Sistem Stasiun Jaringan: Quo Vadis?

Pemberlakukan sistem siaran nasional menjadi sistem siaran lokal berjaringan merupakan salah satu amanat dari Undang-Undang No. 32/2002 tentang Penyiaran. Semangat dari sistem stasiun berjaringan ini adalah negara ingin mewujudkan dan menjamin pluralime media, yakni keragaman kepemilikan (diversity of ownership) dan keragaman isi (diversity of content). Pluralisme media merupakan salah satu kondisi mendasar bagi pembentukan public sphere dalam masyarakat demokratis (Klimkiewicz, 2005).

Pluralisme Media di Indonesia

Konsep stasiun berjaringan adalah satu upaya menghindari terjadinya pemusatan kepemilikan atau monopoli media. Konsep ini penting bagi demokratisasi penyiaran karena keterpusatan industri media kepada segelintir pemilik saja akan cenderung mengabaikan pluralitas pendapat dan gagasan. Diversity of ownership menjadi satu hal yang penting karena kepemilikan media akan mempengaruhi isi media, dan isi media selalu merefleksikan kepentingan mereka yang membiayainya (McQuail,2000). Pluralitas pemilikan media bertujuan untuk mengurangi bias kepentingan pemilik media. Semakin plural kepemilikan media, maka akan mendorong semakin beragam pula isi media.

Kita bisa melihat bahwa selama Orde Baru, lembaga penyiaran (TVRI dan RRI) dimonopoli dan dikuasai oleh negara. Reformasi diharapkan memberi arah baru bagi demokratisasi dan desentralisasi dunia media massa, khususnya media televisi. Namun perkembangan saat ini cenderung mengarah kebalikannya. Amir Effendi Siregar (2008) mengindikasikan, dalam kehidupan dan sistem komunikasi massa, khususnya media elektronik, telah terjadi perpindahan dominasi negara dan pemerintah ke dalam dominasi segelintir pemodal dan pemilik stasiun televisi. Saat ini terjadi sentralisasi dan dominasi baru oleh sektor swasta dengan dominasi segelintir pemilik modal.

Contohnya, sepuluh televisi ‘nasional’ Jakarta yang kini mengudara, saat ini dikuasai oleh tiga kelompok konglomerasi media. Satrio Arismunandar, Krishna Sen dan David T. Hill (2001) mencatat, tiga kelompok konglomerasi media tersebut, yakni: pertama, PT Media Nusantara Citra, Tbk (MNC) yang dimiliki Hary Tanoesoedibjo yang membawahi RCTI (PT Rajawali Citra Televisi Indonesia), TPI (PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia), dan Global TV (PT Global Informasi Bermutu). Kedua, grup Bakrie dibawah PT Bakrie Brothers yang dipimpin oleh Anindya N. Bakrie yang membawahi ANTV (PT Cakrawala Andalas Televisi) yang kini berbagi saham dengan STAR TV dan Lativi (PT Lativi Media Karya)—yang sekarang menjadi TV One. Ketiga, PT Trans Corpora (Grup Para). Grup ini membawahi Trans TV (PT Televisi Transformasi Indonesia) dan Trans-7 (PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh). Tiga televisi swasta lainnya, yakni SCTV, Metro TV dan Indosiar, berdiri sebagai perusahaan sendiri.

Read the rest

Menunggu Kedatangan Anjelie

Anjelie sayang,

Hari ini, Kamis (6/5/2010) merupakan hari terakhir Ayah ‘menikmati’ kesendirian. Sejak 4 Januari 2010 ayah berada di Jogja, menigggalkan Bunda dan Anjelie yang masih ada di perut. Hari Jumat (7/5) besok Anjelie akan datang ke Jogja bersama Bunda dan Mbah buyut.

Ayah senang, karena mulai besok ayah tidak lagi kesepian dengan kesendirian. Ayah akan ditemani Bunda dan Anjelie. Sejak menikah dengan Bunda, Sabtu (17/07/2007), inilah pertama kali Bunda hidup bareng dengan ayah. Sebelumnya, Ayah dan Bunda selalu terpisah oleh jarak. Tiga tahun pernikahan, mungkin kalau ditotal kebersamaan Ayah dan Bunda hanya setahun. Untungnya Bunda sempat menyusul ayah di Belanda selama tiga bulan.

Besok usia Anjelie dua bulan tujuh hari. Ini merupakan kesempatan kedua Anjelie naik pesawat. Pertama, tahun lalu, waktu Anjelie masih berusia dua bulan dan masih di perut Bunda. Anjelie terbang dari Frankfurt ke Jakarta selama 15 jam. Anjelie adalah anak hebat dan kuat, buktinya Anjelie tetap sehat. Besok, dalam usia dua bulan setelah lahir, Anjelie juga akan terbang dari Palembang ke Jogja. Semoga Anjelie juga tetap sehat dan kuat dan tiba di Jogja dengan selamat.

Read the rest

E-Voting: Belajar dari Kabupaten Jembrana

e-votingPara penganut konsep technological determinism percaya bahwa perkembangan teknologi bisa sejalan dengan perkembangan demokrasi.  Mereka melihat teknologi informasi dan komunikasi (baca: Internet) punya potensi yang besar untuk meningkatkan demokrasi, meningkatkan keterlibatan publik dan partisipasi warga (Hindman, 2008). Internet menjadi media baru yang dapat digunakan untuk mengembangkan atau memfasilitasi demokrasi. Internet membawa rakyat secara bersama seperti halnya demokrasi di Athena atau town hall meeting di Inggris dimana setiap warga diberi hak yang sama untuk bersuara.

