Menyongsong Era Televisi Lokal

Saat ini sedikitnya ada 19 stasiun televisi lokal yang sudah resmi tergabung dalam Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (KCM, 26/7/2005). Menyusul daerah-daerah lain, tak lama lagi televisi lokal akan mewarnai bumi Sriwijaya.


Kehadiran televisi lokal ini di Palembang akan meramaikan ‘dunia persilatan’ lembaga penyiaran di Sumatera Selatan, yang kini diramaikan oleh 10 stasiun televisi nasional dan TVRI Sumsel, serta beberapa televisi lokal yang telah mengajukan ijin dan diproses oleh Komisi Penyiraan Indonesia Daerah (KPID) Sumsel.

Era televisi lokal di Palembang patut disambut gembira dan apresiasi. Kehadiran televisi lokal akan menambah variasi atau pilihan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi, hiburan, dan pendidikan. Televisi lokal bisa menjadi mimbar perdebatan masyarakat lokal mengenai isu-isu atau persoalan-persoalan lokal yang sedang dihadapi. Selain itu, keberadaan televisi lokal dapat menjadi sarana pengembangan potensi daerah, sehingga daerah pada gilirannya menjadi lebih maju dan sejahtera melalui pengembangan perekonomian rakyat.

Dari perspektif Otonomi Daerah, kehadiran televisi lokal dapat mengurangi sentralisme informasi dan bisnis. Hal ini sesuai dengan amanat UU No. 32/ 2002 tentang Penyiaran yang merevisi UU Penyiaran terdahulu (UU No. 24/1997) yang kental sekali dengan kekuasaan.

Seperti diungkapkan oleh Paulus Widianto, mantan Ketua Pansus DPR-RI yang membahas RUU Penyiaran, “Pemerintah Orba waktu itu ingin memanfaatkan stasiun televisi sebagai tunggangan. Dengan demikian, hanya mengakui kalau stasiun televisi berdiri di ibu kota negara, Jakarta. Akibatnya, suara dari daerah tidak mendapat tempat atau diberi tempat tetapi sangat kecil sekali.”

Lewat televisi lokal dan televisi berjaringan, pemirsa tidak hanya dijejali informasi, budaya, dan gaya hidup ala Jakarta dan ala Barat. Pemirsa akan lebih banyak menyaksikan berbagai peristiwa dan dinamika di daerah dan lingkungannya.

Dalam konteks sosial budaya, televisi lokal bisa menjadi harapan dan “benteng terakhir” ketahanan bangsa (Bali Post, 27/7). Selama ini kita merasakan serbuan kapitalisme global dan budaya luar begitu kuat menyeruak-masuk lewat televisi nasional yang bekerja sama dengan televisi asing. Televisi ini mempunyai “dosa besar” dalam mengikis kebudayaan lokal, melalui gempuran acara yang membawa nilai-nilai yang tidak sesuai nilai-nilai yang dianut selama ini.

Gempuran acara televisi nasional yang negatif ini harus disikapi. Pada posisi ini, televisi lokal punya peluang membawa nilai-nilai luhur budaya daerah, dengan mengangkat budaya dan kearifan lokal (local genius) yang hidup dan berkembang di masyarakat. Di sana akan terjadi proses pembelajaran dan penanaman nilai-nilai (positif) budaya lokal. Televisi lokal menjadi harapan, Jika tidak ada orang yang memulai program televisi yang mengangkat budaya daerah, dikhawatirkan budaya itu akan makin luntur dan tidak dikenal generasi muda.

Idealisme Moral vs Komersial

Ada dua tipe televisi lokal di Indonesia. Pertama, televisi lokal yang dibiayai oleh pemerintah kabupaten/propinsi melalui APBD dan di-setting menjadi government tv atau televisi pemda. Kedua, televisi lokal yang dibiayai atau dimodali oleh kalangan swasta, yang bernuansa binis dan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan (profit priented). Apalagi, televisi merupakan bisnis yang padat modal.

Seperti halnya media massa lain, televisi lokal memiliki kekuatan sebagai penggerak ekonomi dan dinamika kebudayaan. Karena itu, televisi lokal sejak dini harus mampu menunjukkan idealisme yang jelas, tidak hanya berangkat dari idealisme komersial.

