Diaspora Orang Muda Indonesia dan Bahasa Mereka

Bernas Jogja, Selasa 21 Agustus 2012
Oleh Yohanes Widodo

Perbincangan tentang Diaspora Indonesia kembali mengemuka sejak digelar  Congress of Indonesian Diaspora (CID) yang berlangsung 6-8 Juli 2012 di Los Angeles Convention Center, California, Amerika Serikat.

Istilah diaspora berasal dari Bahasa Yunani yang artinya penyebaran (Merriam Webster); gerakan, migrasi, atau menyebarnya bangsa atau penduduk etnis manapun yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkan tanah air atau etnis tradisional mereka; orang-orang yang tinggal jauh dari tanar airnya (Ember dkk, 2004).

Menurut Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal, diaspora merujuk pada semua orang di luar negeri yang berdarah, berjiwa dan berbudaya Indonesia – baik yang masih warga negara Indonesia maupun yang sudah menjadi warga begara asing. Di sini termasuk warga yang bekerja dan pelajar Indonesia yang sedang kuliah di luar negeri.

Berdasarkan catatan Dino terdapat sekitar 3,5 juta orang WNI di luar negeri. Namun faktanya jumlah diaspora Indonesia jauh lebih banyak dari yang diperkirakan, kemungkinan mencapai 6-8 juta orang bahkan bisa lebih dari 10 juta orang atau sama dengan jumlah populasi Swedia atau Austria (Kompas, 2/7/2012). Jumlah pelajar Indonesia di luar negeri pun tak bisa dibilang kecil. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2011) mencatat jumlah pelajar/mahasiswa Indonesia di 17 negara sebanyak 84.057 orang.

Radio Anak Muda

Pelajar yang tergolong anak muda identik dengan radio. Hampir di semua kota di Indonesia terdapat radio anak muda yang memiliki segmen pendengar berusia 15-25 tahun. Radio jenis ini menyajikan program yang menggambarkan dunia anak muda seperti musik, film, gaya hidup, pergaulan, dan dunia sekolah. Gaya siarannya disesuaikan dengan gaya anak muda, apa yang biasa dikatakan, dan dipikirkan anak muda masa kini. Ceria, lucu, rame tapi cerdas adalah gaya siaran radio anak muda. Soal bahasa, bisa jadi perpaduan antara Bahasa Indonesia, Inggris, dan bahasa daerah setempat (Ningrum, 2007), namun ada satu karakteristik yang jamak kita temukan pada siaran radio anak muda yakni penggunaan bahasa gaul atau dialek/logat Betawi. Fenomena ini tidak hanya ditemukan di Jakarta saja, namun juga di daerah-daerah lain seperti di Kalimantan Tengah (Aldie, 2009), Solo (Purnamasari, 2011), Nusa Tenggara Barat (Aruman, 2011) dan lain-lain.

Terkait penggunan bahasa siaran ini, Undang-Undang Penyiaran No. 32 tahun 2002 pasal 37 menyatakan, “Bahasa pengantar utama dalam penyelenggaraan program siaran harus menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sementara pasal 38 menyatakan, “Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam penyelanggaraan program siaran muatan lokal bila diperlukan untuk mendukung acara tertentu. Bahasa asing hanya boleh digunakan sebagai bahasa pengantar sesuai dengan keperluan suatu acara”.

Namun ada hal yang berbeda terkait dengan penggunaan bahasa siaran di radio anak muda yang penulis temukan pada salah satu radio yang dikelola anak muda Indonesia di luar negeri, yakni Radio PPI Dunia (http://www.radioppidunia.org). Radio online yang mengudara sejak 18 Mei 2009 selama 24 jam nonstop ini digagas oleh sekelompok pelajar Indonesia yang tergabung dalam Aliansi Perhimpunan Pelajar Indonesia Internasional (PPI Dunia) atau Overseas Indonesian Student Association Alliance (OISAA).

Visinya menjadi radio yang tangguh, mandiri, ilmiah dan berdaya respon tinggi sebagai modal sosial bagi pembangunan Indonesia menuju knowledge based society dengan menyajikan informasi, baik perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan memupuk semangat kebangsaan antargenerasi untuk memperkuat ketahanan nasional menghadapi tantangan global (Widodo, Bernas Jogja, 27/2/2012).

Bahasa Siaran Radio PPI Dunia

Untuk memastikan fenomena yang terjadi di Radio PPI Dunia, penulis melakukan survei terhadap 24 responden penyiar Radio PPI Dunia.  Mereka sebagian besar (18 responden atau 82 persen) telah bermukim di luar negeri lebih dari dua tahun. Dari survei ini diketahui bahwa mayoritas penyiar (15 responden atau 68 persen) memakai Bahasa Indonesia sewaktu siaran berlangsung; 8 responden (36 persen) menggunakan dialek atau Bahasa Indonesia tidak baku/bahasa gaul/logat Jakarta/logat daerah asal; dan 2 responden (9 persen) memakai bahasa resmi negara tinggal responden di luar negeri.

