Diseminasi Informasi Publik di Era Internet

Oleh Yohanes Widodo

Perubahan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat dan dinamika sosial dan politik sakan mempengaruhi pilihan strategi komunikasi dan diseminasi informasi publik. Hal ini menjadi tantangan sekaligus catatan bagi pejabat publik dan humas pemerintah untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan tersebut.

Secara umum pola komunikasi di masa mendatang relatih tidak berubah. Komunikasi linier, sebagai basis, tetap digunakan. Namun, proses atau pendekatan  komunikasi transaksional (yang bersifat diskusi interaktif, kooperatif, egaliter, resiprokal) akan makin berkembang dan menjadi kebutuhan.

Fenomena ini bisa kita lihat, misalnya, acara-acara talkshow yang menghadirkan narasumber dan melibatkan pendengar, tetap menjadi pilihan. Hanya saja, media perlu berupaya agar mereka yang selama ini ‘diam’ menjadi ‘mau bersuara’; dan menghindari narasumber yang “itu lagi, itu lagi” karena akan membuat audiens cepat bosan.

Dalam konteks strategi komunikasi dan diseminasi informasi publik, prinsip komunikasi adalah tercapai common interest, yakni bagaimana kepentingan pemerintah dan masyarakat ‘bertemu’. Untuk itu, ada beberapa langkah yang harus diperhatikan. Pertama, menentukan dan memahami tujuan. Kedua, mengidentifikasi pesan inti atau kunci (key messages) yang akan dikomunikasikan. Ketiga, mehamami target audience: siapa saja yang terlibat, siapa yang dipengaruhi, siapa yang tertarik? Informasi apa yang mereka butuhkan? Bagaimana reaksi mereka? Apa konsern atau minat mereka? Keempat, menentukan media yang paling efektif. Kelima, memotivasi audiens untuk memberi tanggapan atau masukan. Keenam, frekuensi penyampaian pesan. Ketujuh, memperhitungkan dampak, baik negatif atupun positif. Dalam hal ini, ukuran sukses sebuah program komunikasi yaitu pesan yang sampai saja, tidak cukup. Perlu evaluasi, sejauh mana audiens memahami dengan baik pesan kunci dan menganalisis apakah semua strategi sesuai dengan persoalan yang dihadapi atau alasan komunikasi (Cees Leeuwis, 2006). Read the rest

Radio Komunitas Internet untuk Orang Muda

Bernas Jogja, 27 Februari 2012

Oleh Yohanes Widodo

Media dan orang muda bisa dibilang dua hal tak terpisahkan. Hampir semua media, baik koran, majalah, radio, dan televisi menjadikan orang muda sebagai target media dan menjadikan orang muda sebagai obyek, sasaran, konsumen yang menggunakan dan menikmati media.

Kini, pelan tapi pasti, kondisi itu mulai berubah. Internet mengubah orang muda yang selama ini menjadi obyek berubah menjadi subyek,  yang seblumnya konsumen beralih menjadi produsen informasi.  Banyak orang muda yang aktif di jurnalisme warga (citizen journalism) berbasis blog, website komunitas, Youtube, dan lain-lain. Di dunia penyiaran, kini berkembang gerakan penyiaran warga (citizen broadcasting) siaran radio atau televisi online. Dengan fasilitas komputer/laptop, mikrofon, dan jaringan internet, orang muda bisa menjadi penyiar radio atau televise dari kamar masing-masing, tanpa harus membangun pemancar, master control dan ruang siaran. Read the rest

Kampung Digital

Oleh Yohanes Widodo

Bernas Jogja, 10 Januari 2012

Teknologi informasi dan komunikasi, khususnya Internet, selama ini identik dengan kalangan menengah atas dan didominasi orang-orang kaya/masyarakat kota. Namun, kini teknologi informasi dan komunikasi mulai bergeser ke kampung-kampung. Internet pun kini mulai masuk ke kalangan menengah ke bawah dan warga desa.

Ini berkat inisiasi dan inovasi yang dilakukan oleh pemerintah, LSM, dan komunitas sipil melalui kebijakan, program, gerakan, maupun kegiatan semacam Kampung Digital, Kampung Siber, atau Sistem Informasi Desa. Warga diberi akses, kemudahan, dan fasilitas agar warga mampu memanfaatkan teknologi informasi. Pemerintah desa juga diharapkan mampu meningkatkan pelayanan yang lebih baik dan efektif.

Sejumlah pemerintah daerah bahkan mencanangkan program ini secara serius. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), misalnya, mengupayakan terbentuknya 10 kampung media atau kampung digital di berbagai lokasi strategis dalam tahun anggaran 2011. Program ini didukung alokasi anggaran sebesar Rp 1,7 miliar pertahun (Kompas.com, 9/01/2011).

Sebelumnya, tahun 2006, komunitas Internet e-Kebumen.net di Kebumen, Jawa Tengah, telah menjadikan Internet menyebar ke banyak sekolah dan warnet. Inisiatif ini menjadikan kabupaten Kebupaten sebagai finalis ajang Stockholm Challenge Award 2006 (Tempo, 15/05/2006). Di tempat lain, ada Kampung Digital Terang Bulan, sebuah kampung kecil di Deli Serdang, Sumatera Utara. Read the rest

I-Branding bagi UKM

Oleh Yohanes Widodo

Usaha kecil dan menengah (UKM) diakui sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.  Menurut Data BPS 2008, jumlah unit usaha kecil dan menengah (UKM) mencapai 51,3 juta unit—ini berarti 99 persen dari total pelaku usaha nasional. Namun, jika dilihat dari sisi sumbangan revenuenya secara kelompok, kontribusi UKM ini sangat rendah dibanding potensinya (Amalia E. Maulana, 2010).

Sejumlah studi menunjukkan, masalah yang paling sering dihadapi oleh UKM antara lain: pemasaran, anggaran yang tidak memadai, kapasitas, keterampilan dan keahlian. Bagi sebagian besar UKM, yang disebut pemasaran, sejauh ini fokus pada produk dan harga, penggunaan brosur dan sebagian besar berorientasi penjualan. Ini menyiratkan bahwa membangun brand belum menjadi prioritas.

Sejauh ini, branding biasanya identik dengan perusahaan berskala besar. Branding merupakan bidang yang relatif baru di kalangan UKM. Namun, beberapa start up dan brand lokal telah memulainya, bahkan  menjadi booming dan menuai sukses setelah menerapkan strategi I-branding. Sebut saja, misalnya: Keripik Pedas Maicih, Susu Kalimilk, dan lain-lain. Oleh karena itu, kini saatnya mengarahkan pemanfaatan Internet pada UKM dan membina mereka menyangkut strategi branding yang benar.

Read the rest