Tantangan Jurnalisme Generasi Keempat

Sejarah media dan jurnalisme menunjukkan bahwa perkembangan teknologi turut mempengaruhi jurnalisme dan peran yang dimainkannya di masyarakat. Persoalannya, perubahan yang seperti apa yang dibawa oleh teknologi, dan bagaimana peran yang harus dimainkan oleh media?

Tulisan ini ingin membahas fenomena jurnalisme generasi keempat yang diwarnai oleh teknologi Internet yang mengubah arus informasi dan mempengaruhi ruang redaksi, antara lain  dengan teknologi Web 2.0 dan Web 3.0, serta munculnya ambient journalism seperti yang diperankan oleh Twitter. Lebih lanjut, peran seperti apa yang harus dimainkan oleh media, dan bagaimana jurnalisme dan perguruan tinggi jurnalisme menyikapi hal itu?

Jurnalisme Generasi Keempat

Molly Bingham (2010) membagi perkembangan jurnalisme tersebut dalam empat generasi. Generasi pertama, muncul dengan kehadiran mesin cetak. Era ini dibentuk oleh kehadiran pamflet yang digunakan oleh aktivis untuk menyebarkan pandangannya untuk mempengaruhi perubahan sosial.  Generasi kedua dan ketiga ditentukan oleh era radio dan televisi yang pengaruhnya makin berkembang. Di sini media dikenal sebagai alat mewujudkan agenda sosial dan politik. Pada generasi ketiga,  korporasi membeli media lokal dan nasional  menjadi perusahaan media yang besar. Loyalitas media adalah kepada pemegang saham dan mencari profit. Generasi keempat, secara teknologi, adalah internet. Internet dan jutaan perangkat mobile menjadikan media makin global. Audience media adalah dunia. Realitas ini membawa tanggung jawab dan peluang baru bagi jurnalisme.

Dalam konteks global, Molly Bingham (2010) menawarkan beberapa hal yang harus dilakukan oleh media. Media harus mendedikasikan diri pada komunikasi global. Media semestinya tidak hanya mengangkat sebuah peristiwa dari perspektif ‘nasional’, tapi lebih pada melayani kepentingan kemanusiaan. Media harus mendorong Internet untuk mengembangkan proses iteration (pengulangan) dengan menghadirkan informasi yang menarik dan bermutu. Media harus menjamin bahwa konsumen dapat mengakses konten yang berkualitas yang didesain untuk kebutuhan mereka. Hubungan media dengan publik harus berubah untuk merefleksikan kemampuan publik untuk berpartisipasi, berkreasi, dan berkomentar—tak hanya mengonsumsi informasi. Struktur media harus berubah. Kini, orang mengkustomisasi media, menyesuaikan dengan kebutuhan mereka, dan mengubahnya sesuai keinginan. Model bisnis baru akan hadir. Profit berasal dari produksi media dan dampak yang diciptakannya di masyarakat. Media harus memiliki tanggung jawab yang baru dan harus melayani kepercayaan publik, a global public trust.

Prediksi Masa Depan

Prediksi lain tentang perkembangan jurnalisme pun muncul disampaikan oleh Paul Bradshaw (2011), seorang ilmuwan Jurnalisme di Birmingham City University, Inggris. Ia menggambarkan perkembangan jurnalisme dalam 25 tahun, sebagai berikut: Pertama, matinya surat kabar. Orang telah memprediksi bahwa surat kabar akan mati, ketika berkompetisi dengan media lain. Namun, sejauh ini, surat kabar masih survive, bukan  saja karena surat kabar adalah bisnis yang mendatangkan profit, namun juga karena surat kabar menawarkan benefit, lebih dari pendapatan iklan, dalam bentuk power dan status. Kedua, harga bergerak ke arah yang berlawanan. Fenomena ini ditandai dengan hadirnya surat kabar atau majalah yang diedarkan secara gratis. Namun, gratis tidak berarti kualitasnya rendah. Ketiga, jurnalisme akan menjadi karir seperti musisi, daripada pekerjaan. Berita berkembang terkait dengan reputasi dan jaringan dari penerbitnya, sejumlah jurnalis akan mendekati penerbit besar sebagai batu loncatan. Keempat, tidak ada lagi media yang berdiri sendiri. Organisasi dan industri berkomunikasi secara langsung dengan pelanggan, dan menggunakan konten sebagai cara untuk menarik mereka.  Kelima, jurnalisme online akan menjadi lebih terspesialisasi. Dalam hal ini, dibutuhkan ketrampilan untuk menangani infomasi yang makin bervariasi. Media akan mengembangkan berbagai cara untuk mengelola ruang redaksi, antara lain dengan melibatkan reporter yang bekerja secara multi-platform (teks, audio, video). Pada saat yang sama, alat produksi akan menjadi lebih sederhana.

Menurut Bradshaw (2011), model newsroom di abad 21 bersifat online ditandai dengan produksi fisik yang non-linear. Selama ini produksi berita adalah proses linear: Wartawan pergi keluar mencari berita, kemudian pulang untuk menulis/mengedit dan menyerahkannya kepada orang lain untuk diedit, didesain, dicetak, dan didistribusikan.  Kini, produksi merupakan bagian pertama yang menjadi digital, berubah dari benda fisik menjadi benda yang tak tersentuh. Ini bisa menghemat waktu dan biaya tranportasi dan mengurangi kendala untuk masuk karena komptetisi.

