Menyoal Media Intoleran

Bernas Jogja, 25 November 2014

Oleh Yohanes Widodo

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet dan perubahan politik sejak reformasi 1998 telah membuka ruang demokrasi di Indonesia. Laiknya sekeping mata uang, di satu sisi keterbukaan itu mendukung perdamaian, keberagaman, toleransi dan upaya perwujudan nilai-nilai demokrasi (Kikue Hamayotsu, 2013). Di sisi lain, kebebasan dan keterbukaan ini lalu memungkinkan munculnya media-media yang menyebarkan ideologi intoleran serta mengobarkan nilai-nilai yang berbeda bahkan bertentangan dengan demokrasi dan kemanusiaan. Read the rest

Cyberbullying dan Pilpres 2014

Bernas Jogja, Selasa 10 Juni 2014

Oleh Yohanes Widodo

Pilpres 9 Juli 2014 membuat masyarakat terpolarisasi. Pertentangan kedua kubu begitu sengit, khususnya di ranah Internet. Masing-masing kubu didukung oleh ‘pasukan media sosial’ yang siap bertarung. Praktik tweet-war, perang ‘meme’ maupun komentar-komentar yang mem-bully—menjelekkan atau menjatuhkan—lawan mewarnai situasi perang itu.

Kehadiran media sosial dalam konteks pemilihan presiden kali ini menjadi penting karena saat inilah puncak penggunaan media sosial dalam peristiwa Pemilu. Kaum cyber-optimist melihat Internet adalah democratic space yang bisa membuka ruang demokrasi partisipatoris. Internet mampu (1) menyediakan ruang dan waktu bagi publik untuk berkomunikasi tanpa batas (space-time liberty), (2) menyebarluaskan berita, informasi, maupun gagasan secara mandiri (sharing liberty), serta (3) membuka akses bagi orang-orang dengan keterbatasan ekonomi (access liberty) (Unwin, 2000). Read the rest

Menyongsong Era Televisi Lokal

Saat ini sedikitnya ada 19 stasiun televisi lokal yang sudah resmi tergabung dalam Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (KCM, 26/7/2005). Menyusul daerah-daerah lain, tak lama lagi televisi lokal akan mewarnai bumi Sriwijaya.


Kehadiran televisi lokal ini di Palembang akan meramaikan ‘dunia persilatan’ lembaga penyiaran di Sumatera Selatan, yang kini diramaikan oleh 10 stasiun televisi nasional dan TVRI Sumsel, serta beberapa televisi lokal yang telah mengajukan ijin dan diproses oleh Komisi Penyiraan Indonesia Daerah (KPID) Sumsel.

Era televisi lokal di Palembang patut disambut gembira dan apresiasi. Kehadiran televisi lokal akan menambah variasi atau pilihan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi, hiburan, dan pendidikan. Televisi lokal bisa menjadi mimbar perdebatan masyarakat lokal mengenai isu-isu atau persoalan-persoalan lokal yang sedang dihadapi. Selain itu, keberadaan televisi lokal dapat menjadi sarana pengembangan potensi daerah, sehingga daerah pada gilirannya menjadi lebih maju dan sejahtera melalui pengembangan perekonomian rakyat. Read the rest

Potret Pendidikan Jurnalisme

Oleh Yohanes Widodo


S

OROTAN terhadap pers dan wartawan tak kunjung henti. Bak lagu ‘benci tapi rindu’: pers dan wartawan dicintai namun (terus) digugat dan dibenci. Kebebasan pers yang diagung-agungkan kalangan pers justru ditanggapi sebagian masyarakat dengan kecaman dan hujatan. Pers sering dituduh tidak lagi mengindahkan kode etik, mengabaikan prinsip keseimbangan dan keakuratan, dan cenderung mengembangkan sajian informasi konflik, kekerasan, dan pornografi.

Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Syamsul Muarif pernah menyebut lima penyakit pers, yaitu: pornografi, character assassination, berita palsu dan provokatif, iklan yang menyesatkan, serta wartawan yang tidak profesional (bodrex). Berbagai pihak kerap menyesalkan kekurangakuratan dan ketidakmampuan wartawan dalam mengolah pemberitaan.


Masalahnya tidak hanya sampai di situ. Pers sendiri menghadapi kesulitan untuk merekrut wartawan-wartawan berkualitas. Yudha Kartohadiprodjo, Editor-in-Chief Men’s Health Indonesia mengeluhkan kualitas para (calon) wartawan. “Saya selalu kesulitan untuk mencari fresh graduate yang memiliki kriteria, wawasan dan kemampuan seperti yang saya inginkan.” Keluhan ini mewakili sejumlah pemimpin redaksi yang pusing mencari SDM berkualitas. Read the rest