Stakeholders yang membangun sebuah perusahaan media elektronik harus lebih dulu mempunyai idealisme moral dan spiritual, sebelum sampai pada tingkatan komersial. Jika cita-cita itu tidak diperjelas sejak awal, akan mempengaruhi perjalanan program tayangan.

Apa pun bentuk idealisme stakeholders, sebuah media televisi harus digarap secara profesional. Dalam sistem kerja profesional harus jelas arah yang ingin dicapai. Program juga bisa ditata secara profesional, tidak setengah-setengah sehingga menjadi kabur dan kurang menarik. Belum lagi bagaimana tanggapan dari masyarakat atau pasar yang akan menjadi sasaran program itu.

Selain kepastian idealisme, idealnya keberadaan televisi lokal harus didukung sebuah jaringan yang kuat. Dengan jaringan kerja dan bisnis seperti itu, kehadiran sebuah televisi lokal nantinya tidak sekadar sebagai kelengkapan sebuah peradaban masyarakat kota, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya.

Tantangan terberat yang dihadapi oleh televisi lokal (swasta) sebetulnya adalah bagaimana menjamin kelangsungan hidup industri televisi lokal dalam konteks persaingan bisnis media. Kita tahu, kemunculan sebuah media, tentu akan mengancam (dan diancam) media lain. Persaingan ini tidak bisa dihindari, karena televisi lokal ini akan nimbrung dalam perebutan kue iklan yang selama ini diperebutkan oleh media cetak, radio, dan televisi.

Karena itu perlu antisipasi, bagaimana menciptakan persaingan yang sehat dan fair. Idealnya, persaingan mestinya dibangun pada konteks program, content, dan manfaat? bukan harga spot. Karena saya pernah mendengar informasi, harga spot iklan di sebuah televisi lokal ’seharga’ spot iklan di radio. “Pasang iklan di televisi, harga radio!’” Kondisi ini perlu menjadi perhatian kalangan pengelola dan pebisnis media, agar kehadiran televisi lokal nantinya, tidak mematikan media lain.

Muatan Lokal: Kebudayaan

Primadona televisi lokal pada umumnya adalah program bermuatan lokal. Mulai dari berita, musik dan hiburan, program kesenian dan kebudayaan, hingga potensi ekonomi lokal. Namun, dalam konteks arus perubahan zaman yang demikian cepat, menghadirkan dan mengangkat kembali budaya daerah bukan hal mudah.

Selama ini, infiltrasi televisi melalui bahasa, musik, pertunjukan gaya hidup, terus membombardir alam pikiran pemirsa dan membuatnya seakan menjadi ciri kehidupan modern, dan memaksa pemirsa untuk mengikutinya hingga akan dibuat tergantung terhadapnya.

Masyarakat pun tampaknya tidak terlalu ambil peduli, terhadap gempuran acara televisi yang negatif. Televisi sudah mengalahkan pengaruh guru, agamawan, budayawan, memaksa seseorang melakukan kebiasaan tertentu.

Dengan kondisi itu, stasiun televisi lokal yang ingin mengangkat budaya daerah harus memiliki idealisme kuat, karena stasiun televisi yang bercirikan budaya daerah harus menjalani kehidupan yang penuh risiko. Tingkat rating yang rendah, bisa mengakibatkan stasiun TV itu miskin iklan. Dampak selanjutnya bisa diperkirakan jika kue iklan tidak bisa banyak diraih: berhenti beroperasi. Hal ini ini membawa sebuah dilema.

Dengan kekuatan itu, jika program positif semua, televisi lokal bisa menciptakan masyarakat berbudaya lebih baik. Masalahnya, seringkali tergoda uang, hingga meninggalkan idealisme. Bukan tak mungkin televisi lokal mengalami hal serupa.

Pertanyaannya: apakah televisi lokal akan bertahan dari godaan? Hal-hal seperti ini harus ‘dibaca’ oleh para pengelola dan dikontrol oleh masyarakat-pemirsa.

“Selamat datang era televisi lokal di Palembang?”

*Yohanes Widodo, penulis adalah pengamat media, bekerja di Radio Sonora Palembang. Artikel ini dimuat di Harian Sumatera Ekspres, Palembang, Kamis, 25 Agustus 2005, hal. 4 (Opini)

Post a Comment