Internet mampu membuat proses demokrasi menjadi lebih egaliter, informatif, dan partisipatoris. Di sini, orang awam bisa terlibat dalam demokrasi langsung dan komunikasi politik secara online bisa berjalan dengan cepat, mudah dan murah (Castells, 2004). Dari sini tampak bahwa teknologi mampu membuat politik lebih demokratis (Chandler, 1995) dan demokrasi bisa diwujudkan dengan mudah (Thornburg, 1992).

Read the rest

Pembawa Cinta Kasih

anjelieAnjelie sayang,

Hari ini hari Jumat Agung (02/04/2010). Kemarin malam, ayah sempat melihat tayangan Oprah di Metro TV, yang menceritan tentang Daniel, seorang ayah tentara yang berdinas di Irak. Daniel membuat jurnal untuk anaknya, Jordan yang berada di Amerika.

Terinspirasi oleh kisah tersebut, ayah berjanji untuk menuliskan surat ini untuk Anjelie. Minimal satu surat setiap bulan. Meskipun Anjelie masih kecil, ayah ingin bercerita tentang banyak hal: tentang apa yang ayah pikirkan, tentang kehidupan Anjelie, dan tentang kehidupan ayah. Ketika Anjelie sudah besar nanti, Anjelie bisa membaca surat-surat ayah ini.

Kemarin, Kamis, 1 April 2010, usiamu genap satu bulan. Satu bulan lalu, tepatnya hari Senin Pon, 1 Maret 2010 pukul 18.15 WIB, Anjelie lahir di Rumah Sakit Charitas Palembang. Kelahiranmu sepertinya tidak bisa ditunda dan tidak bisa menungg ayah tiba di Palembang. Engkau lahir pukul 18.15 WIB ketika ayah masih berada di pesawat dari Jogja menuju Palembang.

Senin pagi, sekitar pukul 09.00, Eyang puteri menelpon ayah. Eyang bilang, bunda sudah di rumah sakit dan sudah bukaan tiga. Secepatnya ayah pulang ke Palembang. Ayah langsung mencari tiket Jogja-Palembang, dapat penerbangan pukul 17.00 WIB dan sempat delay di Jakarta. Ayah baru tiba di rumah sakit pukul 22.00 sehingga tidak bisa menemani dan menyaksikan kelahiran Anjelie.

Selama seminggu ayah menemani Anjelie di rumah sakit dan di rumah. Ayah bahagia sekali saat menggendong Anjelie, bisa mencuci popok Anjelie. Setelah itu, ayah harus kembali ke Jogja, sementara Anjelie masih tinggal bersama Bunda, Eyang dan Buyut di Palembang. Ayah tidak bisa menyaksikan langsung pertumbuhan dan perkembangan Anjelie. Untungnya, bunda selalu mengirimkan foto-foto Anjelie dan menceritakan perkembangan dan kondisimu via telepon atau chating.

Oh, ya. Ayah lupa bercerita tentang nama Anjelie. Nama lengkap Anjelie adalah Nathanaela Rarkiara Anjelie Maitri.   (Semoga ketika mengisi formulir pendaftaran, kotak kolomnya cukup ya, hehehe). Nathaela adalah nama baptis pilihan bunda, dari Nathanael, artinya pemberian Tuhan. Rarkiara, pemberian eyang puteri, berasal dari Rarkiano, nama atau istilah pujangga atau punggawa pada jaman Majapahit. Anjelie Maitri adalah pilihan ayah, berasal dari Anjali Maitri, sebuah kata sapaan dalam bahasa Sansekerta, artinya Salam Cinta atau Salam kasih.

Ayah memanggilmu Anjelie. Ini mengingatkan ayah tentang kisah Anjali Sharma (dimainkan oleh Kajol), seorang gadis tomboy yang cantik, di film Kuch Kuch Hota Hai.

Sebelumnya ayah tidak suka menonton film India. Namun di film ini, ayah sangat tertarik, bahkan ayah menontonnya hingga tiga kali. Setiap kali melihat film ini, mata ayah berkaca-kaca, hehehe.

kajol

Dengan nama ini, Ayah berharap Anjelie bisa tumbuh cantik (seperti Kajol!) dan kuat seperti Anjali Sharma. Anjelie bisa menjadi pembawa cinta kasih kepada siapa saja, kapan saja, dimana saja. Ketika engkau bisa membawa cinta kasih dan kedamaian, engkau akan menjadi gadis yang dicintai oleh banyak orang.

Minggu (28/03/2010) kemarin bunda tiba-tiba menelpon ayah. Bunda bilang, ia tidak kuat menyaksikan dan mendengarkan tangisan Anjelie saat ditindik. Hari berikutnya, bunda mengirimkan foto telingamu, lengkap dengan anting-anting mungil. Engkau kelihatan cantik dengan anting-antingmu, sayang! Seperti Kajol :p

Jumat Agung, 02/04/2010 pukul 02.27

Salam kasih ,

Masboi