Studi Gratis

Majalah Berita Mingguan TEMPO

Edisi. 37/VI/31 Maret – 06 April 2008
Pendidikan

Berebut Studi Gratis

Seribu lebih beasiswa ke luar negeri ditawarkan tiap tahun. Pegawai negeri dan peminat dari Indonesia timur diprioritaskan.

Sudah dua tahun Zahwa Rania tak pernah absen mengirim aplikasi untuk mendapatkan beasiswa. Cita-citanya, menempuh program Master of Business Administration di luar negeri secara gratis. Banyak negara penyedia beasiswa dibidiknya. Dari Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Prancis, Australia, hingga Jepang.

Berkali-kali dia menerima surat penolakan. Padahal, demi mengejar beasiswa dambaan, wanita berusia 30 tahun ini melakukan berbagai persiapan yang menguras waktu, energi, dan biaya. Ia keluar-masuk kursus bahasa Inggris serta mengikuti tes TOEFL internasional dan GMAT. ”Saya yakin, di mana ada niat pasti ada jalan,” kata Zahwa, seorang konsultan kehumasan. Dia bisa segera menjajal lagi: mulai Maret ini hingga September nanti lembaga asing pemberi beasiswa kembali membuka lowongan.

Marionni Arline Hanoum juga pemburu beasiswa. Tapi pengalamannya bertolak 180 derajat dengan Zahwa. Karyawati Departemen Kehutanan itu hanya sekali tes di Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, langsung lolos. Masalah sempat muncul, karena ia harus berpisah dengan anaknya yang baru dua tahun. ”Meninggalkan keluarga lebih berat ketimbang studi,” kata Marioni yang mengambil jurusan Hubungan Internasional di Universitas Ritsumeikan, Kyoto.

Mencari beasiswa memang gampang-gampang susah. Tapi, begitu mendapatkannya, jalan terbuka lebar. Gelar master atau doktor dari luar negeri masih bisa jadi jaminan mendapat karier yang baik di negeri ini.

Setiap tahun bisa lebih dari seribu beasiswa studi ke luar negeri tersedia. Lembaga beasiswa Amerika Serikat, Aminef, misalnya, menyediakan sedikitnya 120 kursi. Neso Belanda tahun lalu memberangkatkan 200 mahasiswa. Ini belum menghitung kursi yang disiapkan Chevening Inggris atau ADS Australia serta pemerintah Indonesia.

Biasanya, pengumuman tentang beasiswa bisa ditemui di kampus atau iklan. Dalam lima tahun terakhir, informasi tentang beasiswa makin gampang didapat di Internet. Puluhan situs memampang nama lembaga penyelenggara. Mailing list beasiswa juga tidak kalah banyaknya. Bahkan penyelenggara terjun sendiri ke daerah dan kampus untuk menjaring calon.

Sayang, banyak pemburu beasiswa asal-asalan saat melamar. Menurut Direktur Eksekutif Aminef Michael McCoy, kunci keberhasilan mendapatkan beasiswa ke luar negeri ada dalam proposal riset dan tujuan studi. ”Masalahnya, orang cenderung menunggu sampai saat terakhir sebelum mengisi dan mengajukan lamaran. Jadi mereka tidak memiliki cukup waktu untuk menulis tujuan studi dan proposal riset yang realistis, terarah, dan mungkin dilaksanakan. Mereka juga tidak membuka Internet dulu untuk mencari tahu program studi dan universitas apa yang tersedia, padahal itu penting bagi penulisan proposal riset,” katanya.

Pencari juga harus pandai-pandai menghitung peluang, karena alokasi jumlah beasiswa berubah dari waktu ke waktu. Setelah serangan terorisme 11 September 2001 ke gedung World Trade Center di New York, lembaga pemberi mencoba menjembatani kesenjangan antara Islam dan Barat dengan memberi porsi lebih besar pada intelektual muslim untuk studi ke luar negeri.

