, regulasi masih menjadi kunci terhadap pemahaman pengelolaan new media. Tesisnya bahwa banyak discourse seputar FB menunjuk pada regulasi old-fashion. Bukan hanya tentang kebebasan dan sensor internet, juga tentang privasi dan anonimitas, namun pengelolaan new media secara virtual sama dengan pengelolaan Web 1.0, sama dengan pengelolaan media tradisional. Ini berkaitan tentang mengatur pemikiran.

Pengaturan dan kontrol media, salah satu contohnya adakah konsep Panopticon dari Jeremy Bentham (dipopulerkan oleh Foucault). Panopticon berasal dari kata pan-optic artinya all-seeing yang mendukung konsep technological auto-regulation in/of new media. Persoalannya, auto regulation /self regulation/co-regulation tidak bis berjalan. Pandangan lain muncul, bahwa FB tidak perlu regulasi. Seperti yang terjadi di Cina, penggunaan FB dan Google dibatasi karena mereka ingin membuat FB dan Search Engine sendiri.

Multimedia, Multimodal

Pembicara tamu kedua, Theo van Leeuwen memaparkan presentasi berjudul “New media, New Language.” Menurut Theo, dulu, membaca sama dengan aktivitas meditasi (solitaire). Sekarang, membaca dalam kelompok (group study), menggunakan multimodality,  conceptual images, dan participatory reading. Fenomena menulis saat ini, tak lagi menggunakan kalimat tapi bullet points (dalam program power point);  dan non linier (dalam excel sheet ).

Konsekuensinya, kita bisa menunjukkan segala sesuatu dengan kata-kata, tapi sekarang dengan berbagai cara. Kalau kecenderungan dulu, writing is text; sekarang menggunakan bahasa visual (semantic zone). Dengan kondisi demikian, maka jurnalis harus menguasai multimedia, menjadi multimodal.

Taylor’s School of Communication

Taylor’s School of Communication berdiri tahun 2000. Dosen-dosennya memiliki pengalaman di bidang advertising, journalism, media management, multimedia studies dan public relations. School of Communication bekerja sama dengan University of South Australia (UniSA). [masboi]

Post a Comment