Launching dan Diskusi Buku Bencana Merapi

Dipublikasi: December 7, 2012 dari Web Perpustakaan UAJY

Meski Dies Natalis ke-47 Universitas Atma Jaya Yogyakarta berpuncak pada Upacara Dies tanggal 27 September 2012, namun masih ada satu kegiatan yang tesisa. LPPM bekerja sama dengan Perpustakaan,  menyelenggarakan Launching dan Diskusi Buku “HIDUP NYAMAN BERSAMA BENCANA: Pengalaman Radio Komunitas Lintas Merapi.”

Acara yang dihadiri oleh para dosen, pustakawan, mahasiswa, pengelola radio komunitas, dan masyarakat sekitar Merapi berlangsung cair dan hangat dipandu oleh Surya Adi Pramana, M.Si. (editor buku dan dosen Prodi Sosiologi FISIP UAJY). Hadir sebagai pembahas Dr.Eko Teguh Paripurno direktur Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Yogyakarta dan Yohanes Widodo, MA., dosen Prodi Ilmu Komunikasi UAJY.

Dalam pembahasannya Dr. Eko Teguh Paripurno memaparkan bahwa pengalaman menjadi indah ketika dituliskan. Selanjutnya beliau mengungkapkan, “Apa kalau gunung mbledhos wong-wong kudu mati dan warga harus diturunkan? Gunung boleh meletus orang jangan mati. Kenapa orang meninggal bukan karena mbledhosnya, tapi orangnya gak bisa ngopeni soal pemberitahuan status dan soal  komunikasi serta proses evakuasi. Buku ini adalah buku campur sari, ada gayanya Kang Sukiman (aktivis radio komunitas lintas Merapi) dan ada yang sangat akademis (ilmiah). Tugas kita (LPPM) adalah mengisi/menjembatani keingininan masyarakat, lembaga-lembaga (LSM) dan pemerintah. Mari berjabat tangan (kekancan), tidak saling klaim bahwa desa itu adalah binaan kami. Mari kita selalu tambah kanca dan tambah donga. UAJY, UPN, USD dan yang lainnya. Mari bersama kita nikmati dan buat jejaring perkawanan yang baik.”

Sebagai pembahas kedua Yohanes Widodo, menerangkan panjang lebar tentang fungsi radio. Bahwa dalam radio komunitas ada keunikan, sebagai penyiar sekaligus pengelola. Mereka bekerja tidak untuk radio dan Anda sendiri, tetapi bekerja untuk masyarakat. Radio komunitas benar-banar bekerja bagi masyarakat. Berbeda dengan radio komersial. Radio komunitas harus non-komersial (non profit). Ada persoalan di sini, non profit tapi harus tetap mempertahankan keberadaannya? Teknologi informasi sangat membantu radio komunitas. Tak harus ada studio, siaran  bisa dari kamar kelas atau di manapun. Ada modem, internet dengan menggunakan web. Keberadaan radio komunitas  ditentukan rasa memiliki, partisipasi, pelayanan, dan non profit, indepedensi. Meski demikian, prinsip manejemenanya sama dengan pengelolaan  radio yang lain.

  • Radio komunitas butuh perjalanan panjang untuk diterima oleh para penggerak.
  • Selalu berbasis komunitas dan sangat lokal.
  • Sebagai penyelesaian  pada tingkat lokal tidak hanya soal bencana Merapi tetapi juga soal kehidupan lain.
  • Rakom terintegrasi dengan masyarakat luas. Kombinasi dengan berbagai media menguntungkan Rakom untuk lebih dikenal masyarakat luas.
  • Operator Rakom tertempa karena terbiasa menjadi orang terakhir yang meninggalkan lokasi di saat bencana karena ia harus melaporkan kondisi terakhir.
  • Kearifan lokal menjadi hal yang khas  bagi komunitas Rakom.
  • Yohanes Siyamta (13/12/2012)

    Post a Comment