Be Focus on System

* Perang Bintang di Perusahaan

Oleh Yohanes Widodo

Apakah persoalan SDM semata urusan perusahaan? Pemerintah, perusahaan, dan universitas semestinya berkolaborasi  memecahkan persoalan itu. Sayangnya, ketiga elemen kunci tersebut sering kali tidak sinkron.

Universitas, sebagai pihak yang menghasilkan SDM, ditantang untuk menghasilkan lulusan yang cerdas, tahu dunia bisnis, melek teknologi, berwawasan global, kreatif dan siap menghadapi dunia kerja yang kompetitif dan terus berubah.  Dukungan pemerintah penting untuk menciptakan iklim yang kondusif lewat kebijakan dan terutama dana yang cukup. Kita tahu, pendidikan adalah investasi SDM yang sifatnya high cost dan long-term. Dunia usaha sebagai pihak yang memanfaatkan lulusan universitas, bisa ambil bagian dengan menggandeng universitas, untuk menyiapkan kandidat-kandidat terbaik lewat dukungan dana penelitian dan berpartisipasi dalam memberi masukan dalam penyusunan kurikulum perguruan tinggi, serta memberi ruang bagi mahasiswa untuk meningkatkan ilmu dan ketrampilan.

Sebagai contoh, untuk mengantisipasi perkembangan dunia digital, popularitas media cetak yang kian menurun, dan platform jaringan sosial dan perangkat digital lain yang makin menjadi cara untuk mengkonsumsi berita, beberapa perguruan tinggi di luar negeri dengan sigap mengantisipasi perkembangan tersebut.

Read the rest »

Book Chapter

My paper titled “Citizen Journalism and Media Pluralism in Indonesia” has been published in Conners, Thomas J., Frank Dhont, Mason C. Hoadley, and Adam D. Tyson, eds. 2011. Social Justice and Rule of Law: Addressing the Growth of a Pluralist Indonesian Democracy. Diponegoro University Press: Semarang.

This paper focuses on the contribution of citizen journalism to media pluralism in Indonesia through case studies of two citizen journalism projects, namely Kompasiana initiated by the Kompas newspaper and Panyingkul initiated by citizens in Makassar, South Sulawesi. The main challenge to media pluralism is concentration of ownership via acquisitions and mergers. Such are considered dangerous for democracy because they limit the number of actors in the media industry, thereby concentrating influence in the hands of a small group of businessmen. Many conglomerates control or have substantial interest in the media, which can lead to conflicts of interest. Concentration of ownership also leads to homogenization of content and a decline of journalistic quality. To counter this problem since the 2000s there has emerged a citizen movement for alternative media facilitated by the Internet. Examples of these are the citizen journalism portals Kompasiana and Panyingkul. As found in two the cases studies, citizen journalism contributes to media pluralism in that it: (1) enables citizens to take part in the democratic process and to form opinions on the basis of information about political, social and cultural developments, (2) publishes underreported issues and invites citizen reporters to write on things not covered by mainstream media, (3) provides various topics, different points of view and a pluralistic choice of voices and access, (4) opens opportunities for passive readers to become active news providers, (5) offers a broad range of participation by various social groups, including minorities, and provides access to them, (6) accommodates content from diverse cultural backgrounds, hobbies, professions, and competence, and finally (7) opens space for citizens to participate in the exchange of information by reading, commenting on and writing opinions. Large scale citizen involvement is expected to accelerate the flow of information and strengthen the foundations of democracy in national and state life.

Download

Ketika ‘Produser’ menjadi ‘Prosumer’

* Oleh-oleh dari SEARCH Conference 2011

Taylor’s University Malaysia kembali menggelar  ajang 2nd International SEARCH Conference 2011 dengan topic New Media Culture and Challenges di Lakeside Campus, Subangjaya, Malaysia, 28-29 Mei 2011. Kali ini, Yohanes Widodo dari UAJY menjadi salah seorang presenter.

Konference menampilkan 72 paper dengan topik yang beragam, antara lain: Muslim and the New Media, Social Gaming Network, News Agregator, Citizen Journalism, Reality Shows, Reality TV, Media and Public Relations, TV Advertising, Japanese Popular Culture, E-Government, dan lain-lain. Setiap presenter diberi waktu 30 menit, 10 menit untuk presentasi dan 20 menit untuk diskusi.

Read the rest »

Tantangan Jurnalisme Generasi Keempat

Sejarah media dan jurnalisme menunjukkan bahwa perkembangan teknologi turut mempengaruhi jurnalisme dan peran yang dimainkannya di masyarakat. Persoalannya, perubahan yang seperti apa yang dibawa oleh teknologi, dan bagaimana peran yang harus dimainkan oleh media?

Tulisan ini ingin membahas fenomena jurnalisme generasi keempat yang diwarnai oleh teknologi Internet yang mengubah arus informasi dan mempengaruhi ruang redaksi, antara lain  dengan teknologi Web 2.0 dan Web 3.0, serta munculnya ambient journalism seperti yang diperankan oleh Twitter. Lebih lanjut, peran seperti apa yang harus dimainkan oleh media, dan bagaimana jurnalisme dan perguruan tinggi jurnalisme menyikapi hal itu?

Jurnalisme Generasi Keempat

Molly Bingham (2010) membagi perkembangan jurnalisme tersebut dalam empat generasi. Generasi pertama, muncul dengan kehadiran mesin cetak. Era ini dibentuk oleh kehadiran pamflet yang digunakan oleh aktivis untuk menyebarkan pandangannya untuk mempengaruhi perubahan sosial.  Generasi kedua dan ketiga ditentukan oleh era radio dan televisi yang pengaruhnya makin berkembang. Di sini media dikenal sebagai alat mewujudkan agenda sosial dan politik. Pada generasi ketiga,  korporasi membeli media lokal dan nasional  menjadi perusahaan media yang besar. Loyalitas media adalah kepada pemegang saham dan mencari profit. Generasi keempat, secara teknologi, adalah internet. Internet dan jutaan perangkat mobile menjadikan media makin global. Audience media adalah dunia. Realitas ini membawa tanggung jawab dan peluang baru bagi jurnalisme.

Read the rest »