Proses pengumpulan berita adalah bagian berikutnya yang menjadi digital, ketika jumlah informasi yang dikirim secara digital semakin banyak. Terakhir, perusahaan media kehilangan kendali dalam hal distribusi. Ini terjadi dalam beberapa tahap: pada tahap awal, distribusi didominasi oleh direktori dan portal seperti Yahoo!, MSN; kemudian memberikannya kepada mesin pencari seperti Google, dan sekarang diambil alih oleh jaringan sosial seperti Facebook. Di era online, ketika proses pencarian berita, produksi, dan distribusi menjadi digital, semua itu bisa dikerjakan oleh orang yang berbeda, di tempat dan waktu yang berbeda, termasuk mereka yang non jurnalis.

Web 2.0 dan Web 3.0

Fenomena lain adalah terjadinya pergeseran dari era broadcast mass media (one to many) ke era media yang terhubung secara digital (many to many). Perubahan ini telah mengubah arus informasi secara mendasar. Teknologi komunikasi memindahkan sarana produksi dan penyebaran informasi ke tangan publik, dan mengubah hubungan antara audience dan jurnalis dari model komunikasi asimetris (satu arah) ke sistem yang lebih partisipatif dan kolektif, menggunakan teknologi Web 2.0.

Ini membuat dalam banyak peristiwa besar (seperti peristiwa gempa bumi, letusan gunung berapi, ledakan bom dan lain-lain), informasi tidak datang dari media traditional namun dari warga yang mengirimkan pesan ke jaringan sosial seperti Twitter. Menjadi sesuatu yang biasa, ketika orang berada dalam sebuah peristiwa, mengambil “peran aktif dalam proses pengumpulan pelaporan, analisis, dan penyebarluasan berita dan informasi” (Bowman and Willis), dan mempraktikan apada yang disebut jurnalisme warga (citizen journalism).

Media sosial seperti Twitter menjadi penting untuk menyebarkan potongan-potongan (fragments) berita dan informasi digital tentang peristiwa-peristiwa besar secara cepat, yang disebut oleh Alfred Hermida (2010) sebagai ambient journalism. Istilah ini untuk menggambarkan sifat berita yang ada di mana-mana dalam masyarakat kita. “News is, in a word, ambient, like the air we breathe” (Hargreaves and Thomas, 2002).

Konsep ini didukung oleh teknologi digital yang berjaringan dan real-time, yang menawarkan beragam cara untuk mengumpulkan, mengkomunikasikan, membagikan, dan memajang berita dan informasi. Dengan ini, jurnalisme yang sebelumnya sulit dan mahal untuk memproduksinya, kini ada di sekitar kita, seperti udara yang kita hirup, baik yang diproduksi oleh profesional maupun warga biasa. Tantangannya, bagaimana membantu menegosiasi dan mengatur arus informasi, memfasilitasi pengumpulan dan penyebaran informasi dan pemahaman terhadap berita.

Fenomena lain yang mengemuka adalah bagaimana teknologi Web 3.0. Menurut Martin Meyer-Gossner (2011), Web 3.0 merupakan perluasan dari Web 1.0 (konten yang hanya bisa dibaca) dan Web 2.0 (social graph, user generated content), dan Web 3.0 akan lebih mengarah ke semantic web (basis data; user generated business; personalisasi—contohnya iGoogle,) dan domain spatial yang memungkinkan orang membentuk hubungan sosial berdasarkan lokasi saat ini. Salah satu contoh yang fenomenal adalah Foursquare.

Menurut Dennis Crowley, penemu Foursquare, potensi dari data berbasis lokasi akan menghubungkan titik-titik pengguna untuk bisnis masa depan dan strategi pelayanan pelanggan. Dennis mengambarkan bagaimana Foursquare membantu Anda untuk “mendengarkan apa yang sedang terjadi di sekitar Anda: Ketika Anda sedang berjalan dan saatnya makan siang, Foursquare akan memberitahukan bahwa Anda sedang berada di dekat toko sandwich yang Anda baca di New York Times tiga minggu lalu. Dan itu yang ingin Anda coba.”

Pendidikan Jurnalisme

Menyikapi perkembangan dunia digital, popularitas media cetak yang kian menurun, dan platform jaringan sosial dan perangkat digital lain yang makin menjadi cara untuk mengkonsumsi berita, beberapa perguruan tinggi di luar negeri dengan sigap mengantisipasi perkembangan tersebut.

University of Colorado, Amerika Serikat, bahkan menutup jurusan Jurnalisme (Journalism School). Mereka kemudian membuat program baru yang lebih berorientasi teknis, gabungan antara Jurnalisme dan Ilmu Komputer. Menurut mereka, dengan menambahkan mata kuliah Ilmu Komputer, akan menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi dunia komunikasi dan pasar media yang selalu berubah. Sekitar 30 jurusan jurnalisme seperti di University of Wisconsin, Cornell University, Rutgers University, dan UC Berkeley, juga mengubah kurikulumnya secara dramatis untuk menyesuaikan perubahan teknologi dalam komunikasi massa (Bennett Gordon, 2009).

Pihak perguruan tinggi bekerja sama dengan perusahaan untuk memecahkan persoalan kompetensi SDM. Di Amereka Serikat, University of Alabama pun menggandeng  The Anniston Star, dan menerima mahasiswa master program Jurnalisme, untuk mengisi halaman-halaman di surat kabar tersebut. The New York Times berpartner dengan The City University of New York untuk mengembangkan proyek jurnalisme komunitas, The Local. Sekolah jurnalisme itu mengembangkan kurikulum yang fokus pada digital.

Bagaimana pemangku kepentingan jurnalisme dan pendidikan Ilmu Komunikasi dan Jurnalisme di Indonesia menyikapi hal ini? Rasanya tak ada pilihan lain: menyesuaikan diri atau mati!

Yohanes Widodo, dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Post a Comment