Tren itu kembali berubah pada tiga tahun terakhir. Kali ini, sasarannya adalah kaum terpelajar dari luar Pulau Jawa, terutama Indonesia timur. Beasiswa Neso, yang biasanya didominasi pelamar dari Jawa, membidik peminat dari Nusa Tenggara, Sumatera, Kalimantan, dan Bali sejak 2005. ”Peserta yang mendapat beasiswa dari luar Jawa hanya 28 persen. Kita maunya lebih banyak yang luar Jawa,” kata Liza Marsin, Manajer Promosi Neso Indonesia.

Hal serupa juga dilakukan oleh Australia, yang mematok sepertiga beasiswanya untuk peminat dari kawasan timur, seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Aminef pun merasakan ada ketimpangan antara peminat dari Jawa dan luar Jawa. Itu sebabnya, mereka banyak melakukan pengenalan program ke daerah. Tapi, menurut McCoy, tidak ada alokasi khusus bagi peminat dari luar Jawa.

Tiap pemberi beasiswa juga mempunyai kekhasan masing-masing. Australia membuka kesempatan besar bagi pegawai negeri. Programnya, yang umum dikenal dengan sebutan ADS (Australian Development Scholarship), menyediakan dua pertiga dari sekitar 300 beasiswa untuk para abdi negara saban tahun. StuNed, yang disediakan Belanda, mempunyai empat target yang diberi prioritas, yaitu dosen, pegawai pemerintah, aktivis lembaga swadaya masyarakat, dan wartawan.

”Karena mereka dianggap punya fungsi menyebarkan ilmu. Wartawan menjadi salah satu target, tapi jumlahnya tiap tahun tidak lebih dari 25 aplikasi. Jadi angkanya juga masih sangat kecil,” kata Liza.

Beasiswa Erasmus Mundus dari Komisi Eropa memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar mi-nimal di dua universitas dan dua negara berbeda selama kuliah. Ini rupanya menjadi daya tarik tersendiri, sehingga peminat cukup banyak, meski setiap tahun hanya mengirim 40 peserta.

Fokus bidang studi juga berganti-ganti. Chevening, yang tahun ini memberangkatkan 35 mahasiswa ke Inggris–turun separuh dari biasanya—memberikan kesempatan lebih besar kepada mahasiswa yang memperdalam studinya di bidang media, hubungan internasional, administrasi pemerintahan, demokrasi, dan pluralisme. Ada juga jurusan yang sama sekali terlarang, seperti kedokteran yang tidak bisa dipilih peminat Fulbright atau MBA yang diemohi Chevening.

Peminat beasiswa naik-turun. ADS, misalnya, didatangi 4.000 pelamar, turun dari 5.000 pada tahun sebelumnya. Nama besar Fulbright malah kurang diminati karena dianggap paling angker. ”Orang menyangka peminat Fulbright ada 10 ribu, padahal dari 40 posisi, hanya 300 yang mendaftar tahun lalu,” kata McCoy.

Pemerintah Indonesia juga menyediakan beasiswa melalui Departemen Pendidikan Nasional serta Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional. Ada ratusan yang disiapkan, seperti tahun lalu program Beasiswa Unggulan Departemen Pendidikan membiayai 65 dosen dari berbagai perguruan tinggi negeri untuk menempuh program doktor. Beasiswa juga diberikan untuk program magister, baik untuk pegawai negeri maupun masyarakat umum.

Ini sedikit berbeda dengan yang dilakukan pemerintah Malaysia, Cina, dan India, yang memberikan pinjaman tanpa bunga kepada mahasiswa mereka. Di Malaysia, pemerintah menyediakan pinjaman sampai 5.000 ringgit (Rp 14 juta) per tahun, yang bisa dicicil selama 15 tahun sejak penerima lulus kuliah. Sebenarnya model ini pernah dilakukan pemerintah Indonesia pada 1980-an berupa Kredit Mahasiswa Indonesia. Saat itu pinjaman diberikan kepada mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya.

