Menuju Entrepreneurial University

Bernas Jogja, Selasa 30 April 2013

Oleh Yohanes Widodo

Sejak era kolonial, Nusantara dilirik oleh bangsa-bangsa barat karena kekayaan alamnya. Namun kini, kendati kaya, Indonesia masih tertinggal dengan negeri jiran, seperti Singapura dan Malaysia. Penyebabnya, seperti Schumpeter (1934) bilang: ‘Enterprenuership is driving force behind economic growth.’ Kendati minim kekayaan alam, jiran kita itu mampu mengubah knowledge menjadi capital. Mereka mampu mengembangkan technopreneurship dan mendasarkan pembangunan ekonominya pada pengetahuan (knowledge based economy) yang ditandai dengan penerapan inovasi di bidang teknologi dan manufaktur, layanan bisnis yang memanfaatkan pengetahuan, serta produksi dan distribusi konten kreatif. Read the rest

Media Sosial Masuk Kelas?

Bernas Jogja, Selasa, 26  Maret  2013

Oleh Yohanes Widodo

SEPERTI pengguna media sosial pada umumnya, banyak dosen perguruan tinggi di Indonesia menggunakan media sosial semacam Facebook atau Twitter. Hanya saja ada kecenderungan bahwa sebagian besar dosen tidak mengenakan “topi” dosen ketika menggunakan Facebook atau Twitter. Artinya, penggunaan media sosial lebih banyak untuk kepentingan atau kebutuhan pribadi, misalnya untuk bersosialisasi dengan teman-teman atau keluarga daripada kepentingan profesional sebagai dosen. Lantas, bagaimana media sosial (bisa) digunakan untuk mendukung proses belajar-mengajar, khususnya di perguruan tinggi?

Tingkatkan produktivitas

Media sosial adalah media komunikasi interaktif seperti blog, wiki, podcast, Facebook, Twitter, Youtube, jurnalisme warga seperti Kompasiana, dan lain-lain. Bagi dosen, penggunaan media sosial di dalam kelas akan meningkatkan produktivitas, komunikasi, dan pemahaman anak didiknya. Media sosial bisa digunakan untuk mendukung aktivitas belajar mengajar sehingga lebih efektif.

Pertama, karena media sosial banyak digunakan oleh mahasiswa atau siswa/remaja. Kalau pun belum punya akun, orang dengan mudah bisa membuatnya.

Kedua, media sosial bisa diakses oleh publik. Dengan demikian, apapun yang diunggah di media sosial bisa diakses oleh khalayak luas. Dengan demikian, tugas-tugas mahasiswa tidak hanya dibaca atau dinilai oleh dosen, tetapi juga dibaca, dinilai dan dikritisi oleh khalayak luas (peer and public review).

Ketiga, media sosial bersifat interaktif, sehingga pembaca atau users bisa memberikan komentar atau bahkan menyebarluaskan ke komunitas terbatas atau publik yang lebih luas. Read the rest

1 Maret 2013: Selamat Ulang Tahun Ketiga, Anjelie :)

Anjelie sayang!

Melalui tulisan ini, ayah ingin ‘membayar hutang’. Ingat kan? Tahun 2010 lalu ayah berjanji akan menulis surat atau jurnal untukmu, sebulan sekali. Nyatanya itu tak bisa terwujud. Kini janji itu ayah direvisi: tidak sebulan sekali, tapi (minimal) setahun sekali – pas Utah Anjelie :) Setuju?

Hari ini, Jumat 1 Maret 2013 ini Anjelie berulang tahun ketiga. Ulang tahun Anjelie dirayakan di sekolah, PAUD Warna-Warni. Ulang tahun ketiga ini tentu merupakan hari bahagia bagi Anjelie. Di usia ketiga ini Anjelie sudah mulai paham, apa itu ulang tahun. Setengah tahun terakhir ini memang Anjelie beberapa kali mengikuti perayaan ulang tahun teman-teman di sekolah. Ketika tiba di rumah Anjelie bercerita panjang ke ayah dan bunda, siapa yang ulang tahun dan apa yang Anjelie lakukan.

Di rumah, Anjelie juga sering menyanyikan lagu Selamat ulang tahun meski sering kali salah lirik. Masa, lagu pada Panjang Umur, pada bagian “tiup lilinnya, tiup lilinnya… serta mulia, serta mulia…” Harusnya, “sekarang juga.. sekarang juga… sekarang juga….” Terkait lilin ini, suatu hari listrik di rumah mati sehingga ayah harus menghidupkan lilin. Pada saat lilin dihidupkan, Anjelie langsung bilang,”Ayah, tiup lilin ulang tahun dong… ”. Anjelie langsung tiup dan rumah jadi gelap!

Anjelie sayang!

