Kiricinta

Maaf! Aku bukan seorang pujangga, bukan penyair. Aku sekedar orang yang pernah menghidupi kata-kata, dan hidup dari kata-kata. Di luar itu semua: aku adalah orang yang hidup oleh cinta, yang kusebut sebagai kiri cinta.

Bunga Kertas di Atas Bukit

- saat aku terpesona: serumpun bunga kertas

Di bukit ini, angin mendesahkan kabar
Kepada bumi, kepada air, kepada laut:
Tersenyumlah, damai kan dihatimu.

Di bukit ini, aku menorehkan memori
Garis-garis merah itu terlalu indah
Takkan tersapu oleh waktu

Begitu pun, kau
Bunga kertas di atas bukit
Merahkan hati, dalam kesuburan

Dalam aroma keindahan
Tempat setiap prang datang, menatap
Kumbang, kupu-kuu dari segala penjuru
Berarak, bergelayut menusir bunga-bunga

Jangan kau layu,
Bunga harapan dan kesucian
Biarlah kejujuran makin bersemi
Abadi!

Bukit Gugleur, Maubara, Timor Leste, 9 Agustus 1998

Inilah Oase Hidup

Di sebuah perhentian akhir ini, sahabat!
Ada secercah keindahan, kesejukan, dan bahagia,
Berhembus dalam semilir angin dingin Desember.
¡§Kenapa engkau ingin berlari dari kenyataan?¡¨

Derita, kesakitan, dan sakit yang datang bertubi-tubi,
Kadang menutupi pikiran dan membutakan mata kita
Akan arti HIDUP yang sesungguhnya.

Dalam kebersamaan kita temukan jawabannya.
Kita ADA dan HIDUP: berolah-berpikir-mencari OASE
Kesejukan, untuk melepaskan penat dan dahaga
Yang tiada henti.

Perjuangan masih panjang, Sahabat!
Jangan lengah dan lelah.
Engkau harus makin berkembang,
Untuk menggapai arti hidup yang berharga.
Bagi siapapun yang mengharapkanmu
Untuk tumbuh, besar, dan berbuah!

Terima kasih. Aku berbahagia,
dalam gemuruh persoalan
yang menghunjam diriku tiada henti.
Namun di situ, aku temukan kedamaian itu.

Sahabat!
Masih ada harapan bagi orang yang punya keyakinan dan percaya.
Semoga!

26121998: aku masyih menghirup udara dan aroma kejam tahun ini.
Aku pasrah. Aku menikmatinya. Aku merasakannya. Dengan itu, aku kini bisa tersenyum.

Seribu Kunang-Kunang

Malam pesta, seribu kunang-kunang
Menari di atas hamparan bersemi
Berkedip bagai merkuri lampu kota
Seribu kunang-kunang
Saling beradu senyum
Sambil bertanya, dan menyapa
Satu-satu kunang kunang
Bregerak menepi, menyendiri
: meniti hidup, mencari arti

Hujan Belum Berhenti

saat sembunyi dari kejaran,
di atas genting, di ulang tahunku

Perjalanan panjang dan mendaki, lelah
Menapaki hari-hari, mengayuh asa
Lewati gurun pasir, seberangi lautan
Merayapi tebing terjal
Mengukir hidup; mencari makna: hendak kemana?
Hujan gemuruh, belum juga berhenti
Sapu bersih penat dan letih,
Sibakkan kebekuan, langit masih kusam
Jantung berdebar: siapa mengejar?
Di sudut ketinggian, sepi
Sadarkan diri: satu lompatan keyakyinan,
Tegar-berujar: akan datang hari esok
Matahari bersinar!
–meski awan masih kelabu

19021999

Satu, Keyakinan

: untuk generasiku

Engkau, adalah tonggak sejarah yang dipangkas: kerdil
Tertancap pada tanah liat kenyataan yang kering, keras, pelik
dibiarkan begitu saja, hidup atau mati!

Kau, mata-titik tumbuh, dalam keyakinan-sikap siap meretas
Menghijaukan padang pasir tanah lapang realitas dan mimpi
tentang hari esok
bersemi, sebagai generasi yang terlibat dan memandang

Di depan sana, sejuta massa bangkit menahan amarah
Tentang terbunuhnya sisa-sisa sebuah sisi kemanusiaan: mati!
terbujur begitu saja, seperti bangkai kayu yang digilas dan ditendang
oleh siapa saja, sia-sia
tak dianggap syebagai manusia: percuma!

Kita, adalah angkatan yang gemetar, miris
di depan sana: hari esok menjerit-menahan tangis
saling tawur, baku-tarung, atas nama harga diri
hak asasi, dan daulat rakyat

Hari ini, kita menegaskan berada di pihak mereka:
Memimpin perubahan:
REVOLUSI
Atau MATI!

28 Februari 1999, 22.35

Kuliah Hidup

: saat aku memperoleh kekuatan kembali,
dari oase air mata harapan dan motivasi

Tak ada yang salah,
Kecuali sebuah pertanyaan
Ada apa di balik semua ini
Tak ada yang salah
Kecuali setumpuk gugatan
Kalau kekalutan itu menghempas.
Kalau bunga kertas itu kemudian seputih salju
Kalau daun itu terbang ke angkasa surga
: SALAHKAH

Justru kebenaran itu
Saat aku menggenggam harapan:
Ada yang sangat indah di sana,
Ada kesejatian di situ
Kendati berat. Pahit. Sakit.
Tak berhenti mendera

Pagi ini aku menegaskan harapanku kembali:
“Pertanyaan-pertanyaan itu adalah jawaban.”
Inilah KULIAH HIDUP
(yang skripsinya justru tidak akan pernah selesai)

Senin pagi, 21 Desember 1998