Skema yang hampir sama ditawarkan oleh Universitas Teknologi Nanyang dan pemerintah Singapura. Rinaldo Akbar, 27 tahun, adalah salah satu penerima beasiswa dari pemerintah Singapura untuk kuliah S-1 di Universitas Nanyang. Sebenarnya, yang diterima pria asal Jakarta ini tidak murni beasiswa, karena dari Sin$ 20 ribu biaya kuliah tiap tahun, Sin$ 6.000 harus ia kembalikan. Jumlah itu masih ditambah pinjaman biaya hidup Sin$ 4.000 per tahun. Jika kuliah selama empat tahun, ia harus mengembalikan Sin$ 40 ribu, yang dicicil maksimal 20 tahun.

Masih ada ikatan lain: ia harus bekerja di Singapura minimal tiga tahun. Adapun Rinaldo sudah lima tahun ini bekerja di sana dan berstatus permanent residence. ”Hidup di sini cukup nyaman, tapi saya sedang mencari pekerjaan di Amerika Serikat,” kata Rinaldo. Penghasilannya sebulan sekarang sudah mencapai Sin$ 4.000 (setara dengan Rp 25 juta).

Studi ke luar negeri—yang bisa menjanjikan sukses—membuat persaingan kian ketat. McCoy mengatakan pelamar yang sudah dua atau tiga kali gagal masih bisa lolos. Jadi peluang selalu ada.

Yudono Yanuar, DA Candraningrum, Rina Widiastuti, Bunga Manggiasih

Lembaga Pemberi Beasiswa

Asian Development Bank – Japan Foundation
adb.org

  • Beasiswa: ADB-Japan Scholar Program
  • Tujuan: AS, Asia, Australia
  • Waktu Aplikasi: Januari-Desember
  • Jumlah: 300
    ADS
    adsjakarta.or.id
  • Beasiswa: Australian Scholarship
  • Tujuan: Australia
  • Syarat: IELTS 5, TOEFL 500
  • Waktu Aplikasi: 5 September
  • Jumlah: 300
    Chevening
    chevening.or.id
  • Beasiswa: Chevening British
  • Tujuan: Inggris Raya
  • Syarat: IELTS 6,5
  • Waktu Aplikasi: 1 September-16 November
  • Jumlah: 35
    Neso
    nesoindonesia.or.id
  • Beasiswa: StuNed
  • Tujuan: Belanda
  • Syarat: IELTS 6 TOEFL 550
  • Waktu Aplikasi: Desember-Maret
  • Jumlah: 200
    Sampoerna Fondation
    sampoernafoundation.org
  • Beasiswa: MBA Scholarship
  • Tujuan: AS, Inggris, Australia, Prancis, Singapura
  • Syarat: TOEFL 600
  • Waktu Aplikasi: 30 Mei
  • Jumlah: 10
    Departemen Pendidikan
    beasiswaunggulan.diknas.go.id
  • Beasiswa: Beasiswa Unggulan
  • Tujuan: Dalam dan luar negeri
    Aminef
    aminef.or.id
  • Beasiswa: Fulbright
  • Tujuan: AS
  • Syarat: TOEFL 550
  • Waktu Aplikasi: 31 Mei
  • Jumlah: 120-130
    Komisi Eropa
    mundus-urbanu.eu
  • Beasiswa: Erasmus Mundus
  • Tujuan: Eropa
  • Waktu Aplikasi: Juni-Januari
  • Jumlah: 40
    Asean Foundation
    aseanfoundation.org
  • Beasiswa: AF-AIT scholarship
  • Tujuan: Thailand
  • Waktu Aplikasi: 31 Maret
  • Jumlah: 10
    Nanyang University
    ntu.edu.sg
  • Beasiswa: Undergraduate Program
  • Tujuan: Singapura
  • Waktu Aplikasi: Desember