Beberapa bulan ini, Anjelie rutin sekolah di PAUD Warna-Warni, sebuah PAUD sederhana di Gang Amarta, Seturan, Yogyakarta. Bangunannya bermotif joglo berdinding kayu. Jumlah siswanya sekitar 15 orang. Selain belajar dan bermain, sekolah ini mengajarkan pendidikan iman bagi murid sesuai agama masing-masing. Bagi murid muslim diajari berdoa oleh guru muslim, yang Kristen atau Katolik diajari berdoa oleh guru Kristen/Katolik.

Di sekolah ini Anjelie juga belajar membuat tanda salib, berdoa makan, dan doa Bapa Kami. Namun, mungkin karena sering memperhatikan teman-teman Muslim yang berdoa, suatu hari Anjelie tiba-tiba bilang “allahuma… dst” sehingga bunda pun kaget, dan ayah pun tersenyum-senyum :) Read the rest

Launching dan Diskusi Buku Bencana Merapi

Dipublikasi: December 7, 2012 dari Web Perpustakaan UAJY

Meski Dies Natalis ke-47 Universitas Atma Jaya Yogyakarta berpuncak pada Upacara Dies tanggal 27 September 2012, namun masih ada satu kegiatan yang tesisa. LPPM bekerja sama dengan Perpustakaan,  menyelenggarakan Launching dan Diskusi Buku “HIDUP NYAMAN BERSAMA BENCANA: Pengalaman Radio Komunitas Lintas Merapi.”

Acara yang dihadiri oleh para dosen, pustakawan, mahasiswa, pengelola radio komunitas, dan masyarakat sekitar Merapi berlangsung cair dan hangat dipandu oleh Surya Adi Pramana, M.Si. (editor buku dan dosen Prodi Sosiologi FISIP UAJY). Hadir sebagai pembahas Dr.Eko Teguh Paripurno direktur Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Yogyakarta dan Yohanes Widodo, MA., dosen Prodi Ilmu Komunikasi UAJY.

Dalam pembahasannya Dr. Eko Teguh Paripurno memaparkan bahwa pengalaman menjadi indah ketika dituliskan. Selanjutnya beliau mengungkapkan, “Apa kalau gunung mbledhos wong-wong kudu mati dan warga harus diturunkan? Gunung boleh meletus orang jangan mati. Kenapa orang meninggal bukan karena mbledhosnya, tapi orangnya gak bisa ngopeni soal pemberitahuan status dan soal  komunikasi serta proses evakuasi. Buku ini adalah buku campur sari, ada gayanya Kang Sukiman (aktivis radio komunitas lintas Merapi) dan ada yang sangat akademis (ilmiah). Tugas kita (LPPM) adalah mengisi/menjembatani keingininan masyarakat, lembaga-lembaga (LSM) dan pemerintah. Mari berjabat tangan (kekancan), tidak saling klaim bahwa desa itu adalah binaan kami. Mari kita selalu tambah kanca dan tambah donga. UAJY, UPN, USD dan yang lainnya. Mari bersama kita nikmati dan buat jejaring perkawanan yang baik.”

Sebagai pembahas kedua Yohanes Widodo, menerangkan panjang lebar tentang fungsi radio. Bahwa dalam radio komunitas ada keunikan, sebagai penyiar sekaligus pengelola. Mereka bekerja tidak untuk radio dan Anda sendiri, tetapi bekerja untuk masyarakat. Radio komunitas benar-banar bekerja bagi masyarakat. Berbeda dengan radio komersial. Radio komunitas harus non-komersial (non profit). Ada persoalan di sini, non profit tapi harus tetap mempertahankan keberadaannya? Teknologi informasi sangat membantu radio komunitas. Tak harus ada studio, siaran  bisa dari kamar kelas atau di manapun. Ada modem, internet dengan menggunakan web. Keberadaan radio komunitas  ditentukan rasa memiliki, partisipasi, pelayanan, dan non profit, indepedensi. Meski demikian, prinsip manejemenanya sama dengan pengelolaan  radio yang lain.

  • Radio komunitas butuh perjalanan panjang untuk diterima oleh para penggerak.
  • Selalu berbasis komunitas dan sangat lokal.
  • Sebagai penyelesaian  pada tingkat lokal tidak hanya soal bencana Merapi tetapi juga soal kehidupan lain.
  • Rakom terintegrasi dengan masyarakat luas. Kombinasi dengan berbagai media menguntungkan Rakom untuk lebih dikenal masyarakat luas.
  • Operator Rakom tertempa karena terbiasa menjadi orang terakhir yang meninggalkan lokasi di saat bencana karena ia harus melaporkan kondisi terakhir.
  • Kearifan lokal menjadi hal yang khas  bagi komunitas Rakom.
  • Yohanes Siyamta (13/12/2012)