Lantas, apa alasan penyiar menggunakan Bahasa Indonesia? Dari 15 responden, sebanyak 12 responden (80 persen) mengaku bahwa Bahasa Indonesia lebih mudah dipahami oleh semua kalangan; sebagai bentuk sikap atau semangat nasionalisme (4 responden atau 27 persen) dan karena sudah terbiasa memakai bahasa Indonesia (4 responden atau 27 persen).

Dari 8 responden penyiar yang menggunakan dialek lokal, mayoritas penyiar (7 responden atau 70 persen) mengaku bahwa dialek logat Jakarta lebih komunikatif; dialek lebih setara dan tidak menimbulkan jarak dengan pendengar (6 responden atau 60 persen) dan karena sudah terbiasa berbicara dengan dialek/logat Jakarta/daerah asal (1 responden atau 10 persen). Sementara 3 responden mengaku menggunakan bahasa resmi negara tempat tinggal karena menyesuaikan dengan jenis acara atau target pendengar.

Bahasa Sehari-hari

Para penyiar Radio PPI Dunia tidak hanya menggunakan Bahasa Indonesia dalam siaran mereka melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 12 responden (52 persen) penyiar mengaku ‘sering’ memakai Bahasa Indonesia dalam percakapan di negara tempat tinggal mereka; 9 responden (39 persen) mengaku ‘jarang’ memakai Bahasa Indonesia dalam percakapan dan 3 responden (13 persen) menyatakan ‘selalu’ memakai Bahasa Indonesia dalam percakapan.

Bagaimana dengan penggunaan dialek atau bahasa daerah? Mayoritas penyiar (11 responden atau 50 persen) menyatakan ‘jarang’ menggunakan dialek dalam percakapan sehari-hari di negara tempat mereka tinggal, 9 responden (41 persen) menyatakan ‘sering’ memakai dialek dalam percakapan sehari-hari. Sedangkan yang menjawab ‘selalu’ dan ‘tidak pernah’ memakai dialek dalam percakapan sehari-hari masing-masing 1 responden (5 persen).

Terkait dengan penggunaan Bahasa Inggris, mayoritas responden (13 responden atau 59 persen) menyatakan sering memakai Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari di negara tempat mereka tinggal. Responden yang menjawab ‘selalu’ ada 6 responden (27 persen). Opsi jawaban ‘jarang’ hanya dipilih sebanyak 3 responden (14 persen).

Sementara terkait penggunaan bahasa resemi dalam percakapan sehari-hari, mayoritas responden (12 responden atau 52 persen) menyatakan ‘jarang’ memakai. Sementara yang memilih jawaban ‘sering’ 6 responden (26 persen), dan 4 responden (17 persen) ‘selalu’ memakai bahasa resmi negara tinggal dalam percakapan sehari-hari dan hanya 1 responden (4 persen) menjawab tidak pernah memakai bahasa resmi negara tinggal.

Bahasa Indonesia juga menjadi bahasa utama sebagian besar penyiar (12 responden atau 52 persen) sebagai sarana berkomunikasi. Bahasa Inggris menempati urutan kedua pilihan responden dengan 9 responden (39 persen).

Identitas Indonesia

Dari sini terlihat bahwa Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama penyiar Radio PPI Dunia baik dalam siaran maupun dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Alasan mereka tidak bersifat ideologis misalnya terkait nasionalisme, namun karena pertimbangan praktis di mana Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling mudah dipahami oleh semua kalangan.

Dalam hari-hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia kali ini, apa yang dilakukan para penyiar Radio PPI Dunia ini menjadi angin segar dan harapan baru.  Saat radio-radio anak muda dari Sabang sampai Merauke menggunakan bahasa gaul atau logat Jakarta, diaspora muda Indonesia menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama mereka, kendati mereka juga menguasai bahasa daerah dan bahasa asing.

Harapannya, apa yang dilakukan oleh diaspora muda Indonesia ini mampu mempengaruhi dan menguatkan kesadaran kita bahwa Bahasa Indonesia adalah identitas dan kebanggaan kita yang secara sosiokultural merupakan kekayaan dan keunggulan Indonesia yang tidak dimiliki bangsa-bangsa lain. Lantas, kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikan Bahasa Indonesia, lalu siapa lagi? ***

Yohanes Widodo, dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Post a Comment